POLA ASUH ANAK PADA ETNIK JAWA MIGRAN DAN ETNIK MANDAR

ASIAH HAMZAH, 099411731 D (2000) POLA ASUH ANAK PADA ETNIK JAWA MIGRAN DAN ETNIK MANDAR. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
jiptunair-gdl-s3-2003-hamzah2c-867-anak-diss03-p-abs.pdf

Download (210kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
32712.pdf

Download (3MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

RINGKASAN Studi dimulai dengan fakta tingginya kejadian kematian bayi pada etnik Mandar (4,215 per 1000 jumlah penduduk usia bayi di daerah Polmas) dibanding etnik jawa migran (2,716 per 1000 jumlah penduduk usia bayi di daerah Polmas). Kesenjangan ini membutuhkan jawaban dan untuk itu dihimpun sejumlah fakta lain yang terkait dengan kematian yang ada pada kedua etnik. kematian sebagai masalah dan pengasuhan anak sebagai permasalahan. Permasalahan berangkat dari fakta pengasuhan anak kemudian dipergunakan sebagai bahan kajian untuk membangun konsep dan proposisi ilmiah. Fakta yang ditemukan pada etnik mandar adalah bahwa ibu menyiapkan ASI secara sederhana, menyusui pada tempat tertentu dan secara terbatas, memberi makanan pada anak dengan cara anak menyuap dirinya sendiri, dan melepaskan anak bebas bermain tanpa kontrol ketat. pada orang Jawa migran ditemukan fenomena berupa tindakan persiapan ASI yang lebih kompleks, menyusui kapan saja dan di mana saja, pemberian makanan dengan jalan disuapi, dan anak bermain di bawah pengawasan ketat. Ibu Jawa migran mempersiapkan ASI dengan minum jamu, pilis susu, dan wowong yang dianjurkan oleh orang tuanya sedangkan pada ibu Mandar tidak ditemukan hal sedemikian. Budaya memiliki salah satu aspek yaitu norma (menurut Tylor). Perilaku terpilih kemudian dianut oleh sabagian besar masyarakat yang terbentuk menjadi norma. Norma ini mengatur perilaku masyarakat atau menjadi -pola pengasuhan anak yang dianut masyarakat. Teori Tylor ternyata didukung oleh hasil . penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa norma yang dianut oleh suatu masyarakat berpengaruh terhadap pola pengasuhan anak pada masyarakat bersangkutan. Pola pengasuhan anak diperoleh dari produk interaksi ibu dengan lingkungannya (significant others dan generalized others). Interaksi itu sendiri merupakan norma berperilaku dari ibu dalam bermasyarakat pada suatu komunitas (sosietas). Norma itu sendiri merupakan salah satu unsur budaya. Dengan demikian pola pengasuhan merupakan produk budaya. Peneliti. menangkap makna tindakan pengasuhan yang dilakukan ibu ternyata bersandar pada apa yang dituntut masyarakat terhadap diri ibu yang merupakan norma pengasuhan anak. Pengasuhan anak sebagai permasalahan ini ditekankan pada telaah: (a) bagaimana konstruksikan realitas sosial (mulai dari proses berpikir – sampai bertindak) tentang pengasuhan anak menurut kemauannya dan menurut harapan sosialnya?; (b)Bagaimanakah perilaku ibu mengasuh anaknya berdasarkan kemauannya dan berdasarkan norma yang ada pada masyarakatnya?; dan (c) apa makna perilaku pesasuhan anak yang ada pada ibu? Penelitian ini bertujuan membangun konsep dan proposisi pola pengasuhan anak yang khas untuk ibu dalam stratum masyarakat Jawa migran dan masyarakat Mandar dalam lingkungan wilayah serupa (daerah Polewali-Mamasa Sulawesi Selatan, Indonesia), dari segi pola pengasuhan pra dan pasca kelahiran, pola menyusui, pola pemberian makanan, dan pola pengasuhan bermain. