GERAKAN SOSIAL MASYARAKAT MISKIN PERKOTAAN :STUDI KASUS GERAKAN MASYARAKAT STREN KALI SURABAYA MENOLAK KEBIJAKAN PENGGUSURAN(YANG DILAKUKAN PEMERINTAH)

SOENYONO, - (2007) GERAKAN SOSIAL MASYARAKAT MISKIN PERKOTAAN :STUDI KASUS GERAKAN MASYARAKAT STREN KALI SURABAYA MENOLAK KEBIJAKAN PENGGUSURAN(YANG DILAKUKAN PEMERINTAH). Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2008-soenyono-7829-abstract-8.pdf

Download (653kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa gerakan sosial Masyarakat Stren Kali Surabaya berhasil menunda penggusuran oleh Pemerintah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang dikembangkan oleh Miles dan Hubermann. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dipahami melalui proses first order understanding kemudian dilanjutkan second order understanding. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, pertama, latar belakang historis timbulnya social grievancies dan discontents Masyarakat Stren Kali Surabaya disebabkan oleh tiga fenomena mendasar, yaitu (a) terjadinya proses pembangunan pedesaan yang menggunakan program `revolusi hijau, (b) terjadinya konsentrasi investasi di perkotaan dan urbanisasi berlebih , dan (c) adanya ancaman penggusuran. Kedua, enabling (peluang politik) yang melingkupi gerakan sosial Masyarakat Stren Kali Surabaya yaitu terbukanya era reformasi yang memberi kebebasan berkumpul, menyampaikan pendapat, dan adanya pers yang bebas. Adapun yang menjadi kendala (constraint) bagi aktualisasi gerakan sosial masyarakat stren kali terdiri atas lima dimensi, yaitu ketertutupan sistem politik, tingginya tingkat represi rezim kota terhadap Masyarakat Stren Kali Surabaya, adanya berbagai kebijakan yang mengancam sumberdaya yang dimiliki masyarakat stren, kegagalan Pemda dalam mengimplemen-tasikan kebijakan, dan kecenderungan Pemda yang hanya memperhatikan tuntutan masyarakat global dan pars investor asing. Kelima kendala tersebut menjadi alasan untuk memicu gerakan sosial Masyarakat Stren Kali Surabaya, karena adanya peluang kebebasan masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Ketiga, struktur atau lembaga yang menjadi wahana Masyarakat Stren Kali Surabaya dalam melakukan gerakan sosial meliputi Paguyuban Masyarakat Stren Kali Surabaya, LSM, Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), kelompok pengajian, arisan, dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Seluruh lembaga ini mempunyai peran sangat vital sebagai wahana gerakan sosial dalam rangka memberikan inspirasi, menentukan arah, merencanakan langkah, melaksanakan tindakan, dan mengevaluasi gerakan yang dilakukan secara kolektif dalam suatu wadah organisasi sosial. Asal mula terjadinya gerakan berawal sejak adanya surat peringatan pengosongan wilayah stren. Mulai saat itu, warga melakukan protes. Dalam suasana kepanikan, LSM JERIT dan UPC datang memberi advokasi dan membentuk organisasi di tiap-tiap wilayah stren, serta membangun dukungan dari seluruh masyarakat stren. Setelah sekian organisasi lokal terbentuk, dibuat jaringan antar wilayah, hingga akhirnya terbentuk struktur komando dari Sekjen, Presidium, hingga Korwil. Dalam rangka memperluas jaringan, Masyarakat Stren Kali Surabaya dengan dimediasi LSM JERIT dan UPC melakukan kerjasama dengan LSM baik lintas teritorial maupun lintas isu. Lintas teritorial tidak hanya membuat jejaring dengan LSM di Surabaya, tetapi juga dengan LSM dii kota-kota lain, termasuk dengan LSM asing. Lintas isu tidak hanya mengangkat isu masyarakat miskin perkotaan, tetapi juga isu perempuan, lingkungan, buruh, anak-anak, petani, hak asasi manusia, dan sebagainya. Keempat, framing merupakan upaya merumuskan strategi, taktik melakukan gerakan sosial Masyarakat Stren Kali Surabaya. Kelompok¬kelompok yang mampu membangun framing masyarakat untuk melakukan gerakan sosial adalah LSM, Paguyuban, Tokoh masyarakat, Ketua