RATIONALITAS DAN MAKNA SOSIAL KONVERSI PEMAHAMAN DALAM AGAMA ISLAM : STUDI KASUS PADA PARA CONVERTS DI DESA SUKOLILO KECAMATAN LABANG, KABUPATEN BANGKALAN, MADURA

HAMIDI, 099712461 D (2002) RATIONALITAS DAN MAKNA SOSIAL KONVERSI PEMAHAMAN DALAM AGAMA ISLAM : STUDI KASUS PADA PARA CONVERTS DI DESA SUKOLILO KECAMATAN LABANG, KABUPATEN BANGKALAN, MADURA. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
jiptunair-gdl-s3-2004-hamidi-866-agama-diss05-r-abs.pdf

Download (226kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
jiptunair-gdl-s3-2004-hamidi-866-agama-diss05-r.pdf

Download (19MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Tesis bahwa ajaran agama mempunyai konsekuensi-konsekuensi sosial, bahwa gagasan gagasan keagamaan dapat berfungsi sebagai sumber motivasi bebas dan inovasi sosial-budaya, seperti karya Weber (1904) dengan protestant ethic-nya telah melahirkan sejumlah perdebatan teoretik di kalangan intelektual sejarah, ekonomi, agama dan sosiologi dalam kurun waktu yang cukup panjang. Yang demikian bisa terjadi karena tesis tersebut menyerang tesis Marx yang menyatakan bahwa the economic system /aways shape idea . Yang kedua tindakan sosial yang juga digagas oleh Weber dan Parsons mengandung ripe, kadar dan kerangka tindakan rasionalitas tertentu. Untuk kadar rasionalitas tindakan sosial, Weber menyatakan bahwa it expressed in a wide variety of areas, termasuk dalam bidang agama tentunya. Weber yakin bahwa tindakan rasional telah menjadi cara yang dominan dalam masyarakat industri modem, demikian juga cara berpikir keagamaannya. Berangkat dari tesis kontroversial atau perdebatan ilmiah dan kadar rasionalitas tindakan sosial keagamaan tersebut, dilakukan penelitian tentang rasionalitas tindakan konversi keagamaan dan makna sosial, dengan tujuan ingin mengetahui, pertama, bagaimana rasionalitas yang dimiliki orang-orang NU yang melakukan tindakan konversi bergabung ke Persyerikatan Muhammadiyah. Kedua ingin mengetahui makna sosial tindakan konversi yang dilakukan orang-orang Muhammadiyah yang berasal dari NU. Penelitian tersebut sejak awal diyakini memiliki kontribusi dalam pengembangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, khususnya sosiologi agama, karena hasil penelitiannya akan berupa pertama, temuan tipe dan penjelasan rasionalitas tindakan sosial keagamaaan dikaitkan dengan konsep keagamaan. Kedua, temuan penelitian ini berupa konsep-konsep tentang makna sosial tindakan konversi tertentu yang sekaligus merupakan konsep yang tersembunyi di balik tindakan konversi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian yang baru selain dipandang dari permasalahan dan fenomena sosial keagamaannya, juga karena berada pada peristiwa atau fenomena sosial satu agama yakni Islam dan lebih spesifik lagi berhubungan dengan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Jam iyyah Nahdlatul U/ama dan Persyerikatan Muhammadiyah. Memilih suatu lokalitas yang dikenal mayoritas dan sangat kental paham keNU-an warganya, di Desa Sukolilo, Kecamatan Labang, Bangkalan , Madura. lni berarti bahwa melakukan tindakan konversi banyak mengandung resiko psikhis dan sosial, bahkan pernah terjadi ancaman secara fisik. Data diperoleh dari unit-analisis para informan atau responden sebagai aktor konversi dan situasi sosial keagamaan mereka. Melalui snowball sampling, teknik wawancara-mendalam, observasi dan pemanfaatan informasi dokumentasi, dengan pendekatan kualitatif serta lebih berperspektif emik dari pada etik. Menggunakan teori-teori yang dinilai relevan : Pilihan Rasional (Hackathorn). Tindakan Sosial(Weber, Parsons), Sistem Terbuka Agama (Scherer) dan Konstruksi Realitas secara Sosial Berger dan Luckmann). Berdasarkan teori yang digunakan, temuan infonnasi di tengah aktivitas penggalian data serta permasalahan penelitian, dirumuskan hipotesis sebagai berikut : Pertama, tindakan konversi orang-orang Muhammadiyah yang berasal dari NU ditentukan oleh rasionalitas ajaran tawhid (peng-esa-an Tuhan). Kedua, tindakan konversi orang-orang Muhammadiyah yang berasal dari NU mempunyai makna sosial diperoleh dan teraktualisasikannya : kepastian, kemandirian, kebebasan berekspresi, egalitarianisme, pelembagaan dan jaringan kerja dalam beragama. Hasil penelitian menunjukkan, pertama bahwa rasionalitas tindakan konversi keagamaan warga Muhammadiyah yang berasal dari NU termasuk pada rationalitas nilai, dengan penjelasan bahwa dasar pertimbangan beberapa tindakan keagamaan yang mereka pilih temyata adalah