PERUBAHAN PERAN ISTERI NELAYAN DARI PERAN YANG TRADISIONAL KE PERAN YANG PRODUKTIF :KAJIAN TENTANG SUKU KAILI DI DESA LERE SULAWESI TENGAH

FADLIA VADLUN YOTOLEMBAH, 09931137 D (2001) PERUBAHAN PERAN ISTERI NELAYAN DARI PERAN YANG TRADISIONAL KE PERAN YANG PRODUKTIF :KAJIAN TENTANG SUKU KAILI DI DESA LERE SULAWESI TENGAH. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
138. Abstrak Dis S 02-03 Yot p.pdf

Download (382kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
jiptunair-gdl-s3-2003-yotolembah2c-832-nelayan-diss02-p.pdf

Download (10MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa isteri nelayan yang mengubah perannya dari yang tradisional ke peran yang produktif memerlukan banyak pengorbanan diantaranya: persetujuan suami, silaturahmi_sesama warga, orang tua, mertua, kerabat, dan pelanggan ikan. Bertolak dari fenomena sosial tersebut, dapat dirinci pembagian kerja keluarga isteri nelayan sebelum dan sesudah terjadi perubahan peran. Bagaimana pengambilan keputusan keluarga isteri nelayan sebelum dan sesudah perubahan peran Konflik apa yang terjadi beserta penyelesaiannya sebelum dan sesudah perubahan peran dari yang tradisional ke peran yang produktif ? Peneliti berusaha menemukan pandangan isteri nelayan terhadap perubahan peran. Oleh karena itu peneliti menggunakan paradigma definisi sosial, dengan alasan bahwa studi ini berusaha memahami pandangan subyektif yang diberikan isteri nelayan terhadap perubahan perannya dari peran yang tradisional ke peran yang produktif. Dalam menerapkan paradigma definisi sosial digunakan teori struktural fungsional, teori gender dan teori empowerment. Perubahan peran isteri nelayan dari peran yang tradisional ke peran yang produktif rata-rata disikapi secara positif dengan beberapa alasan sebagai berikut: isteri nelayan harns memiliki keterampilan untuk mengubah pecan dari pecan yang tradisional ke pecan yang produktif. Isteri nelayan barns memiliki sifat jujur untuk mendapatkan dukungan suami/keluarga. Bila ketrampilan dan kejujuran dimiliki isteri nelayan perubahan peran dari peran yang tradisional ke peran yang produktif akan berhasil dan sukses, tetapi apabila ketrampilan dan kejujuran tidak dimiliki oleh isteri nelayan dampaknya perubahan akan memperoleh sebaliknya yaitu gagal atau gagal total. Peran di sektor yang tradisional tentang pembagian kerja suami isteri tetap berimbang yang ringan dikerjakan isteri sedang yang berat dikerjakan suami. Peran di sektor yang produktif si isteri turut mencari nafkah bersama suami. Untuk pengambilan keputusan di sektor yang tradisional suami lebih dominan. peran di sektor yang produktif isteri lebih dominan. Selanjutnya konflik yang terjadi beserta penyelesaiannya di sektor yang tradisional ada dua macam konflik yaitu konflik peran penyelesaiannya dengan saling pengertian. konflik ideologis penyelesaiannya dengan kompromi. konflik yang terjadi beserta penyelesaiannya di sektor yang produktif ada tiga macam. yaitu: konflik peran penyelesaiannya dengan saling pengertian. konflik ideologis penyelesaiannya dengan kompromi. konflik nyata dengan berpisah tempat. Berikutnya pandangan yang diberikan isteri nelayan di sektor yang tradisional meliputi: (1) pengambilan keputusan selalu tergantung pada suami. (2) bosan tinggal di rumah, (3) sempit wawasan. (4) perasaan selalu tertekan. Pandangan yang diberikan isteri nelayan di sektor yang produktif. meliputi: (1) sangat percaya diri (mandiri). (2) bisa memenuhi ekonomi rumah tangga. (3) bertambah luas wawasan. (4) perasaan bebas. (5) komunikasi luas. (6) aktualisasi diri dan dihargai masyarakat. Mencermati pandangan yang diberikan oleh isteri nelayan ini dapat dirumuskan proposisi sebagai perikut: (1) semakin giat isteri nelayan di sektor yang produktif semakin dominasi isteri nelayan dalam pengambilan keputusan, (2) dampaknya perubahan peran isteri nelayan dari peran yang tradisional ke peran yang produktif positif oleh isteri nelayan. Implikasi teoritik Secara akademik temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan utamanya kepada pihak penentu kebijakan (pemerintah) sebagai bahan pertimbangan yang berkaitan dengan masalah ketenaga kerjaan. dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Salah satu teori untuk menganalisis keluarga isteri nelayan adalah struktural fungsional, teori ini menekankan keseimbangan dinamis menurut Parson (1956) dalam bukunya Family: Socialization and Interaction Process, menyatakan bahwa keluarga diibaratkan seekor hewan berdarah panas yang dapat memelihara temperatur tubuhnya agar tetap konstan, walaupun kondisi lingkungan berubah. Parson tidak menganggap keluarga adalah statis atau tidak dapat berubah, keluarga selalu beradaptasi secara mulus menghadapi perubahan lingkungan. Kondisi ini disebut keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium). Keseimbangan akan menciptakan sebuah sistem sosial yang