PENGARUH AEROBIOSIS DAN ANTIBIOTIK TERHADAP KARAKTERISTIK; DAYA TAHAN, VIRULENSI DAN ULTRASTRUKTUR BENTUK KOKOID HELICOBACTER PYLORI Penelitian Eksperimental Laboratoris

DWI SOELISTYA DYAH JEKTI, 099913609 D (2003) PENGARUH AEROBIOSIS DAN ANTIBIOTIK TERHADAP KARAKTERISTIK; DAYA TAHAN, VIRULENSI DAN ULTRASTRUKTUR BENTUK KOKOID HELICOBACTER PYLORI Penelitian Eksperimental Laboratoris. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2006-jektidwiso-3403-dism08-k.pdf

Download (300kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s3-2006-jektidwiso-3403-dism08-4.pdf

Download (10MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Kuman H. pylori bersifat mikroaerofilik, berbentuk pleomorfik yaitu spiral, batang bengkok dan bila mendapat stres akan berubah bentuk menjadi kokoid. Kuman ini penghasil urease yang kuat, karenanya sanggup hidup pada lambung yang mempunyai pH rendah. Ada beberapa sarjana yang menganggap bahwa bentuk kokoid adalah bentuk kuman mati, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa bentuk kokoid adalah bentuk pertahanan menghadapi lingkungan yang buruk. Kokoid pertahanan dapat terdiri dari kokoid hidup dan dapat dikultur (Viable Culturable) serta kokoid yang masih hidup tetapi tidak dapat dikultur kembali (Viable Non Culturable) serta kokoid mati (Non Viable). Penelitian epidemiologik menunjukkan bahwa infeksi H. pylori dapat ditularkan secara fekal-oral. Cara penularan ini melibatkan kokoid H. pylori, sebab kuman H. pylori di lingkungan secara teoritik berbentuk kokoid. Demikian pula terdapatnya bukti bahwa kokoid ternyata lebih kebal pada antibiotik dibandingkan dengan bentuk spiral. Serta banyak pendapat bahwa kokoid bertanggung jawab terhadap kekambuhan infeksi H. pylori pada kasus yang telah mendapat terapi eradikasi. Sehingga harus diupayakan agar kuman tidak terbentuk kokoid sebelum pengobatan antibiotik diberikan. Tujuan dari penelitian ini adalah 1. Membuktikan bahwa stresor antibiotik berpengaruh lebih besar terhadap karakteristik bentuk kokoid kuman H. pylori dari pada stresor aerobiosis 2. Membuktikan bahwa stresor antibiotik berpengaruh lebih besar dalam menurunkan daya tahan (survival) bentuk kokoid kuman H. pylori dari pads stresor aerobiosis 3. menganalisis stresor aerobiosis yang berpengaruh lebih besar dalam menurunkan daya virulensi kokoid kuman H. pylori dari pada stresor antibiotic 4. membandingkan pengaruh stresor aerobiosis dan antibiotik terhadap variasi ultrastruktur bentuk kokoid kuman H. pylori. Penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan randomized post test only ini dengan variabel suasana mikroaerofilik, aerobiosis, dan pemberian amoksisilin pada suasana mikroaerofilik Sampel didapatkan dari lambung penderita gastritis kronis. Jumlah sampel adalah 81 tabung berisi kuman H. pylori dengan 109 CFU/ml. Pemeriksaan dilakukan terhadap jenis protein, kadar DNA, integritas DNA, integritas RNA, mRNA urease, gen ureA dan gen cagA. Demikian pula dilakukan pemeriksaan dengan transmission electron microskope untuk melihat perbedaan ultrastruktur pada kokoid yang terbentuk. Dilakukan pula pemeriksaan spiral yang diperlukan sebagai kontrol. Analisis statistik dilakukan dengan manova dan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pembentukan kokoid paling cepat terjadi pada stresor antibiotik, kemudian stresor aerobiosis dan terakhir stresor mikroaerofilik. Penurunan kadar DNA kokoid VC dan kokoid VNC paling cepat terjadi pada stresor antibiotik, kemudian stresor aerobiosis dan terakhir pada stresor mikroaerofilik. Penurunan kadar DNA kokoid NV paling cepat terjadi pada stresor mikroaerofilik, kemudian stresor antibiotik dan terakhir stresor aerobiosis. Aktivitas enzim urease pada semua bentuk kokoid negatif, tetapi protein ureaseA, protein ureaseB dan gen ureA pada semua bentuk kokoid positif. mRNA urease pada