PENGINDERAAN DINI TERJADINYA KLB DIARE DENGAN MENGGUNAKAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI DI KABUPATEN BANJAR

Supaat Setia Hadi, 090110288 (2003) PENGINDERAAN DINI TERJADINYA KLB DIARE DENGAN MENGGUNAKAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI DI KABUPATEN BANJAR. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
jiptunair-gdl-s2-2004-hadisupaat-1258-09011028-l ABSTRAK.pdf

Download (373kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Fulltext)
35292.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Di Kalimantan Selatan jumlah kesakitan diare mencapai 37.854 kasus dan di Kabupaten Banjar 8.002 kasus pada tahun 2002. Selama 3 tahun terakhir Kabupaten Banjar berturut-turut mengalami KLB diare dan selalu merenggut korban iiwa. Pada KLB tahun 2002 jumlah kasus mencapai 180 dan 3 diantaranya meninggal dunia ( CPR = 0,028). Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian mengenai penginderaan dini sehingga kemungkinan meningkatnya kasus diare dimasa mendatang dapat dideteksi sedini mungkin. Tuiuan penelitian ini adalah untuk menemukan komponen dominan dari sistem surveilans penyakit diare yang bisa digunakan sebagai alat penginderaan dini KLB diare di Kabupaten Banjar. Prosedur pelaksanaan penelitian ini meliputi 2 tahap yaitu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan surveilans penyakit diare di puskesmas dan menganalisis kecenderungan kasus dan menghubungkannya dengan variabel curah hujan selama 5 tahun. Hasil evaluasi terhadap aspek penunjang surveilans menuniukkan bahwa aspek tenaga pelaksana 70% petugas surveilans bekerja di surveilans kurang dari 1 tahun. 20% yang pernah dilatih mengenai surveilans dan100% petugas merangkap tugas lain di luar surveilans. Aspek sarana dan dana menunjukkan 90% puskesmas belum memiliki alat radio komunikasi. 50% belum memiliki kendaraan untuk kegiatan surveilans dan 90% menyatakan tidak ada dana operasional surveilans. Hasil evaluasi pelaksanaan surveilans penyakit diare menunjukkan proses pengumpulan data surveilans 100% puskesmas telah mencatat kasus diare pada register rawat jalan dengan lengkap, 60% di ruang KIA dan 55% di ruang gizi memiliki buku Bantu pencatatan kasus diare. 80% puskesmas memiliki buku bantu rujukan kader. 40% merekap setiap hari melalui SHP dan 20% melaksanakan pelacakan kasus secara aktif. Pengolahan data, 55% telah membuat grafik bulanan penyakit diare, 10% membuat peta desa rawan diare dan peta SAB dan 0% yang! memiliki data curah hujan. Analisis data, 30% petugas surveilans sudah menganalisis kasus menurut orang, tempat dan waktu, 25% sudah menganalisis peningkatan kasus pada bulan-bulan tertentu, 10% yang menghubungkannya dengan musim dan 0% yang menghubungkan kasus dengan adanva kegiatan umum. Hasil uji Chi Square mengenai pengalaman. lulusan dan pelatihan petugas surveilans Puskesmas menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan mengenai pelaksanaan surveilans antara petugas yang berpengalaman diatas 1 tahun dan yang kurang dari satu tahun. tidak terdapat perbedaan antara petugas yang berasal dari sanitarian maupun dari paramedis dan juga tidak terdapat perbedaan antara petugas yang telah dilatih surveilans dengan petugas yang belum pernah dilatih surveilans. Hasil uji Exact Fisher antara puskesmas terpencil dan yang tidak terpencil menuniukkan secara umum pelaksanaan surveilans di puskesmas di Kabupaten Banjar tergolong masih kurang dan tidak terdapat perbedaan bermakna pelaksanaan surveilans penyakit diare antara puskesmas-puskesmas terpencil dan puskesmas-puskesmas perkotaan (tidak terpencil). Hasil analisis terhadap data surveilans penyakit diare periode 1998-2002 menunjukkan bahwa kecenderungan kasus meningkat pada bulan-bulan Maret sampai dengan Mei dan Bulan September sampai dengan Oktober. Di tingkat kecamatan terdapat beberapa daerah terutama Martapura- Simpang Empat, Karang Intan dan Aluh-Aluh yang memiliki potensial untuk terjadi KLB diare di kemudian hari mengingat keempat kecamatan tersebut kasus diarenya selalu mengalami fluktuasi dari peningkatan dari waktu ke waktu. Kesimpulan yang bisa diambil pada penelitian ini adalah pelaksanaan surveilans penyakit diare di Kabupaten Banjar masih lemah terutama komponen pengolahan dan analisis data dan dari hasil analisis data penyakit diare periode 1998 - 2002 diketahui bahwa komponen analisis data merupakan komponen yang penting dan harus dilaksanakan di dalam sebuah surveilans sehingga Kabupaten Banjar mampu mendeteksi dini terhadap ancaman KLB diare di daerahnya. </description

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKC KK TKM.11/04 Had p
Uncontrolled Keywords: Early warning, Surveillance system, Diarrhea case
Subjects: R Medicine > R Medicine (General) > R735-854 Medical education. Medical schools. Research
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kesehatan Masyarakat
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Supaat Setia Hadi, 090110288UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSunarjo, Dr. dr., MS., MScUNSPECIFIED
ContributorBudiono, dr.,MKesUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Andalika ilmianti
Date Deposited: 2016
Last Modified: 07 Jun 2017 21:34
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/35292
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item