SISTEM BILANGAN DAN MAKNA BUDAYANYA : Studi Etnonumerologi Perspektif Simbolik dalam Masyarakat Lamaholot di Nusa Tenggara Timur

FELYSIANUS SANGA, - (2005) SISTEM BILANGAN DAN MAKNA BUDAYANYA : Studi Etnonumerologi Perspektif Simbolik dalam Masyarakat Lamaholot di Nusa Tenggara Timur. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2007-sangafelys-3589-diss06-s-abs.pdf

Download (629kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-sangafelys-3589-diss06-s.pdf

Download (16MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Latar Belakang: Penelitian dengan tema Sistem Bilangan dan Makna Budayanya ini muncul sebagai inspirasi ketika peneliti mengkaji bahasa dan budaya lokal di seputar wilayah Nusa Tenggara Timur, antara tahun 1992 - 1996. Inspirasi ini dilatarbelakangi oleh suatu fenomena bahwa terdapat sistem bilangan yang berbeda-beda di antara sekitar 40-an kelompok etnis yang tersebar di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Sistem bilangan itu ternyata ditemukan dalam setiap aspek kehidupan, dari yang paling sakrit sampai kepada yang paling profan. Gambaran umum tentang variasi sistem bilangan antar kelompok etnis mendorong untuk menentukan satu kelompok etnis sebagai sasaran penelitian mendalam. Kelompok etnis yang ditetapkan adalah masyarakat Lamaholot yang menghuni Flores bagian Timur dan kepulauan Solor - Propinsi Nusa Tenggara Timur. Masalah: Masalah utama yang timbul ketika mengamati secara saksama fenomena tersebut adalah: Persepsi dan pola pemahaman masyarakat etnis Lamaholot tercermin dalam sistem bilangan secara kuantitatif maupun kualitatif ketika mereka mengklasifikasi dan kategorisasi lingkungan alam sekitar mereka . Untuk mendapat jawaban secara saksama tentang masalah utama ini maka perlu dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: Bagaimana masyarakat kelompok etnis Lamaholot menggunakan bilangan untuk mengabstraksikan lingkungan mereka? Bagaimana makna bilangan pokok dan sistem pengembangannya menurut masyarakat kelompok etnis Lamaholot? Apakah sistem bilangan dapat mengungkapkan atau merupakan pernyataan budaya yang tak dapat dipisahkan dari keseluruhan sistem nilai? Apa kaitan antara sistem bilangan dengan sistem sosial, teknologi, dan sistem nilai yang dimiliki oleh masarakat?; Apakah sistem bilangan dapat mencerminkan atau menginformasikan watak dan kepribadian masyarakat pemiliknya? Tujuan: Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menemukan konsep dan memahami sistem kognisi masyarakat lamaholot dalam mempersepsikan dunianya melalui sistem bilangan, baik secara kuantitatif dan kualitatif . Secara khusus penelitian ini bertujuan: (1) menemukan cara-cara masyarakat mengabstraksikan lingkungan hidup mereka melalui bilangan pokok dan sistem bilangan pada umumnya; (2) menemukan sistem dan pola pengembangan bilangan secara vertikal dan horisontal, baik kuantitatif dan kualitatif; (3) menemukan hubungan bilangan pokok dengan aspek nilai-nilai budaya, kearifan dan teknologi tradisi; serta sistem sosial dalam kehidupan bermasyarakat (4) menemukan hubungan timbal-balik antara sistem bilangan dengan sistem teknlogi tradisi yang dimiliki masyarakat. Apabila tujuan-tujuan dapat tercapai maka diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis maupun praktis. Metode: Pendekatan utama dalam penelitian ini adalah etnografi ala Spradley yang dinamakan Development Research Sequence = Alur Penelitian Maju Bertahap, dengan dua belas langkah kegiatan. Berdasarkan sifat data lapangan yang dibutuhkan dan tujuan penelitian maka pendekatan Alur Maju Bertahap dikombinasikan dengan pendekatan Refleksif Dengan mengacu kepada teori klasifikasi baik secara alamiah maupun klasifikasi artificial (disengajakan), terutama Sistem Klasifikasi Linnaen oleh Carl Linne (1707 - 1773) tentang klasifikasi dan tata penamaan obyek (nomenclauture) untuk memudahkan pemahaman tentang tahap pertumbuhan pemahaman sistem bilangan. Masalah di atas dipahami dengan pernyataan Pythagoras bahwa bilangan merupakan hasil pengungkapan inderawi terhadap segenap gejala alam dari perbandingan-perbandingan matematik dengan dalinya berbunyi number rulles the universes =bilangan memerintah jagad raya.(Ensklopedi Indonsia, edisi khusus. 1986:2807). Di samping itu, Berkeley (1685 - 1753) telah memberikan pula pemahaman dasar bahwa setiap kelompok etnis memiliki sejumlah core values (perangkat nilai inti) yang menjadi penanda esensial suatu masyarakat. Nilai-nilai budaya itu merupakan hasil abstraksi pengalaman yang tidak mudah kabur pada setiap warga meskipun mereka berbaur dengan pendukung kebudayaan berbeda. Nilai-nilai inti kebudayaan itu merupakan repertoar (Haris, 1979: 47) yang telah menjadi landasan terbentuknya struktur berupa pranata-pranata sosial dan infrastruktur berupa sikap dan tingkah laku kehidupan sosial pada masyarakat etnis bersangkutan. Di samping itu, dalam pertumbuhan pemahaman tentang gaib dan religi Taylor (1832 - 1917), Frazer (1854 - 1941) maka manusia memiliki pula suprastruktur. Kajian: