PENGARUH ETANOL DALAM MINUMAN BERALKOHOL PADA KUALITAS SPERMATOZOA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus )

ANIS SATUS SYARIFAH (2007) PENGARUH ETANOL DALAM MINUMAN BERALKOHOL PADA KUALITAS SPERMATOZOA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus ). Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s2-2008-syarifahan-6726-tkr11_0-k.pdf

Download (498kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penyalahgunaan minuman beralkohol (mengandung etanoI) dapat mempengaruhi fungsi gonad. Melalui pengaruhnya terhadap hipotalamus dan hipofise anterior yang mengakibatkan penurunan produksi testosteron sebagai akibat dari penurunan LH dan FSH. Etanol dan metabolitnya asetaldehid dan asetat, juga akan menurunkan produksi testosteron melalui sel Leydig dan melalui depresi reseptor LH testikuler dan peningkatan clearance testosteron hepatik. Etanol meningkatkan sex hormone-binding globulin (SHBG) sirkulasi. Sehingga konsumsi minuman beralkohol akan menurunkan kadar testosteron. Penurunan kadar testosteron akan menyebabkan penurunan spermatogenesis sehingga akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas spermatozoa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah etanol dalam minuman beralkohol dapat mempengaruhi kualitas spermatozoa tikus putih (Rattus norvegicus). Kualitas spermatozoa yang diamati adalah motilitas spermatozoa dan morfologi spermatozoa normal tikus putih (Rattus norvegicus). Penelitian ini tergolong penelitian eksperimen laboratoris, jenis rancangan post test dengan kelompok eksperimen dan kontrol (post test only control group design). Sebanyak 40 ekor tikes putih (Rattus norvegicus) dibagi secara acak menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 ekor. Kelompok kontrol diberikan aquabides 6 ml / hari melalui sonde. Kelompok etanol 15 % diberikan etanol per sonde dengan dosis masing-masing 0,72 gram/200 gram BB tikus putih/hari setara dengan 6 ml etanol 15%/200 gram BB tikus putih/hari. Kelompok etanol 30 % diberikan etanol per sonde dengan dosis masing-masing 1,44 gram/200 gram BB tikus putih/hari setara dengan 6 ml etanol 30%/200 gram BB tikus putih/hari. Kelompok etanol 45 % diberikan etanol per sonde dengan dosis masing-masing 2,16 gram/200 gram BB tikus putih/hari setara dengan 6 ml etanol 45%/200 gram BB tikus putihlhari. Pemberian perlakuan tersebut diberikan 2 kali sehari masing-masing setengah dari dosis tersebut. Pemberian perlakuan dilaksanakan selama 30 hari setiap jam 06.30 dan jam 17.00 wib. Sebelum aid-fir penelitian 2 ekor tikes putih (Rattus norvegicus) kelompok etanol 30 % dan 4 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) kelompok etanol 45 % mengalami kematian. Sehingga terdapat perbedaan motilitas spermatozoa tikus putih (Rattus norvegicus) yang bermakna antar kelompok. Dari hasil uji LSD terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok etanol 15 % (p = 0,000), dengan kelompok etanol 30 % (p = 0,000) dan dengan kelompok etanol 45 % (p = 0,000). Kelompok etanol 15 % juga berbeda secara bermakna dengan kelompok etanol 30 % (p = 0,000) dan dengan kelompok etanol 45 % (p = 0,000). Kelompok etanol 30 % juga berbeda secara bermakna dengan kelompok etanol 45 % (p = 0,000). Hasil uji korelasi dengan Korelasi Rho Spearman terdapat hubungan yang bermakna antara konsentrasi etanol dalam minuman beralkohol dengan motilitas spermatozoa tikus putih (Rattus norvegicus) (r = - 0,955, p = 0,000). Sehingga semakin tinggi konsentrasi etanol yang diberikan menyebabkan semakin terjadi penurunan motilitas spermatozoa tikus putih (Rattus norvegicus). Rerata morfologi spermatozoa normal tikus putih (Rattus norvegicus) kelompok kontrol, etanol 15 %, etanol 30 % dan kelompok etanol 45 % adalah 92,58 ± 0,82 %; 85,25 ± 0,75 %; 62,09 ± 3,14; 19,10 ± 2,00 %. Hasil uji beda dengan Kruskal-Wallis Test didapatkan p = 0,000 sehingga terdapat perbedaan secara bermakna morfologi spermatozoa tikus putih (Rattus norvegicus) antar kelompok. Hasil uji Mann-Whitney didapatkan perbedaan morfologi spermatozoa normal secara bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok etanol 15 % (p = 0,000); dengan kelompok etanol 30 % (p = 0,000) dan dengan kelompok etanol 45 % (p = 0,001). Juga berbeda secara bermakna antara kelompok etanol 15 % dengan kelompok etanol 30 % (p = 0,000) dan dengan kelompok etanol 45 % (p = 0,001). Kelompok etanol 30 % juga berbeda secara bermakna dengan kelompok etanol 45 % (p = 0,002). Hasil uji korelasi dengan Korelasi Rho Spearman terdapat hubungan yang bermakna antara konsentrasi etanol dalam minuman beralkohol dengan morfologi spermatozoa normal tikus putih (Rattus norvegicus) (r = - 0,965, p = 0,000). Sehingga semakin tinggi konsentrasi etanol yang diberikan menyebabkan semakin terjadi penurunan morfologi spermatozoa normal tikus putih (Rattus norvegicus). Dengan demikian minuman beralkohol (mengandung etanol) dapat menyebabkan penurunan motilitas spermatozoa dan morfologi spermatozoa normal tikus putih (Rattus norvegicus) serta semakin tinggi konsentrasi etanol akan menyebabkan penurunan motilitas spermatozoa dan morfologi spermatozoa normal tikus putih (Rattus norvegicus) semakin besar pula.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKA KK TKR 11/07 Sya p FULLTEXT TIDAK TERSEDIA
Uncontrolled Keywords: Ethanol, spermatozoa motility and morphology
Subjects: K Law > K Law (General) > K1-7720 Law in general. Comparative and uniform law. Jurisprudence > K(520)-5582 Comparative law. International uniform law > K3651-3654 Alcohol. Alcoholic beverages
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
ANIS SATUS SYARIFAHUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorBambang Poernomo S., -UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Husnul Khotimah
Date Deposited: 2016
Last Modified: 15 Oct 2016 04:32
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/34568
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item