STRATEGI PENANGGULANGAN MASALAH GIZI LEBIH DI KOTA SURABAYA

Elyma Yoga Wijayahadi (2002) STRATEGI PENANGGULANGAN MASALAH GIZI LEBIH DI KOTA SURABAYA. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
9.pdf

Download (260kB) | Preview
[img]
Preview
Text (HALAMAN DEPAN)
jiptunair-gdl-s2-2003-wijayahadi2c-723-gizi-tka_10-03-HLM.pdf

Download (366kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
jiptunair-gdl-s2-2003-wijayahadi2c-723-gizi-tka_10-03-FULL.pdf

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text (LAMPIRAN)
jiptunair-gdl-s2-2003-wijayahadi2c-723-gizi-tka_10-03-LAMP.pdf

Download (528kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Masalah gizi utama di Indonesia sekarang adalah Kurang Energi Protein KEP, Anemia, Kekurangan Vitamin A (KV A), dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan gizi lebih. Selain masalah gizi kurang masih harus diperhatikan, masalah gizi lebih pun sudah meningkat dlan harus diperhatikan juga. Di Surabaya, masalahnya adalah gizi lebih yang prevalensinya lebih tinggi, pada survey pendahuluan prevalensi gizi lebih pada beberapa Puskesmas sebesar 16,41 %, lebih tinggi dari normatifnya (kurang dari 5%). Mengingat bahwa Surabaya adalah kota kedua terbesar kedua setelah Jakarta, masalah gizi lebih serta penyakit yang diakibatkannya sudah menjadi masalah yang harus segera ditangani. Hal ini perlu diteliti dan harus dipikirkan pula bagaimana strategi penanggulangannya. Penelitian ini dilakukan di kota Surabaya pada tahun 2001, Tujuan penelitian ini adalah mengukur prevalensi gizi lebih (umur lebih dari 40 tahun), menganalisis faktor yang dominan dari faktor masyarakat yang meliputi sosio demografi (umur, jenis kelamin, pendidikan), sosio ekonomi (pengeluaran keluarga, pengeluaran untuk makan), sosio psikologi (persepsi sehat sakit terhadap gizi lebih), perilaku (aktivitas gerak, pola makan), genetika (riwayat penyakit yang diderita, riwayat penyakit orang tua) yang menjadi penyebab masalah gizi lebih, menganalisis faktor yang dominan dari faktor provider (pelayanan kesehatan) yang meliputi jenis tenaga pelaksana gizi, pengetahuan dan ketrampilan tenaga pelaksan gizi dalam penanganan gizi lebih, sarana dan prasarana untuk program gizi lebih, penerapan manajemen program gizi lebih (perencanaan program gizi lebih, pelaksana program gizi lebih), pemberdayaan karyawan dan pemberdayaan masyarakat, dalam pelayanan kesehatan lain (rumah sakit, dokter praktek. swasta, praktek ahli gizi) yang menjadi masalah gizi lebih dan menyusun strategi penanggulangan masalah gizi lebih di Kota Surabaya. Penelitian adalah analitik yang dilakukan secara cross sectional. Dalam pelaksanaannya menggunakan survei dengan wawancara dan kuesioner sebagai pengurnpul data. Selain itu peneliti juga menggunakan data sekunder. Sampel dalam penelitian ini yaitu pertama, individu dari masyarakat yang berurnur &gt; 40 tahun., yang tidak sakit dan tidak hamil dalam 30 cluster terpilih. Kedua, Puskesmas di kota Surabaya dengan responden Kepala Puskesmas dan tenaga pelaksana gizi sebanyak 30 Puskesmas dimana cluster terpilih berada dan sampel ketiga 7 Rurnah Sakit, 12 orang Dokter Praktek Swasta, 38 Orang Mahasiswa Akademi Gizi Surabaya, dan 2 pusat kebugaran. Hasil penelitian didapat prevalensi gizi lebih sebesar 43,6%. Gizi lebih pada perempuan sebesar 48,1%, lebih banyak dari pada laki-laki yaitu 32% (p=O,OO267,a=O,05). Faktor dominan dari masyarakat yang menjadi penyebab gizi lebih adalah kurangnya aktivitas gerak yang meliputi aktivitas olah raga dan aktivitas pekerjaan; pola makan yang salah, dimana pola makanan utama sudah balk, dengan kebiasaan makan yang buruk (kebiasaan suka jajan, kebiasaan ngemil, makanan beli, dan sindroma makan malam) akan menyebabkan gizi lebih. Faktor sosio psikologi, persepsi sehar