PEMODELAN DAYA HAMA Plutella xylostella L. PADA TANAMAN KUBIS UNTUK MENENTUKAN SAAT PENGENDALIAN KIMIAWI

NI WAYAN SURYA WARDHANI, 090013761 D (2004) PEMODELAN DAYA HAMA Plutella xylostella L. PADA TANAMAN KUBIS UNTUK MENENTUKAN SAAT PENGENDALIAN KIMIAWI. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2006-wardhanini-3400-dism04-k.pdf

Download (261kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
32836.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Plutella xylostella Linneaus atau ulat daun kubis merupakan salah sate hama penting pada tanaman kubis. Hama ini termasuk serangga dengan metamorphose sempurna yaitu : telur, larva, pupa dan imago. Kubis merupakan tanaman yang memiliki nilai estetika; oleh karena itu kerusakan sedikit akibat adanya hama ini dapat menyebabkan kubis tidak layak jual. Tindakan pengendalian kimiawi dengan penyemprotan insektisida masih dianggap satu¬satunya cara efektif untuk mengendalikan hama dan dilakukan atas data kualitatif, dilakukan secara terjadwal dengan interval 7 hari dan frekuensinya bertambah pada serangan hama tinggi. Namun cara tersebut tidak berhasil menekan populasi hama, karena dilakukan pada saat yang tidak tepat misalnya pada saat serangan hama rendah, pada saat laju daya hama rendah atau mungkin karena insektisida diberikan dengan dosis tinggi. Akibatnya banyak dampak negatip yang ditimbulkan diantaranya resistensi hama, resurgensi dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Untuk mengurangi dampak negatip tersebut telah disosialisasikan tentang program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pada program tersebut penggunaan insektisida didasarkan atas ambang kendali 5 larva (kumulatif) instar 3-4 per 10 tanaman contoh, tanpa memperhatikan karakteristik individu larva Plutella. Tujuan dari penelitian ini adalah menduga model daya hama setiap instar larva dan model umum bagi larva secara keseluruhan, mengetahui instar mana yang menimbulkan kerusakan paling besar dan bagaimana cara menentukan instar tersebut di lapang. Berdasarkan diagram pencar kumulatif daya hama, model Logistic dengan 4 parameter A,B,C dan M digunakan untuk memfit data daya hama setiap instar. A adalah limit bawah, B adalah 2 kali laju pertumbuhan relatif, C adalah daya hama potensial dan M adalah saat di mana laju daya hama absolut mencapai maksimum dan pada saat itu larva telah mengkonsumsi 50% dari daya hama potensial. Model Logistic berangkai dengan 16 parameter dibuat untuk menggambarkan model daya hama larva Plutella.Untuk pemulusan model, asimtot atas dari kurva Logistic 1 menjadi asimtot bawah kurva Logistic berikutnya secara berurut sehingga model memiliki 13 parameter. Saat di mana larva mengalami pergantian kulit digunakan sebagai pembatas antar kurva. Metode interpolasi digunakan untuk menduga parameter model tersebut dan uji terhadap kesesuaian model dilakukan dengan melihat sebaran sisaan dan koefisien determinasi serta membandingkannya dengan besaran yang sama pads model linier sederhana. Model Logistic berangkai lebih sesuai dari pada model linier sederhana dan dari model Logistic berangkai diperoleh titik kritis yang terjadi pada 2 hari, 6 hari,l0 hari dan 14 hari berturut-turut untuk instar 1, instar 2, instar 3 dan instar 4. Walaupun data diperoleh dari pengamatan berulang, tetapi pola sebaran sisaan secara grafis menunjukkan kebebasan antar pengamatan sehingga analisis ragam dapat digunakan untuk mengetahui perbedaan daya hama antar instar. Analisis klasifikasi dua arah bagi data daya hama pada kondisi lapang menunjukkan bahwa rata-rata daya hama tertinggi oleh instar 3 tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan rata-rata daya hama instar 2. Rata-rata daya hama tertinggi diperoleh dari pengamatan pagi hari, tidak menunjukan perbedaan yang nyata dengan rata-rata daya hama pada pengamatan siang hari, namun berbeda dengan hasil pengamatan pads sore hari. Artinya kegiatan larva dalam mengkonsumsi daun tidak berbeda pada malam hari dan pagi hari. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penyemprotan insektisida lebih tepat dilakukan pads hari ke 6 dan pada hari ke 10 sejak ditemukan larva yang baru keluar dari jaringan daun. Pada saat tersebut larva berada pads tahap instar 2 dan instar 3, dengan panjang larva tidak lebih dari 7 mm. Model Logistic berangkai yang dihasilkan merupakan gambaran umum tentang daya hama Plutela pada tanaman kubis khususnya yang ditanam pada ketinggian 1500 dpl; diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu unsur dalam PHT yaitu sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam memutuskan saat aplikasi pengendalian kimiawi.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKC KK Dis M. 04/04 War p
Uncontrolled Keywords: Plutella xylostella L., instar, food consumption, Combined Logistic,critical point M, body length
Subjects: Q Science > QD Chemistry > QD1-999 Chemistry
Q Science > QK Botany > QK1-989 Botany
S Agriculture > SB Plant culture > SB1-1110 Plant culture
S Agriculture > SB Plant culture > SB950-990.5 Pest control and treatment of diseases. Plant protection
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Matematika & IPA
Creators:
CreatorsEmail
NI WAYAN SURYA WARDHANI, 090013761 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSusanti Linuwih, Prof.,Dra.,M.Stat.,PhDUNSPECIFIED
ContributorA. Soeparmo, Prof., H., Drs., MScUNSPECIFIED
ContributorGatot Mudjiono, Dr.,IrUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Anisa Septiyo Ningtias
Date Deposited: 04 Jul 2017 16:43
Last Modified: 04 Jul 2017 16:44
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32836
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item