REALITAS SOSIAL DAN KULTURALLANGEN TAYUB NGANJUK DALAM PERSPEKTIF KONSTRUKSI SOSIAL PETER L. BERGERDAN THOMAS LUCKMANN

ANIK JUWARIYAH, 090810030 D (2012) REALITAS SOSIAL DAN KULTURALLANGEN TAYUB NGANJUK DALAM PERSPEKTIF KONSTRUKSI SOSIAL PETER L. BERGERDAN THOMAS LUCKMANN. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (BAB)
32722 BAB.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2013-juwariyaha-26887-4.abst-t.pdf

Download (200kB) | Preview
[img] Text (LAMPIRAN)
32722 lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Studi ini berjudul ”Realitas sosial dan kultural Langen Tayub Nganjuk dalam perspektif konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann”. Langen Tayub merupakan kesenian tradisional yang sampai sekarang masih populer dan digemari sebagian besar masyarakat agraris, termasuk masyarakat Nganjuk. Permasalahan penelitian ini adalah : 1) bagaimana realitas sosial dan kultural Langen Tayub Nganjuk dalam perspektif konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann ?, 2) bagaimana dialektika ekternalisasi, objektivasi dan internalisasi para pelaku Langen Tayub dalam konteks perubahan sosial dan budaya masyarakat ? Penelitian dilakukan di Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, dan Desa Tempuran, Kecamatan Ngluyu. Kedua desa ini mempunyai karakteristik yang berbeda, meskipun keduanya masih tergolong dalam masyarakat agraris. Selain di dua desa tersebut, peneliti juga mengadakan pengamatan langsung pada pementasan Langen Tayub di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Nganjuk serta mengamati CD (compact disk) pementasan Langen Tayub. Teori yang digunakan untuk mengupas masalah ini yaitu teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) Proses konstruksi sosial yang dialami pelaku Langen Tayub sangat dipengaruhi oleh historisitas dan pengalaman mereka selama melakukan aktivitas berkesenian. Pengalaman itu dilakukan dalam kehidupan keseharian dengan kesadaran, dan dipelihara secara terus menerus pada tradisi-tradisi yang masih ada di masyarakat. Pengakuan masyarakat atas kemampuan kedirian pelaku Langen Tayub melahirkan identitas yang jelas; 2) Dialektika tahapan internalisasi, objektivasi dan ekternalisasi yang dilakukan pelaku Langen Tayub dipengaruhi perkembangan agama Islam di masyarakat, pergeseran fungsi Langen Tayub, dan peran pemerintah dalam perubahan penyajian Langen Tayub model lama ke Langen Tayub Padang Bulan; 3) Berdasarkan tindakan di atas front stage, maka peneliti menemukan lima tipe penayub, yaitu: pasif , usil/genit, lincah, lucu, dan ekspresif, 4) Kreativitas seni masyarakat agraris semakin berkembang dan bervariatif, terbukti adanya gendhing-gendhing baru dan gendhing yang menunjukkan identitas Nganjuk seperti : Alun-Alun Nganjuk, Nganjuk Mranani, Pasar Wage, Jaket Iki, dan lain-lain; 5) Seiring perkembangan jaman fungsi Langen Tayub lebih mengarah ke fungsi hiburan. Hal ini menggugurkan definisi lama Tayub, Tayub sekarang ditarikan juga oleh perempuan dengan perempuan, bukan hanya perempuan dengan laki-laki; 6) Dialektika internalisasi, objektivasi dan ekternalisasi terjadi secara simultan. Ketiganya saling berhubungan dan membentuk sebuah pranata sosial. Manusia adalah produk masyarakat dan masyarakat adalah produk manusia. Langen Tayub sebagai produk budaya agraris akan tetap tumbuh di lingkungan yang mempunyai pola pikir dan ciri khas masyarakat agraris. Pada lingkungan masyarakat yang sudah menuju masyarakat modern, Langen Tayub akan tergeser dan akhirnya bisa mengalami kepunahan; 7) Bentuk-bentuk kompromi yang ditawarkan kaitannya dengan keberadaannya yang bertentangan dengan agama Islam, Langen Tayub telah melakukan beberapa perubahan-perubahan, misalnya tata busana waranggana sudah lebih sopan, waktu pertunjukan yang diperpendek, dan variasi minuman untuk penayub, 8) Langen Tayub mempunyai beragam makna karena disanalah masyarakat menggantungkan hidupnya, mengekspresikan kemampuan estetis yang dimilikinya, mengekpresikan kebebasannya dan bersosialisasi dengan masyarakat yang lain. Langen Tayub menjadi media komunikasi dan interaksi yang efektif untuk masyarakat agraris. Implikasi teoritik dari penelitian ini: 1) mengkritisi kerata basa dari Tayub, yaitu ditata ben guyub. Peneliti menemukan bahwa beberapa bagian dari model Langen Tayub lama tidak sesuai dengan kerata basa ditata ben guyub, tetapi malah sering menimbulkan kekacauan karena : a) pergantian gendhing yang bisa dilakukan setiap saat; b) kondisi pertunjukan yang dipenuhi dengan penayub yang mabuk berat justru bukan kebersamaan dan keguyuban yang muncul, melainkan perlawanan bentuk nilai-nilai normatif yang ada di masyarakat; 2) sistem pengetahuan yang ada pada masyarakat agraris yang berhubungan dengan hari baik, pemilihan bentuk pertunjukan untuk aktivitas nyadran, bersih desa, sistem pengelolaan pertanian dan lain-lain ditafsir sesuai pengalaman yang dimiliki. Berdasarkan penafsirannya tersebut seniman Langen Tayub mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian dan terus memeliharanya dalam proses sosial yang ada; 3) studi ini memantapkan tesis Frans Magnis Suseno (1991: 69-75) yang menyatakan bahwa, masyarakat Jawa mengatur interaksi-interaksinya melalui dua prinsip, prinsip kerukunan dan prinsip hormat. Tuntutan untuk mencegah konflik dan untuk selalu menunjukkan sikap hormat yang tepat mempunyai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat Jawa, termasuk masyarakat Nganjuk. Hal ini didasarkan pada data yang ada menunjukkan bahwa antara pelaku Langen Tayub dengan masyarakat terdapat saling menghormati dan tetap menjaga kerukunan. Meskipun berbeda prinsip, dan Langen Tayub dianggap bertentangan dengan agama Islam (karena ada minuman kerasnya) namun MUI sebagai lembaga yang mengeluarkan fatwa tidak serta merta melakukan tindakan kekerasan dan membubarkan pertunjukan, namun hanya menghimbau jangan sampai terjadi keributan dan mengganggu ketentraman umum. Demikian juga sebaliknya Langen Tayub berusaha untuk melakukan perubahan-perubahan di beberapa bagian, agar tidak terlalu menimbulkan konflik-konflik sosial; 4) penelitian ini mendukung konsep Berger bahwa internalisasi itu merupakan realitas subyektif. Masing-masing individu mempunyai tingkatan internalisasi yang berbeda-beda. Pengaruh tingkat pendidikan, latar belakang keluarga, kondisi masyarakat, pengalaman individu mempengaruhi proses dan bentuk internalisasi yang dilakukan.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 DIS.S.06/13 Juw r
Uncontrolled Keywords: konstruksi sosial, Langen Tayub, internalisasi, objektivasi, eksternalisasi
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsEmail
ANIK JUWARIYAH, 090810030 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorHarris Supratno, Prof., Dr., HUNSPECIFIED
ContributorL Dyson, Prof., Dr., MAUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 09 Oct 2016 12:43
Last Modified: 19 Jun 2017 21:33
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32722
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item