ABORSI STUDI MAKNA ABORSI DISENGAJA PADA PASANGAN USIA SUBUR DI SURABAYA

Juniarsih, 099712736M (2001) ABORSI STUDI MAKNA ABORSI DISENGAJA PADA PASANGAN USIA SUBUR DI SURABAYA. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s2-2008-juniarsih-6492-ts29_07-k.pdf

Download (397kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s2-2008-juniarsih-6492-ts29_07-min.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) bahwa setiap tahun terjadi 40-60 juta kasus aborsi di dunia dan dari jumlah tersebut sekitar 20 juta wanita menjalani aborsi yang tidak aman dan sejumlah 70.000 wanita meninggal serta 1.000 wanita mengalami gangguan kesehatan yang serius, misalnya karena komplikasi (WHO, 1995:1). Data resmi menyebutkan jumlah aborsi secara pasti tidak ditemukan. Hal ini dikarenakan pendataan aborsi bukanlah pekerjaan yang cukup mudah. Faried Moeloek (1996) .dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengakui bahwa data resmi mengenai aborsi memang belum tersedia. Pelaporan lengkap dari rumah sakit juga belum tersedia. Sedangkan sudah menjadi rahasia umum bahwa kasus-kasus aborsi yang ada di rumah sakit merupakan sebagian dari kasus aborsi yang ada di masyarakat. Penelitian ini berusaha untuk mendapatkan jawaban pertanyaan penelitian tentang aborsi disengaja bagi perempuan yang menikah dalam kategori usia subur. Penelitian ini merupakan serangkaian penjelasan proses perempuan status menikah dalam melakukan aborsi. Mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi tindakan tersebut. Menjelaskan pengetahuan dan pandangan serta sikap mereka tentang aborsi dan keluarga berencana dan perundang-undangan yang berkaitan dengan aborsi. Menjelaskan rangkaian paksaan sebelum dan sesudah aborsi oleh dokter atau paramedis. Menjelaskan dampak aborsi terhadap keluarga atau masyarakat. Berdasarkan basil penelitian melakukan aborsi atau pengguguran kandungan bagi pasangan usia subur ditanggapi secara berbeda. Bagi yang pertama kali melakukan merupakan suatu tindakan yang berat dan sulit, sedangkan bagi yang lebih dari sekali melakukannya dianggap sebagai hal yang biasa (tidak perlu dicemaskan). Pada sebagian kelompok masyarakat agama, masih terjadi polemik status aborsi tersebut, diantaranya melakukan aborsi adalah tindakan yang tidak melanggar norma agama saat janin masih kecil, dan sebaliknya, kiret haram pada saat kapan pun. Di lain pihak aborsi juga dibiarkan oleh pemerintah. Alasan yang melatar belakangi tindakan tersebut telah teridentifikasi beberapa faktor yaitu: faktor ekonomi, jarak kelahiran yang terlalu dekat, merasa terlalu tua untuk hamil lagi, dan kegagalan kontrasepsi. Alasan tersebut saling terkait dan saling mendukung. Pemahaman subyek tentang keluarga berencana tidak berbeda jauh dengan pemahaman yang dimiliki masyarakat umumnya, terbukti dengan peserta KB yang semakin meningkat. Meskipun menerima program tersebut sebagai sesuatu yang positif, namun subyek umumnya tidak memakai alat kontrasepsi, dengan berbagai alasan; seperti takut, keburu hamil, istirahat dan lain sebaginya. Sebelum pelaksanaan, antara pasien dan dokter telah membuat kesepakatan yang dibuat oleh dokter/ klinik. Sayangnya semua subyek tidak begitu perhatiaan terhadap isi perjanjian tersebut. Mereka mengaku hanya dua lembar kertas yang harus diisi bio data dan persetujuan untuk ditandatangani. Setelah aborsi tidak semua subyek mendapat perlindungan kontrasepsi, tergantung dari dokter masing-masing. Keadaan ini menjadikan rawan terhadap kehamilan lagi. Dampak aborsi yang mereka rasakan adalah pisik dan psikis. Secara pisik misalnya, rasa mulas dan pusing setelah pelaksanaan, dan secara psikis rasa lega dan sedikit menyesal meskipun perasaan tersebut akan hilang dengan sendirinya karena sudah niat. Berdasarkan hasil analisis teoritik terlihat bahwa, tindakan aborsi yang dilakukan subjek merupakan hasil konstruksi masyarakat, yang disusun dan didefinisikan oleh masing-masing subjek. Proses pendefisian adalah hasil internalisasi konkrit, antara pengetahuan yang dimiliki dengan wacana yang berkembang. Implikasinya, setiap individu memiliki interprestasi yang berbeda, sehingga respon terhadapnya pun berbeda. Meskipun kasusnya sama, sehingga ekspresi yang ditampilkan bervariasi, sesuai dengan pemahamannya masing-masing. Di lain pihak, hasil temuan penelitian juga memperlihatkan, bahwa tindakan yang dilakukan subjek juga tidak semata hasil konstruksi, pada hal tertentu respon masyarakat cenderung memperlihatkan proses aktualisasi diri. Suatu tindakan yang muncul berdasarkan kehendak dirinya, yang dianggapnya benar atau aman meskipun berbeda atau bertentangan dengan budaya dominan. Tindakan sosial seperti ini biasanya diekspresikan manakala akibat dari suatu perbuatan memiliki resiko lebih benar atau fatal, misalnya cacat tubuh atau kematian.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKB KK-2 TS 29/07 Jun s
Uncontrolled Keywords: Aborsi; Pasangan usia subur
Subjects: Q Science > QA Mathematics > QA11-14 Study and Teaching, Research
R Medicine > RG Gynecology and obstetrics > RG1-991 Gynecology and obstetrics > RG500-991 Obstetrics > RG600-650 The embryo and fetus > RG648 Spontaneous abortion. Miscarriage
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana
Creators:
CreatorsEmail
Juniarsih, 099712736MUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorDede Oetomo, Ph.DUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Shela Erlangga Putri
Date Deposited: 2016
Last Modified: 22 Jan 2019 04:21
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/34329
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item