ANALISIS PERENCANAAN SUMBERDAYA PERTANIAN YANG OPTIMAL DI KOTA BATU DAN KABUPATEN MALANG

MASYHURI, 099612354 D (2002) ANALISIS PERENCANAAN SUMBERDAYA PERTANIAN YANG OPTIMAL DI KOTA BATU DAN KABUPATEN MALANG. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2007-masyhuri-3550-dise12-3-abs.pdf

Download (188kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1-4)
32641_fulltext1-4.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 5-Dapus)
32641_fulltext5-dapus.pdf

Download (3MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Untuk mewujudkan potensi wilayah, diperlukan alokasi sumberdaya yang optimal. Agar potensi tersebut dapat direalisasikan dan dapat digunakan seeara berkelanjutan, perlu dilakukan perencanaan dengan berbagai tujuan sebab perencanaan merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan kinerja pembangunan pertanian. Sektor pertanian dituntut untuk tetap berperan dalam menyediakan bahan makanan bagi penduduk, bahan baku bagi industri, menyerap tenaga kerja, termasuk memperoleh devisa dari ekspor. Dalam menghadapi era globalisasi, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan daya saing sektor pertanian di pasar internasional. Hasil analisis alokasi sumberdaya yang optimal nantinya dapat diaplikasikan dengan mudah apabila ada dukungan dari pemerintah melalui kebijakan publik (public policy) yang diwujudkan dalam bentuk paket teknologi. Untuk itu perlu dilakukan kajian perencanaan sumberdaya pertanian pada suatu wilayah dengan menggunakan tiga pokok konsep dasar, yaitu (1) spesialisasi dan sektor unggulan wilayah, serta keunggulan komparatif dan kompetitifnya, (2) alokasi sumberdaya yang optimum, dan (3) dukungan kebijakan pemerintah. Tujuan studi ini adalah: (1) menetapkan rumusan model perencanaan alokasi sumberdaya yang optimal, (2) mengkaji spesialisasi dan sektor basis atau sektor unggulan wilayah, keunggulan komparatif dan kompetitif dari komoditi yang dihasilkan oleh wilayah tersebut, (,3) menemukan hasil rancangan alokasi optimum sumberdaya, dan (4) menganalisis efektifitas kebijakan pemerintah terhadap produk domestik dan nilai tambah produk. Lokasi penelitian, di kecamatan Poncokusumo dan kota Batu. Keduanya mewakili wilayah pegunungan dengan rata-rata ketinggian 860-871 meter dari permukaan laut dan atau mewakili wilayah komoditas hortikultura yang ada di kabupaten Malang. Sampel yang diambil di kecamatan Poncokusumo sebanyak 455 responden dari sejumlah 30.304 petani produsen yang tersebar di 17 desa, sedangkan di kota Batu diambi l 321 responden dari sejumlah 21.405 petani produsen yang tersebar di 8 desa. Analisis data yang digunakan adalah (1) fungsi klasifikasi dengan indikator indek Wilkinson (IW), kuasi lokasi (location quotient, LQ) yang digunakan untuk mendeteksi fungsi spesialisasi dan sektor basis atau sektor unggulan wilayah, serta keunggulan komparatif dan kompetitif yang digunakan untuk mendeteksi keunggulan komoditas yang diusahakan di wilayah tersebut, (2) program tujuan ganda yang digunakan untuk menghasilkan rancangan alokasi optimum sumberdaya, dan (3) matrik analisis kebijakan yang digunakan untuk mengkaji efektifitas kebijakan pemerintah terhadap produk dan nilai tambahnya. Hasil studi ini menunjukkan bahwa perencanaan sumberdaya pertanian yang dilakukana di tingkat Kabupaten masih belum optimal. Guna menuju pada perencanaan yang optimal melalui alokasi optimum sumberdaya disusun model perencanaan dengan menggunakan tiga asp: 1 pendekatan, yaitu pertama pendekatan spesialisasi dan sektor basis atau sektor unggulan wilayah untuk menganalisis