sakit yang salah menyebabkan gizi lebih juga; prevalensi gizi lebih; faktor jenis kelamin, prevalensi gizi lebih pada perempuan lebih besar daripada prevalensi gizi lebih pada laki-laki; faktor umur, dimulai dari umur &gt;40-50 tahun, pada kelompok makin tua prevalensi gizi lebih makin menurun; faktor sosial ekonomi, gizi lebih terjadi pada golongan dengan pengeluaran keluarga yang tinggi, dan pada pengeluaran keluarga untuk makan yang cukup besar; riwayat penyakit orang tua; pendidikan, gizi lebih banyak terjadi pada golongan pendidikan rendah. Faktor dominan dari provider (pelayanan kesehatan) di Puskesmas yang menjadi penyebab masalah gizi lebih adalah kurangnya perencanaan program gizi lebih di Puskesmas; kurangnya pengetahuan dan ketrampilan pelaksana gizi di Puskesmas; kurangnya pemberdayaan masyarakat; kurangnya penilaian, pengawasan dan pengendalian program gizi di Puskesmas. Menyusun strategi penanggulangan masalah gizi lebih dengan memperhatikan isu strategis, visi misi program Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan melaksanakan Focus Group Discussion untuk mendapat masukan mengenai strategi penanggulangan masalah gizi lebih. Rekomendasi strategi penanggulangan masalah gizi lebih sebagai berikut: a. Strategi promotif dan preventif yaitu sosialisaasi dan advokasi program gizi lebih kepada Dinas lintas sektor terkait, serta kepada seluruh jajaran kesehatan dan masyarakat; Gerakan Sadar Pangan dan Gizi, Gerakan sadar pangan dan gizi mengajak semua masyarakat untuk mengubah pola makan yang salah menjadi pola makan yang benar, mengerti bagaimana perilaku gizi yang benar, mengenal status gizinya sendiri, mengenal potensi keluarga untuk dapat menanggulangi masalah gizinya sendiri (baik gizi kurang maupun lebih) dan tabu kemana atau bilamana ia harus mencari pertolongan untuk pelayanan gizi lebih. b. Strategi kuratif yaitu meningkatkan status gizi individu, keluarga dan masyarakat dengan menurunkan masalah gizi lebih, memberikan pelayanan kesehatan pada individu , keluarga dan masyarakat agar sadar bahwa gizi lebih adalah penyakit dan harus segera ditangani dengan segera agar tidak menjadi komplikasi penyakit degeneratif, meningkatkan mutu dan profesionalisme dalam penanganan gizi lebih, meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dengan memberikan pelayanan yang profesional, sesuai dengan standar dan pemberi pelayanan yang profesional (dokter, pelaksana gizi yang sudah terlatih), waktu pelayanan pagi dan sore hari seperti harapan masyarakat. Memberikan pelayanan kesehatan untuk gizi lebih secara menyeluru, yang meliputi konseling diet, pengobatan medis, pelatihan kebugaran, penanganan masalah gizi lebih secara terpadu, melayani pasien gizi lebih dengan cara kerja sama tim (team work). Untuk pelayanan gizi lebih, meliputi tenaga medis (dokter) , paramedis (bidan atau perawat), Ahli gizi (01 ,03, atau S 1 Gizi), spesialis kebugaran, psikolog atau psikiater. </description

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKC KK TKA 10/03 Wij s
Uncontrolled Keywords: Overweight problem; Dominant factors; Management and control.
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine > RA601-602 Food and food supply in relation to public health
T Technology > TS Manufactures > TS156 Quality control and management
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana
Creators:
CreatorsEmail
Elyma Yoga WijayahadiUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorStefanus Supriyanto, Dr.,dr.,MSUNSPECIFIED
ContributorR.Bambang Wirjatmadi, Prof.,MS.,MCN.,PhDUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Shela Erlangga Putri
Date Deposited: 2016
Last Modified: 25 Jun 2019 00:47
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/34899
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item