PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AKAR PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack) PER ORAL TERHADAP JUMLAH SEL SPERMATOGENIK, SEL SERTOLI DAN SEL LEYDIG PADA MENCIT (Mus musculus) JANTAN STRAIN SWISS : Penelitian eksperimentallaboratoris.

Lena Rosida, 090014148M (2003) PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AKAR PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack) PER ORAL TERHADAP JUMLAH SEL SPERMATOGENIK, SEL SERTOLI DAN SEL LEYDIG PADA MENCIT (Mus musculus) JANTAN STRAIN SWISS : Penelitian eksperimentallaboratoris. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
jiptunair-gdl-s2-2003-rosida-695-eurycoma-tkd_16-03.pdf

Download (166kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
jiptunair-gdl-s2-2003-rosida-695-eurycoma-tkd_16-03.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pasak Bumi adalah salah satu Ghat tradisional yang populer di kalangan pria dan digunakan untuk meningkatkan potensi seksual. Penelitian di tingkat hewan coba telah berhasil membuktikan bahwa ekstrak akar Pasak Bumi dapat meningkatkan libido (efek afrodisiak), hormon testosteron, FSH dan LH. Peningkatan ketiga hormon ini akan mempengaruhi jaringan testis. Sementara itu, penelitian pengaruh ekstrak akar Pasak Bumi terhadap jaringan testis belum pernah diteliti. Dari tinjauan di atas, maka dilakukan penelitian pengaruh pemberian ekstrak akar Pasak Bumi terhadap jumlah gel spermatogenik, gel Sertoli dan gel Leydig pada testis mencit. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian Randomized Severate Sample Pretest Postest Control Group Design. Sampel penelitian adalah mencit dewasa (sexual mature) yang dibagi menjadi 6 kelompok dengan besar sampel 8 ekor. K 1 : kelompok kontrol yang datanya diambil sebelum perlakuan, K2 : diberi aquaedst 0,5 ml/hari, P1 : diberi ekstrak metanol akar Pasak Bumi 200 mg/kgBB/hari, P2 : diberi ekstrak metanol akar Pasak Bumi 500 mg/kgBB/hari, P3 : diberi ekstrak kloroform akar Pasak Bumi 200 mg/kgBb/hari, dan P4 : diberi ekstrak kloroform akar Pasak Bumi 500 mg/kgBB/hari. Perlakuan diberikan secara oral selama 52 hari. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian ekstrak metanol dan ekstrak kloroform akar Pasak Bumi dapat meningkatkan jumlah sel spermatogenik, sel Sertoli clan sel Leydig; pada dosis 500 mg/kgBB/hari peningkatan jumlah sel spermatogenik, sel Sertoli dan sel Lyedig lebih tinggi dari 200 mg/kgBB/hari; perbedaan jenis pelarut akan berpengaruh terhadap peningkalan jumlah sel spermatogenik, sel Sertoli clan sel Leydig. Setelah 52 hari perlakuan, testis kiri masing-masing mencit diambil untuk dibuat preparat histologis metode parafin dan diwarnai dengan PAS. Untuk jumlah sel spermatogenik dan sel Sertoli, data diambil dari 10 tubulus seminiferus yang terpotong melintang, sedangkan jumlah sel Leydig dihitung dari 10 jaringan interstitial masing-masing sampel. Data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan analisis varian (Anova) pada &amp;#945;.= 0,05. perhitungan dibantu dengan sistem komputer SPSS for Windows. Dari hasil penelitian didapatkan jumlah sel spermatogenik, sel Sertoli dan sel Leydig pada kelompok K2 menurun dibandingkan dengan Kl. Ini karena data pengataman diambil tidak bersamaan, selang 52 hari. Pada penelitian ini juga berhasil dibuktikan bahwa terdapat pengaruh perbedaan perlakuan yang bermakna (p&lt;0,05) terhadap jumlah sel spermatogenik, sel Sertoli clan sel Leydig. Ini berarti pemberian ekstrak metanol dan kloroform akar Pasak Bumi dapat meningkatkan jumlah sel spermatogenik, sel Sertoli dan sel Leydig bila dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan jumlah sel spermatogenik, sel Sertoli dan sel Leydig pada penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh