PEMAHAMAN ELITE PKB KOTA KEDIRI TENTANG KEKUASAAN POLITIK : Studi tentang Pemahaman Kekuasaan Politik dari Perspektif Kontruksionisme.

SUKO SUSILO, 099913669 D (2005) PEMAHAMAN ELITE PKB KOTA KEDIRI TENTANG KEKUASAAN POLITIK : Studi tentang Pemahaman Kekuasaan Politik dari Perspektif Kontruksionisme. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2007-susilosuko-3588-diss05-p-ABS.pdf

Download (303kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-susilosuko-3588-diss05-p.pdf

Download (18MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian tentang Islam dan politik dalam bidang sosiologi telah banyak dilakukan oleh para ahli dalam berbagai perspektif dan lokus sehingga menghasilkan temuan dan teoretisasi yang juga berbeda. Di Indonesia, sebagian besar penelitian dengan topik Islam dan politik menetapkan kajian pada organisasi keagamaannya dan para individu elitenya. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya karena terfokus pada kajian tentang organisasi partai politik dengan tekanan pada aspek kekuasaan elite. Seiring dengan tuntutan demokratisasi semenjak berakhimya era Orde Baru, maka penelitian ini dianggap penting dilakukan agar diketahui berbagai varian pemahaman elite partai tentang kekuasaan politik sekaligus sumber-sumber kekuasaannya. Dengan mengetahui pemahaman elite tentang kekuasaan politik dan berbagai sumber kekuasaan yang dimiliki maka akan diketahui posisi elite politik lokal dalam percepatan demokratisasi. Penelitian ini menetapkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai setting penelitian karena pengumandangan agama Islam sebagai dasar tindakan politik para elitenya. Hampir semua elite lokal PKB adalah elite Nahdlatul Ulama (NU) sementara konstituennya sebagian besar adalah warga nahdliyin. Latar belakang kultur pesantren yang paternalistik memungkinkan pemahaman kekuasaan politik para elite PKB berbeda dengan konsep kekuasaan sebagaimana teori-teori yang telah ada. Memahami pemahaman elite politik lokal mengenai kekuasaan pada dasarnya adalah usaha menginterpretasi konstruksi sosial elite. Dengan demikian, maka teori konstruksi sosial sebagaimana anjuran Berger dan Luckmann (1990) dipandang paling memadai untuk dipakai sebagai pegangan analisis tentang pemahaman elite PKB tentang kekuasaan politiknya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Aktivitas observasi dalam penelitian ini mendapat porsi yang lebih banyak ketimbang kegiatan wawancara. Melalui observasi mendalam peneliti telah terhindar dari jebakan pernyataan-pernyataan formalistik, tidak substansial, dan hanya menangkap gejala permukaan saja. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa terdapat 2 (dua) ragam pemahaman elite politik lokal dalam memahami kekuasaan politik, yakni normatif dan pragmatis. Pemahaman normatif memandang kekuasaan sebagai potensi pengaruh yang melekat pada jabatan politik untuk mengikat dan mempengaruhi keseluruhan masyarakat menuju tatanan sosial yang dilandasi oleh moralitas sesuai doktrin Islam dengan paham ahlusunnah waljamaah. Sedangkan pemahaman yang pragmatis memandang kekuasaan sebagai potensi pengaruh yang melekat pada jabatan politik dan memfasilitasi tercapainya sejumlah kepentingan jangka pendek dari individu elite dan atau kelompoknya. Dalam penelitian dapat diketahui bahwa dari dua ragam pemahaman tentang kekuasaan politik tersebut muncul varian lain, yakni pemahaman yang bersifat situasional dan nggih monggo mawon. Penelitian ini juga menghasilkan identifikasi sumber kekuasaan yang berbeda dengan temuan-temuan terdahulu semisal temuan Weber (1949), Bachrach dan Baratz (1970), Anderson (1972), Giddens (1979), Koentjaraningrat (1984), Budiharjo (1986), Burns (1987), Dahl (1991), Surbakti (1992), Waters (1994), Yukl (1994), hingga Antlov dan Cederroth (2001). Ditemukan bahwa terdapat 6 (enam) sumber kekuasaan yang mensaranai elite lokal PKB dalam menjalankan kekuasaannya yang penggunaannya disesuaikan dengan konteks politik yang berlangsung. Sumber kekuasaan termaksud meliputi : (1) ekonomi, (2) fisik, (3) personal, (4) posisi, (5) kultural, dan (6) berkah makam (adikodrati). Secara konseptual, temuan penelitian ini menolak teoretisasi Anderson tentang konsep kasekten sebagai sumber tunggal kekuasaan. Sedang secara umum penelitian ini melengkapi temuan beberapa ahli tersebut di atas terkait dengan jenis sumber kekuasaan politik.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis.S.05/06 Sus p
Uncontrolled Keywords: Political elites, Power, Sources of power, Cultural setting.
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM621-656 Culture
J Political Science > JA Political science (General)
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsEmail
SUKO SUSILO, 099913669 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorA. RAMLAN SURBAKTI, Prof., Drs., MA., Ph.DUNSPECIFIED
ContributorKutut Suwondo, Prof., Dr., M.SUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 09 Oct 2016 12:46
Last Modified: 09 Oct 2016 12:46
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32719
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item