kokoid VC dan kokoid VNC stresor mikroaerofilik dan stresor antibiotik positif Tetapi mRNA urease pada semua kokoid stresor aerobiosis negatif. Semakin lama waktu pembentukan kokoid, integritas DNA dan integritas RNA semakin menurun. Penurunan integritas DNA kokoid VC paling cepat terjadi pada stresor aerobiosis, kemudian pada stresor mikroaerofilik dan terakhir pads stresor antibiotik. Penurunan integritas DNA kokoid VNC dan kokoid NV paling cepat terjadi pada stresor antibiotik, selanjutnya pada stresor aerobiosis dan terakhir pada stresor mikroaerofilik. Sedang penurunan integritas RNA pads kokoid paling cepat terjadi pada stresor aerobiosis, kemudian stresor mikroaerofilik dan terakhir stresor antibiotik. Protein CagA negatif pads semua kokoid sedang gen cagA positif pada semua kokoid kecuali pada kokoid NV stresor mikroaerofilik. Stresor antibiotik berpengaruh lebih besar pada karakteristik kokoid dari pada stresor aerobiosis. Stresor aerobiosis berpengaruh lebih besar pada penurunan daya tahan kokoid VC, tetapi pads kokoid VNC tidak terdapat perbedaan antara stresor aerobiosis dan antibiotik dalam penurunan daya tahan. Sedangkan pada kokoid NV, stresor antibiotik berpengaruh lebih besar pada penurunan daya tahan dibanding dengan stresor aerobiosis. Selanjutnya stresor antibiotik berpengaruh lebih besar pada daya virulensi kokoid kuman H. pylori. Pemeriksaan dengan mikroskop elektron menunjukkan bahwa pembentukan kokoid VC stresor aerobiosis dan antibiotik tidak melalui bentuk U dan bentuk donat seperti pads stresor mikroaerofilik. Kokoid VC stresor mikroaerofilik dengan bermacam-macam bentuk lonjong, bulat dan buah peer. Bentuk kokoid VC stresor antibiotik bentuknya tidak beraturan dengan ujung membentuk seperti kait. Pembentukan kokoid VNC stresor antibiotik menyebabkan perubahan pada dinding sel yaitu dengan membentuk kait pada sisi samping yang berbeda dengan kokoid stresor mikroaerofilik. Rongga periplasmik pada kokoid VNC stresor antibiotik lebih kecil dari pada stresor aerobiosis sedangkan rongga periplasmik pada kokoid NV stresor antibiotik lebih besar dari pada stresor aerobiosis. Kesimpulan secara keseluruhan dari penelitian ini menunjukkan suatu konsep baru bahwa stres lingkungan merupakan faktor penting dalam pembentukan kokoid kuman H. pylori. Waktu pembentukan kokoid, bentuk kokoid, karakteristik kokoid, daya tahan kokoid dan daya virulensi kokoid dan ultrastruktur kokoid bervariasi pada kondisi stres lingkungan yang berbeda. Konsep ini merupakan konsep baru yang belum pernah ada yang mengemukakan sebelumnya. Antibiotik berpengaruh pada karakteristik kokoid kuman H. pylori. Hal ini menunjukkan bahwa kokoid sensitif pada antibiotik. Data yang ada juga membuktikan bahwa kokoid bukanlah bentuk kehidupan yang tidak lagi memiliki potensi virulensi.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKC KK Dis M 08/04 Jek p
Uncontrolled Keywords: Heliocobacter Pylory, coccoid form, characteristics, ultrastuctur, stresses
Subjects: A General Works > AC Collections. Series. Collected works > AC801-895 Inaugural and program dissertations
Q Science > QR Microbiology > QR1-502 Microbiology
Q Science > QR Microbiology > QR75-99.5 Bacteria
R Medicine > RB Pathology > RB37-56.5 Clinical pathology. Laboratory technique
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Matematika & IPA
Creators:
CreatorsEmail
DWI SOELISTYA DYAH JEKTI, 099913609 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSutiman Bambang Sumitro, Prof.,Drs.,MS.,DScUNSPECIFIED
ContributorEddy Bagus Wasito, Dr.,dr.,MS.,DSMKUNSPECIFIED
ContributorWidodo J. Pudjirahardjo, dr.,MPH.,DrPHUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Anisa Septiyo Ningtias
Last Modified: 02 Sep 2016 02:32
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32802
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item