aturan-aturan yang baru, autentik, yang bersumber dari Al-Quran clan Al-Hadits sebagai firman Allah dan sabda Nabi Muhammad s.a.w., sebagai utusan-Nya, bukan kata kiyai sebagai pemimpin keagamaan. Yang demikian merupakan aplikasi kepercayaan bahwa Allah merupakan sumber dan pengatur-tunggal segala kehidupan. Menurut paparan responden tujuan hidup adalah mencari ridla Allah dengan cara beribadah. lbadah bukan hanya sembahyang, berpuasa, atau berhaji, tetapi semua aktivitas sejak dari bangun tidur sampai tidur kembali di malam hari, yang dilandasi niat karena Allah, dengan cara yang telah ditetapkan Allah baik secara detail maupun secara garis besar Dengan demikian rasionalitas tindakan konversi orang-orang Muhammadiyah yang berasal dari NU mempunyai tipe rasionalitas tawhid atau tindakan rasionalitas peng-esa-an Allah. Pemyataan tersebut sekaligus merupakan terbuktinya hipotesis pertama di lapangan tentang rasionalitas konversi keagamaan. Hasil penelitian yang kedua adalah bahwa orang-orang Muhammadiyah menemukan pertama : kepasatian yang lebih mantap dalam beberapa aspek keagamaan, karena memperoleh dasar dari Al-Quran clan Al-Hadits. Kedua, kemandirian dalam tindakan keagamaan mereka, karena tidak selalu bergantung kepada kiyai lagi. Ketiga, kebebasan don egalitarianisme dalam interaksi memahami ajaran Islam, karena senior Muhammadiyah selalu memberi kesempatan untuk menyatakan pendapat. Keempat, orientasi kemasyarakatan dalam paham clan praktik keagamaan mereka, karena setelah bermuhammadiyah temyata peduli kepada fakirmiskin clan masalah pendidikanmasyarakat. Kelima, pelembagaan serra jaringankerja, cara yang diperoleh dan dipilih dalam aktivitas keagamaan mereka. Semua konsep tersebut merupakan konsekuensi bermuhammadiyah, yang sekaligus konsepkonsep tersebut, adalah hal-hal yang diinginkan atau yang tersembunyi di balik tindakan konversi mereka. Dengan ungkapan lain misalnya, setelah bermuhammadiyah mereka menemukan kebebasan dan egalitarianisme dalam beragama dan bermasyarakat, di samping itu mereka memang menginginkan kebebasan serta suasana egalitarian dalam beragama dan bermasyarakat. Dari hasil penelitian di lapangan tersebut terbukti kebenaran hipotesis kedua tentang makna sosial konversi keagamaan. Dengan demikian dapat dinyatakan sebuah tesis (teori) : konversi keagamaan mempunyai makna sosial diperoleh dan teraktualisasikannya kepastian, kemandirian, kebebasan, egalitarianisme, orientasi kemasyarakatan, pelembagaan dan j aringan- kerj a dalam beragama. Secara teoretik implikasi hasil penelitian memiliki mendukung konsep-konsep rasioanlitas dalam teori Rational Choice, di samping ada aspek tertentu tidak paralel. Mendukung dalam arti bahwa secara empirik para converts memilih cara tertentu yang berbeda dari yang biasa atau telah lama dipakai dalam melakukan tindakan keagamaan. Dinyatakan tidak memperkuat karena pilihan cara yang lama dinilai tidak maksimal atau optimal, seperti yang digagas oleh Rational Choice Theory, tetapi pilihan cara lama tersebut dalam mencapai tujuan hidup keagamaan terutama yang berkaitan dengan menjalin hubungan sosial justru dipandang tidak sesuai dengan tuntunan-sosial keagamaan yang ada, sehingga berakibat warga masyarakat menjadi tidak semakin mandiri dan tidak mempunyai kebebasan dalam berinteraksi secara vertikal dalam memahami ajaran agama. Dengan ungkapan lain cara lama justru dinilai tidak mengarah kepada tercapainya tujuan, bukan sekedar tidak optimal. Di sisi lain tindakan konversi para converts secara empirik dapat dikatagorikan lebih dekat kepada tipe tindakan rasionalitas-nilai (Wertrationalitat), karena seperti yang dinyatakan oleh Weber, ditentukan oleh keyakinan atau keterikatan terhadap suatu tatanan nilai yang tinggi seperti kebenaran, keadilan atau kepercayaan kepada Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan berarti segala tindakan oleh para converts harus didasarkan kepadaapa yang dinyatakan Tuhan, bukan apa yang ditradisikan oleh para kiyai. Pertimbangan tindakan konversinya adalah pertimbangan untuk tujuan keselamatan hidup sesudah mati, tanpa melupakan kehidupan di dunia. Bukan dipengaruhi oleh tujuan-tujuan yang diinginkan yang berjangka pendek untuk kepentingan sendiri (Zweckrationalitat). Juga bukan termasuk pada tipe afJectual dan traditional action, bahkan menentangnya . Dari sudut pandang Parsons dengan kerangka-tindakamrya, daIam Social Action Theory-nya, menurut data di lapangan, dinyatakan bahwa tindakan sebagai sarana yang dipakai para