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan paradigma etnometodologi, paradigma interaksi simbolik, dan paradigma analogi model Kasper. Dengan paradigma Etnometodologi peneliti mencoba melihat apa makna perilaku pengasuhan anak yang diberikan ibu menurut sudut pandang ibu, agar perilaku pengasuhan anaknya dapat diterima oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan pula paradigma interaksi simbolik di mana si aktor membuat tindakan (action) dalam berinteraksi yang memberikan makna sebagai realitas, dari maknakah makna itu diperoleh (significant others dan generalized others) dan apakah tindakan pengasuhan itu dapat diterima masyarakatnya sehingga tindakan itu dapat dilanjutkan atau ditolak. Selain itu digunakan pula paradigma analogi dalam pandangan Kasper di mana sesuatu itu dipandang oleh subjek secara independen, terlepas dari pandangan mapan yang ada dalam masyarakat atau apakah perilaku pengasuhan anak masih sejalan dengan norma. Dalam analisis dibuat klasifikasi: (1) menghimpun fakta perilaku pengasuhan yang bersifat normatif; (2) menghimpun keserupaan makna dari keseluruhan perilaku pengasuhan; (3) memberikan konsep (term) terhadap himpunan keserupaan perilaku pengasuhan; (4)berdasar pain 1, dinyatakan himpunan perilaku tadi sebagai produk budaya atau dipengaruhi oleh asal ibu. Secara faktual ibu Jawa migran melakukan pengasuhan dengan: (1) kunjungan ke puskesmas untuk persiapan pra dan pasca kelahiran; (2) menyusui di mana saja dan kapan saja; (3) memberikan anak makanan kebanyakan dengan cara menyuapi; (4) melakukan penyeliaan pada anak ketika ibu bekerja. Kesimpulannya ibu Jawa migran mengasuh anak secara melekat . Secara faktual ibu Mandar melakukan pengasuhan dengan: (1) memanfaatkan dukun atau sarana kesehatan tradisional untuk mempersiapkan pra dan pasca kelahiran anaknya; (2) menyusukan anaknya pada tempat yang lebih tertutup sehingga frekuensi menyusu lebih terbatas; (3) anak dibiarkan makan sendiri dengan menyuap diri sendiri; (4) kurang melakukan penyeliaan pada anak ketika ibu bekerja. Kesimpulannya ibu Mandar mengasuh anak secara lepas . Perilaku pada orang Jawa migran dan orang Mandar tersebut_di atas adalah perilaku normatif pada masing masing etnik tersebut. Karena perilaku etnik merupakan produk budaya maka dapat disimpulkan : (1) pengasuhan anak melekat pada orang jawa migran merupakan produk budaya Jawa migrant; (2) pesasuhan anak lepas pada orang Mandar merupakan produk budaya Mandar. Kristalisasi kesimpulan makna adalah ditemukan “pengasuhan anak melekat pada orang Jawa migran” dan ditemukan “pengasuhan anak lepas pada orang Mandar”. Bila diajukan pertanyaan mengapa orang Jawa Mandar mengasuh secara lepas, penelitian ini akan menyodorkan kesimpulan yang diambil berdasar pada fakta dari dua etnik tersebut. Proposisi yang disimpulkan secara rinci adalah : Proposisi 1: Pengasuhan anak dipengaruhi oleh budaya asal ibu. Proposisi 2: Pengasuhan anak merupakan produk budaya etnik ibu. Proposisi 3: Pengasuhan anak merupakan hasil interaksi budaya ibu dengan masyarakat tempat ibu berada.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis.S.03/03 Ham p
Uncontrolled Keywords: Child care; Ethnic; Culture
Subjects: H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV3176-3199 Special classes. By race or ethnic group
H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV697-3024 Special classes > HV701-1420.5 Children
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsEmail
ASIAH HAMZAH, 099411731 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSoetandjo Wignjosoebroto, Prof., H., MPAUNSPECIFIED
ContributorA. Rahman Rahim, Prof., Dr.UNSPECIFIED
ContributorWidodo J Pudjirahardjo, dr., MS., MPH., Dr.PHUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 10 Oct 2016 05:30
Last Modified: 04 Jul 2017 16:25
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32712
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item