RT/RW, masyarakat itu sendiri, dan media. Berbagai gerakan untuk membangun framing meliputi, rapat rutin antar pengurus Korwil, rapat rutin antara pengurus korwil dengan masyarakat, melakukan sarasehan, mengajak masyarakat memboikot Pemilu, membuat konsep penataan dan renovasi, mengirim wakil masyarakat ke India dan Thailand, menciptakan simbol kultural berupa Posko/Sanggar, Sekretariat Bersama, Festival Jogo Kali, logo, membentuk kelompok tabungan, membentuk kelompok arisan, dan membentuk kelompok belajar dan bermain, membentuk kelompok pengajian, melakukan berbagai demonstrasi baik kepada DPRD, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kota Surabaya, maupun ke Menteri Kimpraswil; membangun budaya bersih dan disiplin, melakukan gotong¬royong secara rutin, membuat jalan inspeksi di pinggir sungai, menghimbau pabrik untuk tidak membuang limbah ke sungai, menghimbau pemerintah untuk menindak pabrik yang nakal, mengajak masyarakat untuk aktif dalam berbagai kegiatan paguyuban, membangun kultur tertib lingkungan dengan cara mengadakan ronda, memasang lampu di pinggir jalan inspeksi, dan menjaga ketertiban masyarakat, membangun WC, tempat pembuangan sampah, melakukan penghijauan di sekitar rumah masing-masing, membangun jaringan dengan media, dan menciptakan ideologi. Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat ditarik proposisi penelitian sebagai berikut. Proposisi Pertama: Gerakan protes yang kecil-kecil akan mempunyai peluang berhasil, apabila: (1) mempunyai tujuan yang jelas, (2) dilakukan secara terus menerus, dan (3) dilakukan dalam bentuk gerakan sosial dengan membentuk jaringan yang luas, tidak hanya lintas teritorial tetapi juga lintas isu. Proposisi Kedua: Gerakan sosial Masyarakat Stren Kali Surabaya berhasil karena para pelaku gerakan mengembangkan gerakan lingkungan tertib dan bersih, serta mengusung ideologi pembangunan tanpa penggusuran, sehingga Pemda kehilangan legitimasi untuk menggusurnya. Implikasi teoretik hasil penelitian disertasi ini melengkapi teori asal-mula kemunculan gerakan yang dikemukakan oleh McAdam, dkk. Faktor kemunculan gerakan sosial Masyarakat Stren Kali Surabaya pada dasarnya disebabkan oleh adanya delapan elemen terpenting. (1) adanya ketidakpuasan dan kekecewaan sosial (social grievancies and discontents), (2) kesempatan politik (political opportunity), (3) adanya organisasi yang mewadahi dan memobilisasi Masyarakat Stren Kali Surabaya, (4) proses pembingkaian kultural (cultural framing), (5) adanya tujuan yang jelas, (6) dilakukan secara terus menerus, (7) adanva jaringan yang kuat dan luas, tidak hanya lintas teritorial tetapi juga lintas isu, dan (8) adanya ideologi pembangunan tanpa penggusuran.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis S.04/08 Soe g (FULL TEXT TIDAK TERSEDIA)
Uncontrolled Keywords: Social Movement, Social Discontens, Political Opportunity, Mobilizing Structure, Cultural Framing Process, Role of a Leader
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM621-656 Culture
H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM711-806 Groups and organizations > HM756-781 Community
H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV4023-4470.7 Poor in cities. Slums
K Law > K Law (General) > K1-7720 Law in general. Comparative and uniform law. Jurisprudence > K(520)-5582 Comparative law. International uniform law > K3154-3370 Constitutional law > K3220 Public policy
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsEmail
SOENYONO, -UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorA. RAMLAN SURBAKTI, Prof., Drs., MA., Ph.DUNSPECIFIED
ContributorJ. Nasikun, Prof., Ph.DUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 11 Oct 2016 03:43
Last Modified: 11 Oct 2016 03:43
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32599
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item