fungsi spesialisasi dan sektor unggtilan wilayah (kecamatan Poncokusumo dan kota Batu) dengan menggunakan indikator IW dan kuwsi lokasi LQ. Kedua, pendekatan optimasi alokasi sumberdaya pertanian di kecamatan Poncokusumo dan kota Batu dengan indikator koefisien program tujuan ganda. Ketiga, pendekatan analisis kebijakan dengan indikator koefisien matrik anal isis kebijakan. Hasil analisis fungsi klasifikasi dengan indikator Indek Wilkinson (IW) dari sisi nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja yang diterapkan di kecamatan Poncokusumo dan kota Batu menun Akan fungsi spesialisasi yang berbeda dari empat besar sektor: pertanian, perdagangan, jasa-jasa dan transportasi-komunikasi. Di Poncokusumo termasuk fungsi spesialisasi daerah pertanian dengan koefisien IW pada nilai tambah sebesar 1,62 dan koefisien IW pada penyerapan tenaga kerja sebesar 3,71. Di Batu termasuk spesialisasi daerah pertanian dan perdagangan, dengan koefisien IW sektor pertanian dari nilai tanibah sebesar 0,61 dan koefisien IW dari penyerapan tenaga sebesar 1,15. Sedangkan koefisien IW sektor perdagangan dari nilai tambah sebesar 0,47 dan koefisien IW dari penyerapan tenaga kerja sebesar 0,38. Dari basil analisis LQ, sektor pertanian di kecamatan Poncokusumo menunjukkan sektor basis dengan koefisien LQ sebesar 1,15, dan kota Batu disamping sektor pertanian menjadi sektor basis dengan koefisien LQ sebesar 1,15 juga sektor perdagangan dengan LQ dengan nilai LQ sebesar 1,99; dan sektor jasa dengan nilai LQ sebesar 1,09. Koefisien LQ dari sisi penyerapan tenaga kerja, di kecamatan Poncokusumo sektor unggulannya ada tiga, yaitu sektor pertanian dengan koefisien LQ sebesar 1,05; sektor listik-air dengan nilai LQ 1,13; dan Bank-persewaan-jasa perusahaan dengan nilai LQ sebesar 1,00. Sedangkan di kota Batu ada enam sektor ungulan yaitu sektor perdagangan dengan nilai LQ 2,62; sektor jasa-jasa dengan nilai LQ 1,13; sektor transportasi-omunikasi dengan nilai LQ 1,39; sektor listrik-air dengan nilai LQ 1,09, Bank-persewaan-jasa perusahaan dengan nilai LQ 1,00, dan sektor pertambangan-galian dengan nilai LQ sebesar 1,40. Hasil analisis biaya sumberdaya domestik dan rasio biaya domestik, di kota Batu komodilas yang diusahakan mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif yang lebih baik dibandingkan dengan di Poncokusumo. Indikator dari keunggulan komparatif, nilai biaya sumberdaya domestik di Batu lebih kecil (0,44) dibandingkan dengan di Poncokusumo (0,79). Indikator dari keunggulan kompetitif adalah rasio biaya domestik di Batu lebih besar (0,23) dibandingkan dengan di Poncokusumo (0,199). Komoditas tersebut adalah bawang merah, bawang putih, cabe, kubis, tomat, wortel, dan apel. Penerapan alat analisis program tujuan ganda di kecamatan Poncokusumo memakai 9 skenario: (1) skenario dasar, (2) skenario I dengan prioritas peningkatan pendapatan, (3) skenario II dengan prioritas efisiensi usahatani, (4) skenario III dengan prioritas kebutuhan minimum lahan untuk hidup layak, (5) skenario IV dengan prioritas pelestarian lahan, (6) skenario V, VI, VII dengan prioritas pengurangan lahan sawah, tegal, dan pekarangan, (7) skenario VIII dengan prioritas penghematan modal, dan (8) skenario IX dengan prioritas menambah tenaga kerja. Di kota Batu ada 6 skenario: (1) skenario dasar, (2) skenario 1 dengan prioritas peningkatan pendapatan, (3) skenario II, HI, IV dengan dengan prioritas pengurangan lahan sawah, tegal, pekarangan, (4) skenario V dengan prioritas penghematan modal, dan (5) skenario IV dengan prioritas menambah tenaga