karena ekstrak akar Pasak Bumi dapat meningkatkan hormon testosteron, FSH dan LH (Taufiqurrahman dan Wibowo, 2000). Ketiga hormone ini diperlukan untuk memacu proses spermatogenesis baik secara kuantitatif maupun kualitatif (Wuryantari dan Moeloek, 2000). Peningkatan proses spermatogenesis pada penelitian ini tidak hanya di tingkat mitosis tetapi juga di tingkat meiosis. Ini terbukti dari meningkatnya jumlah spermatosit primer dan spermatid. Hal ini sesuai dengan Bloom dan Fawcett (1994), Niederberger dari Lamb (1997) yang mengatakan bahwa pada spermatogenesis terjadi proliferasi mitotik dari diferensiasi spermatogonia menjadi spermatosit dari pembelahan meiotik spermatosit menjadi spermatid. Pengaruh ekstrak akar Pasak Bumi pada peningkatan jumlah sel Sertoli kemungkinan melalui aksi FSH. FSH dapat memacu poliferasi sel Sertoli pada masa pra dan pasca natal (Hadley, 1992). FSH berikatan dengan reseptor FSH spesifik yang melekat pada sel Sertoli dan menyebabkan sel tumbuh dari mensekresi berbagai unsur spermatogenik (Guyton dan Hall, 1996; Tripp dan Lamb, 1997). Hal ini juga ditunjang oleh penelitian Berndtson dan Thompson (1990) yang menyimpulkan bahwa makin besar ukuran testis dan makin cepat spermatogenesis maka jumlah sel Sertoli juga meningkat. Peningkatan jumlah sel Leydig kemungkinan melalui aksi FSH dan LH. Dengan rangsangan LH, sel progenitor mengalami proliferasi dan diferensiasi menjadi sel Leydig sehingga jumlah sel Leydig bertambah (Hardy dan Zirkin, 1997). Peran FSH pada diferensiasi sel Leydig dilakukan secara tidak langsung, melalui sistem pengaturan lokal parakrin. Rangsangan FSH menyebabkan sel Sertoli mensekresi beberapa substansi seperti insulin-like growth factor 1, transforming growth factor (TGF)&amp;#945;:, TGF&amp;#946;, dan interleukin 1 yang diperlukan oleh sel spermatogenik tapi juga merangsang pertumbuhan dan fungsi sel Leydig (Hardy dan Zirkin, 1997; Tripp dan Lamb, 1997). Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa untuk ekstrak metanol, peningkatan sel spermatogenik, sel Sertoli dan sel Leydig lebih poten pada dosis 200 mg/kgBB/hari dibandingkan dengan dosis 500 mg/kgBB/hari. Namun sebaliknya, pada ekstrak kloroform dosis 500 mg/kgBB/hari lebih poten dari dosis 200 mg/kgBB/hari. Jika dilihat dari jenis ekstrak, maka ekstrak kloroform lebih poten dalam meningkatkan ketiga jenis sel di atas dibandingkan dengan ekstrak metanol Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh perbedaan zat aktif yang berhasil disari oleh masing-masing ekstrak. Ekstrak metanol menggunakan pelarut metanol yang bersifat polar sehingga senyawa yang terkandung dalam ekstrak ini adalah senyawa yang bersifat polar, sedangkan ekstrak kloroform menggunakan. pelarut kloroform yang bersifat non polar sehingga senyawa yang terkandung dalam ekstrak ini adalah senyawa yang bersifat non polar (Padmawinata, 2000). </description

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKA KK TKD 16/03 Ros p
Uncontrolled Keywords: Pasak Bumi root, methanol extract, chloroform extract, spermatogenic cells, Sertoli cells, Leydig cells.
Subjects: K Law > K Law (General) > K1-7720 Law in general. Comparative and uniform law. Jurisprudence > K85-89 Legal research
T Technology > T Technology (General) > T175-178 Industrial research. Research and development
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana
Creators:
CreatorsEmail
Lena Rosida, 090014148MUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorH.Ari Gunawan,, Prof.,Dr.,dr.,MS,Ph.DUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Shela Erlangga Putri
Date Deposited: 2016
Last Modified: 18 Jun 2017 18:06
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/34882
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item