Konflik Industrial:Studi Tentang Ritual Interaksi (Interaction RitualTheory/Irt) Dalam Hubungan Industrial Di Jawa Timur

Sutinah (2015) Konflik Industrial:Studi Tentang Ritual Interaksi (Interaction RitualTheory/Irt) Dalam Hubungan Industrial Di Jawa Timur. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
1. HALAMAN JUDUL.pdf

Download (331kB)
[img] Text (ABSTRAK)
2. ABSTRACT.pdf

Download (129kB)
[img] Text (DAFTAR ISI)
3. DAFTAR ISI.pdf

Download (109kB)
[img] Text (BAB I)
4. BAB I PENDAHULUAN.pdf

Download (781kB)
[img] Text (BAB II)
5. BAB II KONFLIK INDUSTRIAL DI JAWA TIMUR.pdf
Restricted to Registered users only until 22 April 2023.

Download (310kB) | Request a copy
[img] Text (BAB III)
6. BAB III HUBUNGAN INDUSTRIAL DI ERA ORDE BARU.pdf
Restricted to Registered users only until 22 April 2023.

Download (382kB) | Request a copy
[img] Text (BAB IV)
7. BAB IV RITUAL INTERAKSI DALAM HUBUNGAN ....pdf
Restricted to Registered users only until 22 April 2023.

Download (496kB) | Request a copy
[img] Text (BAB V)
8. BAB V KONFLIK INDUSTRIAL DAN BERBAGAI ....pdf
Restricted to Registered users only until 22 April 2023.

Download (581kB) | Request a copy
[img] Text (BAB VI)
9. BAB VI MAKNA KEBEBASAN BERSERIKAT.pdf
Restricted to Registered users only until 22 April 2023.

Download (352kB) | Request a copy
[img] Text (BAB VII)
10. BAB VII PENUTUP.pdf
Restricted to Registered users only until 22 April 2023.

Download (256kB) | Request a copy
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
11. DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (217kB)
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Studi ini mengkaji konflik industrial dari perspektif teori ritual interaksi Randall Collins, terutama tentang ritual interaksi yang terjadi antara buruh dan pengusaha, anggota dan pengurus serikat buruh, serta antar serikat buruh pasca Orde Baru, dan memahami makna konflik industrial di kalangan buruh. Penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya, dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Secara keseluruhan, penelitian ini melakukan wawancara mendalam terhadap 19 orang informan, yakni aktivis buruh, pengusaha, dan birokrat. Studi ini menemukan, pada masa Orde Baru, konflik industrial antara buruh dan pengusaha secara terbuka tidak terjadi, karena sengaja dikendalikan oleh pengusaha dan negara (pemerintah). Pasca Orde Baru yang dianggap lebih demokratis, ritual interaksi antara buruh dan pengusaha pun belum berhasil, meskipun Undang-undang telah mengaturnya. Peluang untuk berdialog, berunding, duduk bersama antara buruh dan pengusaha sangat kecil, sehingga konflik pun tidak terelakkan. Pasca Orde Baru terjadi kebebasan berserikat, terutama dari aspek jumlah serikat, tetapi posisi tawar buruh tetap lemah. Di satu sisi multi serikat dianggap sangat demokratis, buruh bebas mendirikan dan memilih serikat, bebas berkumpul untuk mengemukakan pendapat selama aksi unjuk rasa. Di sisi lain, multi serikat mengakibatkan terfragmentasinya buruh, serikat buruh makin banyak, saling berebut anggota, dan berpotensi terjadi konflik horisontal, buruh tidak solid, terjadi ekslusifisme dan lebih mementingkan bendera masing-masing, akibatnya kemampuan bernegosiasi dan kekuatan buruh menjadi lemah. Posisi tawar buruh ini makin lemah karena jumlah buruh yang berserikat semakin sedikit, akibat penggunaan buruh kontrak dan outsourcing. Lemahnya posisi tawar buruh pada masa Orde baru, akibat pengendalian secara sengaja oleh negara (pemerintah). Ada perbedaan dalam memaknai konflik di kalangan aktivis buruh. Aktivis buruh (bukan pengurus serikat) memaknai konflik industrial sebagai sarana untuk memperjuangkan hak-hak normatif, sarana belajar tentang hak-hak berorganisasi. Aktivis serikat buruh (pengurus), memaknai konflik industrial sebagai strategi untuk membela dan memperjuangkan hak-hak buruh, menjadi ajang pendidikan bagi buruh, sehingga masing-masing unsur dapat mengetahui posisinya. Aktivis serikat buruh ini melakukan aksi unjuk rasa dan mogok kerja sebagai suatu pilihan terpaksa atau suatu keterpaksaan. Aktivis serikat buruh pasca Orde Baru memaknai konflik industrial sebagai senjata terakhir atau senjata pamungkas, bahkan sebagai senjata paling ampuh bagi buruh untuk melakukan tekanan pada pengusaha. Sedangkan aktivis serikat buruh bentukan Orde Baru, memaknai konflik sebagai tindakan yang tidak murni dilakukan buruh, tetapi ada pihak-pihak lain yang terlibat, bahkan bermuatan politik.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis S. 03-15 Sut k
Uncontrolled Keywords: industrial conflict, outsourcing, ritual interaction, basic right, the ultimate weapon, win-win solutions.
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD58 Industrialization
H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD6958.5-6976 Industrial relations
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsNIM
SutinahNIM090970410
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorMusta'in MashudNIDN-
Thesis advisorRachmah IdaNIDN0024056901
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 21 Oct 2016 00:31
Last Modified: 22 Apr 2020 03:27
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32595
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item