kerja. Skenario dengan prioritas efisiensi usahatani, kebutuhan minimum lahan, dan pelestarian lahan tidak dimasukkan dalam skenario rancangan optimal karena: (1) usahatani yang dilakukan produsen di kota Batu mencapai tingkat efisiensi yang tinggi rata-rata rasio penerimaan dan biaya lebih besar dari 1, (2) kebutuhan minimum lahan untuk hidup layak sangat kecil sekali seluas 0,909 hektar/kapita karena tingginya nilai output dan tingkat produktivitas lahan, (3) pelestarian lahan di kota Batu selalu dilakukan oleh petani produsen dalam pengelolaan pertanian. Hasil analisis program tujuan ganda di kecamatan Poncokusumo dari beberapa skenario di atas yang terpilih adalah skenario dasar, II, 1V, VIII, dan IX karena skenario tersebut mampu meningkat pendapatan, menambah penyerapan tenaga kerja, dan memperhatikan pelestarian lahan. Atas dasar skenario terpilih di atas pola tanam yang bisa dikembangkan dan alokasi optimum sumberdaya lahannya adalah pola tanam (1) Xl: padi (MT-1) - padi (MT-2) - padi (MT-3) seluas 870 hektar, (2) X2: bawang merah (MT-1) - jagung (MT-2) - bawang putih (MT-3) seluas 425 hektar, (3) X3: cabe (MT-1)-kubis (MT-2) seluas 225 hektar, (4) X5: jagung tegal (MT-1) - jagung tegal (MT-2) seluas 3.013 hektar, (5) X6: apel seluas 2.148 hektar, dan (6) X7: ketela pohon seluas 3.630 hektar. Hasil analisis program tujuan ganda di kota Batu, skenario terpilih adalah skenario dasar, skenario V (modal dikurangi) dan skenario VI (tenaga kerja ditambah). Pola tanam yang direkomendasikan untuk mencapai alokasi optimum sumberdaya lahan adalah (1) X1: bawang merah+cabe (MT-1) - bawang putih (MT-2) seluas 421 hektar, (2) X2: bawang merah (MT-1) - wortel (MT-2) - tomat (MT-3) seluas 1.047 hektar, (3) X3: cabe (MT-1) - kubis (MT-2) seluas 639 hektar, (4) X4: apel seluas 2.965 hektar, (5) X5: wortel (MT-1) - kubis(MT-2) - tomat (MT-3) seluas 1.188 hektar, (6) X6: kubis (MT-1) - wortel (MT-2) - tomat (MT-3) seluas 1.389 hektar. Hasil analisis matrik kebijakan, dampak kebijakan pemerintah baik langsung seperti penghapusan subsidi pupuk, maupun tidak langsung seperti ketetapan upah minimum regional, kelonggaran ekpor-impor dan lain-lain terhadap harga produk domestik dan nilai tambah yang diterima produsen belum efektif baik di kecamatan Poncokusumo maupun kota Batu. Indikatornya: (1) koefisien proteksi nominal pada output tradable sebesar 0,71, berarti penerimaan produsen pada pasar domestik atas komoditi yang diusahakan oleh petani produsen sebesar 71 % dari harga di pasar internasional, (2) koefsien transfer output bernilai negatif artinya kebijakan pemerintah lebih berpihak pada konsumen dari pada produsen, (3) koefisien proteksi efektif sebesar 0,65 berarti efektifitas proteksi pemerintah terhadap produk domestik hanya 65 %, karena keuntungan yang diterima produsen dilihat dari indikator koefisien keuntungan sebesar 0,49 dan pendapatan potensi produsen rata-rata hilang 21 % dilihat dari indikator rasio subsidi bagi produsen sebesar 0,21. Dari beberapa hasil studi di atas, menunjukkan dukungan terhadap peneliti-peneliti sebelumnya khususnya berkaitan dengan topik penelitian optimalisasi alokasi sumberdaya yang telah dilakukan oleh Landis (1995), Siskos, dkk.