converts dipengaruhi oleh pandangan keagamaan yang sudah beredar secara luas (macro-nasional, Muhammadiyah), bukan pandangan keagamaan yang sedang berlaku di intemal lingkungan komunitasnya (makro-lokal, nilai dan norma ke.NU-an, sebagai fakta sosial ), walaupun menurut Parsons keduanya dalam kerangka-tindakan termasuk komponen situasi sekitar aktor dalam bentuk komponen orientasi normatif. Dari perspektif Teori Tindakan Sosial yang digagas Parsons, tindakan memilih salah satu dari sejumlah cara atau sarana yang ada merupakan tindakan sosial yang rasional, yakni memilih cara yang terarah kepada suatu tujuan pencapaian kesenangan (baca : ridla Allah, surga) dan menghindari rasa sakit (baca : murka Allah, neraka) atau memperbesar keuntungan dan memperkecil biaya. Terhadap teori Open System dari Scherer, data ternyata banyak menunjukkan pengukuhan terhadap prinsip-prinsip teori tersebut, dengan catatan bahwa hanya kelompok NU yang mengalami entropy dalam arti tidak mampu menciptakan sumber daya manusia baru atau converts, tidak seperti yang terjadi pada kelompok Muhammadiyah, yang mampu melawan kekuatan universe of meaning dengan plausibility structure-nya, sehingga mampu melahirkan para converts. Untuk penelitian lebih lanjut, bisa dilakukan penelitian kasus rasionalitas konversi dalam satu agama selain Islam atau antaragama, mengingat keterbatasan penelitian ini terletak pada kasus konversi dalam satu agama, agama Islam. Kedua penelitian lebih lanjut bisa menggunakan pendekatan kuantitatif, retest terhadap teori yang ditemukan dengan variabel berupa konsep-konsep yang sudah tersedia. Untuk kepentingan praktis, adanya perbedaan pemahaman dan praktik keagamaan dalam beberapa hal antara Muhammadiyah dan NU hendaknya dihadapi lebih dewasa, lebih berakhlakul karimah dan rasional. Dimulai dari para elit di semua tingkat, mereka harus memiliki keberanian untuk menerangkan perbedaan tersebut dengan niat, akhlak yang mulia dan cara yang baik sehingga tertanam sikap dan perilaku di strata bawah tidak saling membenci, memusuhi dan saling menjauhi, tetapi justru keterangan tersebut menambah pengetahuan dan luasnya wawasan warga kedua belah pihak, semakin tingginya toleransi ummat dalam perbedaan. Jika tumbuh dan berkembang perbedaan pemahaman dalam suatu hal hendaknya itu dianggap wajar, kecuali jika perbedaan tersebut salah satu pihak telah melanggar yang sudah jelas dalilnya atau keterangannya dari sumber yang autentik, maka secara lapang dada harus mengakui ke1alaiannya. Kepada para elit di kedua belah pihak hendaknya dari waktu ke waktu, setahap demi setahap memberi kemandirian dan kebebasan kepada para pengikutnya agar tidak selalu bergantung kepada elit dalam memahami dan mempraktikkan agamanya. Kepada para elit hendaknya menjauhi penyakit cinta-dunia, memburu pangkat, kedudukan, harta atau uang dalam aktivitasnya sebagai muballigh, pengasuh pesantren, guru-guru di sekolah, pengajar di langgar-Ianggar atau masjid, dalam meneladani kehidupan Nabi. Para kiyai, ulama, muballigh jika menyampaikan perbedaan hendaknya dasar pertimbanagan atau rasionalitas pendirian atau pendapat yang berbeda tersebut disampaikan secara teliti dan seimbang dari masing-masing pendapat yang berbeda tersebut, sebagai bukti penguasaan materi yang disampaikan. Para elit akan lebih mandiri dan bebas dalam menyebarkan kebenaran Islam, jika mempunyai mata-pencaharian atau profesi lain selain sebagai penyebar ajaran Islam, agar kehidupannya tidak bergantung kepada pemberian yang tidak memiliki kepastian, tetapi kepada hak yang seharusnya diterima, sehingga para muballigh tersebut tidak ada rasa khawatir ditinggal oleh pengikutnya yang biasa mengundang dalam menyampaikan kebenaran yang ada dalam ajaran Islam, al-Quran clan AI-Had its . </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis.S.05/03 Ham r
Uncontrolled Keywords: conversion, rationality, social meaning.
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc > BP1-253 Islam
H Social Sciences > HM Sociology
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsNIM
HAMIDI, 099712461 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorSoetandyo Wignjosoebroto, Prof., MPAUNSPECIFIED
Thesis advisorSyafiq A Mughni, Prof., MA., Ph.DUNSPECIFIED
Thesis advisorSanapiah Faisal, DrUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 11 Oct 2016 01:37
Last Modified: 11 Oct 2016 01:37
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32718
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item