PENGARUH PEMBERIAN EPINEFRIN TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS DAN KADAR TESTOSTERON MENCIT (Mus musculus) : Penelitian Eksperimental Laboratoris

YUNI SUFYANTI ARIEF, 090415425M (2006) PENGARUH PEMBERIAN EPINEFRIN TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS DAN KADAR TESTOSTERON MENCIT (Mus musculus) : Penelitian Eksperimental Laboratoris. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
4.pdf

Download (119kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s2-2008-ariefyunis-6719-tkr0907.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Selama kehidupan manusia selalu dapat mengalami stress. Stres merupakan respon tubuh yang spesifik terhadap stimulus atau stressor baik dari internal maupun eksternal. Bila stress berlanjut terus menerus dan berulang dapat memberikan gangguan pada berbagai sistem tubuh, salah satunya adalah sistem reproduksi. Fungsi gonadal axis dapat berubah di bawah kondisi tertentu seperti stresor fisik, bahan kimia dan psikologis. Stresor ini dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pada poros hipotalamus-hipofisis-testis. Ketidakseimbangan sistem reproduksi yang ditimbulkan dapat berupa gangguan atau supresi spermatogenesis. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya infertil yang reversibel. Stresor fisik, kimiawi, dan psikologis dapat mempengaruhi frekuensi dan amplitudo pulsatif dari Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH). Hal ini penting bagi sekresi Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Selain itu stressor juga dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis (pelepasan norepinefrin) dan respon adrenal (pelepasan epinefrin). Peningkatan kadar epinefrin dan norepinefrin dapat meningkatkan pulsasi GnRH. Bila peningkatan pulsasi ini berlebihan dapat menurunkan dan menghentikan sekresi FSH dan LH. Penurunan FSH dan LH akan menghambat proses spermatogenesis. Epinefrin sebagai salah satu stressor bahan kimia sering digunakan sebagai salah satu terapi, sehingga penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian epinefrin berulang terhadap proses spermatogenesis dan kadar hormon testosteron. Pemberian injeksi subkutan epinefrin dilakukan setiap hari selama 35 hari (selama 1 siklus proses spermatogenesis mencit). Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Variabel yang diperiksa adalah jumlah sel spermatogenik (spermatogonium, spermatosit, dan spermatid oval) dan kadar testosteron. Penelitian ini menggunakan 4 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol (pemberian injeksi subkutan garam fisiologis 0,1 ml), dan 3 kelompok perlakuan berturut-turut adalah , kelompok yang diinjeksi subkutan epinefrin 0,001 mg/20 gr BB, 0,005 mg/20 gr BB, dan 0,01 mg/20 gr BB. Analisis data menggunakan analisis varian satu arah (Anova), uji beda nyata kecil (BNT) 5 %, dan uji Kruskal Wallis. Analisis data terhadap jumlah sel spermatogenik (spermatogonium, spermatosit, dan spermatid oval) serta kadar testosteron dapat digunakan untuk menentukan fertilitas individu. Testis yang diambil disimpan dalam larutan Bouin dan dibuat preparat histologisnya dan kemudian dilakukan pewarnaan hematoxilin eosin. Di bawah mikroskop dihitung jumlah sel spermatogeniknya. Sel spermatogenik ini terdiri dari: spermatogonium, spermatosit, dan spermatid oval. Kadar hormon testosteron diperiksa dengan menggunakan RadiolmmunoAssay (RIA) dengan menggunakan serum darah mencit yang diambil melalui intrakardiak. Hasil penelitian tentang jumlah sel spermatogenik (spermatogonium, spermatosit, dan spermatid oval) menunjukkan bawwa pernaparan epinefrin dengan dosis yang berbeda menunjukkan adanya penurunan jumlah sel spermatogenik yang signifikan. Setelah dilanjutkan dengan uji BNT 5 % didapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada semua kelompok kecuali pasangan kelompok perlakuan yang diinjeksi subkutan epinefrin 0,005 mg/20 gr BB dan 0,01 mg/20 gr BB untuk jumlah spermatogonium, spermatosit, dan pasangan kelompok perlakuan yang diinjeksi subkutan epinefrin 0,001 mg/20 gr BB dan 0,005 mg/20 gr BB dan pasangan kelompok perlakuan yang diinjeksi subkutan epinefrin 0,005 mg/20 gr BB dan 0,01 mg/20 gr BB. Kadar testosteron serum darah mencit tidak menunjukkan penurunan yang nyata. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian epinefrin dengan dosis yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada proses spermatogenesis yang ditunjukkan dengan penurunan jumlah sel spermatogenik namun tidak menyebabkan penurunan kadar testosteron. Perlu dilakukan penelitian serupa untuk beberapa waktu yang berbeda yang disertai dengan pengukuran kadar kortisol maupun FSH dan LH untuk melihat pengaruh lebih lanjut terhadap proses spermatogenesis.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKA KK TKR.09/07 Ari p
Uncontrolled Keywords: Epinephrine, Spermatogonium, Spermatocyte, Spermatid, Testosterone.
Subjects: Q Science > QR Microbiology
Q Science > QR Microbiology > QR75-99.5 Bacteria
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kesehatan Reproduksi
Creators:
CreatorsEmail
YUNI SUFYANTI ARIEF, 090415425MUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorAucky Hinting, Dr. , dr, Sp. And, PhDUNSPECIFIED
ContributorAlfiah Hayati, Dra, M. Kes.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Shela Erlangga Putri
Date Deposited: 2016
Last Modified: 05 Jun 2017 21:52
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/34203
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item