Berdasarkan tujuan dan data lapangan yang terjangkau maka penelitian ini mengkaji secara mendalam tentang sistem bilangan masyarakat lamaholot terutama jumlah dan nama bilangan pokok, sistem pengembangan bilangan pokok secara kuantitatif maupun kualitatif, dan teknik penggunaan sistem bilangan dalam kehidupan masyarakat Lamaholot. Berpijak pada pemahaman tentang sistem bilangan ini, dikaji secara mendalam pula tentang sistem bilangan sebagai alat persepsi masyarakat Lamaholot. Tentang fokus kajian kedua ini, sistem bilangan dilihat penggunannya dalam empat aspek yakni (1) situasi sakral, (2) situasi formal, (3) situasi sosial, dan (4) aplikasi sistem bilangan dalam matematika tradisi. Kajian butir kedua ini dijadikan pijakan untuk kajian butir ketiga yang bertujuan menemukan pemahaman tentang sistem bilangan sebagai cermin kepribadian kelompok etnis atau perangkat tipe kepribadian kelompok. Kajian butir ini lebih menekankan kepada makna bilangan secara kualitatif dan kuantitatif dalam konsep ruang, waktu, dan manusia terutama berhubungan dengan aspek pandangan hidup masyarakat, teknologi tradisional, dan kehidupan sosial sehari-hari. Simpulan: Berdasarkan hasil kajian dalam penelitian ini maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: (1) masyarakat Lamaholot memiliki bilangan pokok sepuluh (desimal) dengan pola sistem pengembangannya secara kuantitatif dan kualitatif; (2) Sistem bilangan digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti: menangkut proses kehidupan manusia, sistem waktu, dan berbagai gejala lingkungan sehingga secara singkat dapat dikatakan bahwa sistem bilangan mencerminkan pola kognisi, sistem nilai dan norma, serta mencerminkan tipe karakteristik masyarakat Lamaholot; (3) Tipe atau kepribadian masyarakat Lamaholot tercermin melalui temuan berupa visi dan misi tradisi. Visi dasar tradisi adalah Kemurnian yang dilandasi oleh kebenaran, kejujuran, keadilan, dan kepastian dan dieksprsikan melalui doa yang bersifat Kelolo kesuat = sumpah. Sedangkan misi tradisi adalah: Keselamatan hidup, Kekeluargaan, Kerja sama, Kecukupan hidup, dan Kedamaian. Implikasi: Data dan simpulan kajian dalam penelitian ini mempunyai implikasi teoritik dengan konsep semiotik yang dikemukakan oleh Ferdinand de Sausure (1857 - 1913) dan semiologi oleh Charles Sanders Peirce (1835 - 1914); berhubungan pula dengan konsep Etik-Emik dalam kaitan dengan budaya. Teori dengan dua sisi berbeda ini dikembangkan oleh Kenneth Lee Pike (1940), Frans Boas (1943), Edward Sapir (1949); dan konsep tentang makna dan nilai magis bilangan yang dikemukakan oleh Isidore Kozminsky (1912). Proposisi: Berdasarkan hasil temuan dan implikai teoritik ini maka dapat dikemukakan empat proposisi - hipotetik sebagai hasil temuan dalam penelitian ini, adalah: Pertama: Jika pemerintah daerah pada suatu masyarakat multi-etnis mengalami kesulitan menemukan visi dan misi wilayah sebagai faktor utama merancang perubahan terencana (=pembangunan) maka studi etnonumerologi merupakan langkah awal untuk mengatasi kesulitan secara tepat-guna. Kedua: Apabila mendesain suatu pembangunan dengan pendekatan budaya maka terlebih dahulu seorang desainer memahami secara saksama tentang budaya masyarakat sasaran. Sumber belajar budaya yang paling komprehensif adalah sistem bilangan yang dimliki oleh masyarakat. Oleh sebab itu, studi etnonumerologi merupakan prasyarat untuk mendesain program pembangunan secara efektif Ketiga: Konsep bhineka telah menjadi ancaman di samping kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Jalan keluar yang paling efektif adalah menemukan etik dan emik antar suku bangsa, kelompok etnis, maupun wilayah sehingga etik menghasilkan norma umum dan emik akan menimbulkan saling menghormati perbedaan. Salah satu aspek kajian sebagai pertolongan pertama adalah sistem bilangan tradisional dalam masing-masing suku atau etnis. Keempat: Jika pemerintah pada suatu daerah otonomi menghendaki pendidikan matematika berkembang pada pendidikan lokal dan merubah opini mayarakat bahwa pendidikan matematika sangat mahal dan paling penting maka pendekatan matemaika realistik perlu dikembangkan. Materi matematika realistik diperoleh melalui hasil kajian sistem bilangan lokal. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis.S.06/06 San s
Uncontrolled Keywords: Basic numbers, Numeric system, Ethnonumerology, Traditional mathematics, Quantitative and qualitative meaning, harmonious numbers, Ethic and emic
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM831-901 Social change
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
FELYSIANUS SANGA, -UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorS Budisantoso, Prof., DrUNSPECIFIED
ContributorJ Glinka, Prof., Dr., SVDUNSPECIFIED
ContributorLaurentius Dyson, Prof., Dr., MAUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 11 Oct 2016 01:35
Last Modified: 11 Oct 2016 01:35
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32721
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item