(1995), dan Dhaniels dan Thomas (1995). Hasil tersebut adalah alokasi sumberdaya lahan yang optimal melalui penataan pola tanam dengan berbagai jenis tanaman yang dijadikan sebagai komoditas unggulan atau andalan suatu wilayah. Rancangan model perencanaan dapat dilakukan dengan melibatkan berbagai aspek. Karena dalam penelitian ini ada tiga aspek yang dimasukkan dalam rancangan model perencanaan tersebut, maka ada peluang yang sanla bagi peneliti lainnya untuk melakukan riset lanjutan dengan memasukkan lebih dari tiga aspek. Karena wujud dari pengujian model tersebut berupa skala pola tanam dengan alokasi optimal sumberdaya lahannya, maka skala pola tanam tersebut dapat diaplikasikan di beberapa wilayah. Tentunya ada beberapa kendala sosial, ekonomi, dan teknis jika wilayah yang bersangkutan agroekologis tidak sama dengan di kota Batu dan kecamatan Poncokusumo. Secara substansi, komoditas yang menjadi andalan seperti bawang merah, kubis, cabe dan apel dapat diusahakannya dengan memperkecil kendala teknis melalui pemanfaatan kemajuan teknologi dibidang pertanian, kendala ekonomis melalui pemanfaatan kredit usahatani, dan kendala sosial diminimalkan rnelalui demoplot-demoplot. Kalau melihat tujuan pembangunan pertanian secara makro adalah bagaimana meningkatkan pendapatan secara keselurulLan dan bagaimana menambah lapangan pekerjaan, maka s.ilah satu cara agar tujuan tersebut dapat dicapai dengan jalan merealisasikan potensi suatu sektor yang dimiliki oleh wilayah. Seperti yang terjadi di Poncokusumo, berdasakan IW termasuk daerah spesialisasi sektor pertanian. Ini dapat diarahkan tidak hanya daerah pertanian saja tetapi juga menjadi daerah perdagangan sebagai pendukung sektor pertanian, khususnya untuk menyediakan pasar untuk output. Berdasarkan pada skenario terpilih menunjukkan bahwa di kecamatan Poncokusumo: pada lahan sawah dapat dialokasikan untuk usahatani komoditas pangan dengan pola tanam padi-padi-padi optimumnya sebesar 57,2 % dari luas keseluruhan, selebihnya dapat dialokasikan untuk komoditas hortikultura. Pada lahan tegal, alokasi untuk komoditas jagung sebesar 46, 2 % dari luas keseluruhan dan untuk komoditas apel optimumnya sebesar 32,9 % dari luas keseluruhan, sisa luas lahan dapat dialokasikan untuk komoditas lain seperti ketela pohon karena pada lahan pekarangan dengan komoditas ketela pohon ini optimumnya memerlukan tambahan luasan sebesar 20,9 % dari luas lahan tegal. Sedangkan di Kota Batu, baik lahan sawah, tegal, maupun lahan pekarangan sebesar 90 % untuk komoditas hortikultura, dapat disarankan sisa lahan 10 % dari luas keseluruhan dapat dialokasikan untuk komoditas pangan seperti jagung, kedelai dan lainnya. Dalam rangka untuk mengaplikasikan hasil optimasi, maka diperlukan dukungan kebijakan publik berupa penataan pola tanam yang berkaitan dengan transformasi kondisi aktual ke optimal, dengan jalan melihat struktur usahatani yang dilakukan oleh petani produsen, terutama komoditas tradable yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti hortikultura. Ini dapat didukung dengan modal yang memadai. Oleh karena itu kredit usahatani (KUT) lebih diarahkan pada komoditas yang betul-betul mempunyai nilai ekonomis tinggi. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis.E.12/03 Mas a
Uncontrolled Keywords: Plan and optimum.
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD30.28 Strategic planning
S Agriculture > SB Plant culture > SB1-1110 Plant culture
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Ekonomi
Creators:
CreatorsEmail
MASYHURI, 099612354 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSuroso Imam Zadjuli, Prof., Dr., H., SEUNSPECIFIED
ContributorM Iksan Semaoen, Prof., Ir., H., M.Sc., Ph.DUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 10 Oct 2016 03:44
Last Modified: 05 Jun 2017 18:56
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32641
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item