Penggunaan Spiritual Emotional Freedom Technique Untuk Mengurangi Emosi Negatif Pada Penderita Schizophrenia Paranoid Pasca Rawat Inap

ARI YUDHA KARTIKA, 090610529M (2008) Penggunaan Spiritual Emotional Freedom Technique Untuk Mengurangi Emosi Negatif Pada Penderita Schizophrenia Paranoid Pasca Rawat Inap. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s2-2010-indrijatih-11394-tpsi03--u.pdf

Download (425kB)
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s2-2009-kartikaari-9398-t.psi05-8.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Gangguan jiwa selalu membawakan sisa, yakni berupa kekambuhan. Dari beberapa literatur mengutarakan bahwa gangguan jiwa, khususnya yang sudah tergolong berat, seperti schizophrenia, memang memiliki tingkat kesembuhan total hanya sebesar 25 % dari populasi. Sementara itu, diseluruh dunia, mengacu pada prediksi WHO hampir 1 % dari populasi terkena gangguan jiwa. Penderita gangguan jiwa akhirnya memang terpisah, baik memisahkan diri atau justru dipisahkan dengan lingkungan karena terputusnya kesadaran dengan realita. Terapi yang dilakukan sejauh ini banyak tergantung pada pendekatan psikofarmaka, yang memang telah teruji secara klinis mampu menekan gejala schizophrenia, namun obat-obatan itu tidaklah menyembuhkan, karena itu diperlukan penanganan yang menyeluruh. Terapi holistik mencakup aspek psikofarmaka, psikoterapi, terapi psikososial dan terapi psikoreligi. Karena dimensi kehidupan manusia memang tidak akan pernah terlepas dari unsur-unsur tersebut. Diagnosis Schizophrenia Paranoid ditegakkan hingga Subyek keluar dari RSAL. Schizophrenia Paranoid yang diderita Subyek, memiliki ciri adanya waham kejar, halusianasi suara dan gangguan afektif. Penggalian data diperoleh melalui asesmen yaitu observasi, wawancara dan tes psikologi berupa ART, SSCT, Eysenk III, Grafis. Pelaksanaan program intervensi dilakukan sebanyak 4 sesi. Satu Tahap Persiapan, agar Subyek dapat lebih kooperatif mengerjakan asesmen dan 3 tahap lainnya adalah Intervensi. Setiap sesi intervensi telah disusun program dan target yang ingin dicapai. Intervensi yang diberikan berupa SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Hasil dari penerapan program ini menunjukkan bahwa SEFT cukup efektif untuk mengurangi emosi negatif yang muncul, dengan asumsi akan menurunkan peluang kekambuhan. Hanya dalam satu kali sesi terapi, emosi negatif subyek dapat berkurang dan mampu bekerja sama mengerjakan asesmen. Hingga sesi terakhir terapi SEFT, semakin terlihat efektifitasnya dalam menghilangkan emosi negatif subyek. SEFT mudah dalam pelaksanaannya, bisa dilakukan sendiri oleh subyek, tidak perlu bergantung kepada terapis, tidak perlu membuka dan menelusuri kembali pengalaman traumatis, tidak membutuhkan biaya yang mahal dibandingkan bentuk terapi konvensional lainnya. Saran yang bisa diberikan adalah mengajak subyek agar mampu melaksanakan self SEFT untuk menurunkan emosi negatifnya. Untuk terapis lain diharapkan lebih terbuka pada perkembangan ilmu, seperti SEFT. Sedangkan untuk lembaga kedinasan Subyek agar mampu menerapkan kebijakan terkait dengan keterbatasan fisik maupun mental anggota, dengan mencari kelebihan-kelebihan yang ada.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKB KK-2 Psi 05/08 Kar p
Uncontrolled Keywords: Gangguan jiwa
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology > BF511-593 Emotion, Feeling, Affection
B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology > BF698-698.9 Personality
Divisions: 11. Fakultas Psikologi > Psikologi Klinis
Creators:
CreatorsEmail
ARI YUDHA KARTIKA, 090610529MUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorEndang Ekowarni, Prof. DR.UNSPECIFIED
ContributorWoelan Handadari, Dra,. M.Si.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Husnul Khotimah
Date Deposited: 2016
Last Modified: 07 Feb 2019 04:33
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/34655
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item