tertib (social order). Ketertiban sosial akan dapat tercipta apabila masing-masing individu mengetahui posisinya, dan patuh pada sistem nilai yang melandasi struktur tersebut. Dari temuan peneliti di Desa Lere, dengan sendirinya mendukung teori yang menempatkan keluarga selalu beradaptasi secara mulus menghadapi lingkungan, diketahui bahwa walaupun suami (nelayan) tidak aktif bekerja, tetapi isteri nelayan tetap bekerja demi kelanggengan ekonomi rumah tangga. Isteri nelayan bekerja harus memiliki ketrampilan dan kejujuran untuk mendapatkan dukungan suami dan keluarga. Kriteria ketrampilan dan kejujuran ,tersebut sangat dibutuhkan untuk perubahan peran isteri nelayan dari peran yang tradisional ke peran yang produktif, dampak dari pemilikan kriteria tersebut isteri nelayan berhasil dan sukses, keluargapun stabil. Mengacu pada temuan bahwa isteri nelayan bekerja bukan hanya meningkatkan ekonomi rumah tangga tetapi demi prestige dan dominasi isteri dalam keluarga. Kesimpulan ini didasarkan bahwa bekerjanya isteri nelayan bukan hanya untuk kepentingan dirinya tetapi demi pencapaian tujuan keluarga secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan teori struktural fimgsional oleh Parson. Tentang pembagian kerja, pengambilan keputusan dalam rumah tangga isteri nelayan, mendukung serta cocok untuk penerapan teori gender dan teori empowerment untuk menganalisisnya. GBHN, (1984) bahwa peran serta wanita adalah sebagai mitra sejajar pria. Teori empowerment oleh Leidenfrost, (1992), Marelee Karl, (1993) bertujuan agar kaum wanita mendapatkan hak-haknya untuk (1) pendidikan, (2) kesehatan, (3) kesempatan bekerja yang sama besar peluangnya dengan pria, (4) boleh memilih altematif kehidupan seperti yang diinginkannya, dan (5) tidak dilecehkan secara seksual apalagi diperlakukan salah. Temuan peneliti dalam hal pembagian kerja, isteri nelayan lebih banyak waktunya dipergunakan untuk bekerja daripada suaminya. Waktu bekerja isteri nelayan habis digunakan di pasar sehingga untuk istirahat di rumah tidak ada sama sekali. Isteri nelayan mampu memenuhi ekonomi rumah tangganya, dengan memperoleh hasil jualannya langsung diputuskannya sendiri, tanpa sepengetahuan suaminya. Sikap isteri nelayan yang lebih banyak menghabiskan waktunya di pasar cocok dan mendukung teori Empowerment, supaya memperhatikan kesehatan agar tidak merugikan diri mereka sendiri, apakah secara ekonomi, sosial dan cultural. Implikasi Praktis Temuan penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi para perencana dan pelaksana pembangunan terutama dalam memilih strategi yang tepat dalam melakukan pembangunan terutama dalam unit keluarga. Mengacu pada temuan penelitian, bahwa ada tiga faktor utama dalam perubahan peran yang tradisional ke peran yang produktif sebagai berikut: (1) Ketrampilan dan kejujuran mempunyai arti penting dalam memperoleh dukungan suami/keluarga. (2) Pandangan perubahan peran isteri nelayan cenderung lebih berorientansi kepada prestige dan kekuasaan daripada orintasi ekonomi. (3) Isteri nelayan mampu mengambil keputusan karena mempunyai kelebihan dalam presitise dan kekuasaan.Meskipun secara teori gender wanita berperan serta dalam pembangunan adalah mitra sejajar pria, namun teori tersebut diartikan sebagai kemauan untuk mendukung secara mutlak program yang dirancang pemerintah. Di sini ditemukan bias yang mendasar tentang teori gender itu sendiri karena di dalamnya terkandung maksud bahwa wanita hanya dijadikan obyek dalam pelaksanaan program, sedang perencana tidak memperhatikan potensi yang ada pada masyarakat, termasuk potensi untuk mengembangkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu para pengambil kebijakan dalam melaksanakan program pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat (desa), hendaknya dapat menerapkan konsep secara tepat, bukan hanya slogan semata melalui pendekatan teori gender dengan berpihak pada masyarakat miskin, diantaranya masyarakat nelayan di pedesaan. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis.S.02/03 Yot p
Uncontrolled Keywords: Fishermans wives The meaning of role changing Tradisional activity Productive activity
Subjects: H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV697-3024 Special classes > HV1442-1448 Women
H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV3176-3199 Special classes. By race or ethnic group
S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling > SH1-691 Aquaculture. Fisheries. Angling > SH201-399 Fisheries
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsEmail
FADLIA VADLUN YOTOLEMBAH, 09931137 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSoetandyo Wignjosoebroto, Prof., H., M.PAUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 11 Oct 2016 02:14
Last Modified: 11 Oct 2016 02:14
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32709
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item