Hubungan Pemaparan Pestisida dengan Gangguan Kesehatan pada Petani Penyemprot Bawang Merah di Kelurahan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur

Budiono (2005) Hubungan Pemaparan Pestisida dengan Gangguan Kesehatan pada Petani Penyemprot Bawang Merah di Kelurahan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK1.pdf

Download (115kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Gangguan kesehatan yang banyak diderita para petani karena penggunaan pestisida adalah adanya keracunan pestisida. Angka kejadian keracunan pestisida di beberapa daerah di Indonesia adalah tinggi. Berdasarkan hasil pemantauan cholinesterase darah terhadap 347 pekerja di bidang pertanian dan pembuatan pestisida di Jawa Tengah, ditemukan 23,64 % pekerja keracunan sedang dan 35,73 % keracunan berat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1989 melaporkan bahwa di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah telah terjadi kasus keracunan pestisida sebesar 42,2 % (Hanifa,1997). Di Kabupaten Cianjur pada tahun 1995, didapatkan 41,10 % petani mengalami keracunan dengan 31,5 % termasuk keracunan ringan dan 9,60 % keracunan sedang.(Raini, 1999). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemaparan pestisida dari jenis fungisida tehadap gangguan kesehatan pada petani penyemprot bawang merah di Kelurahan Panekan, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Pemaparan fungisida dalam penelitian ini meliputi faktor-faktor pemaparan antara lain penggunaan alat pelindung diri, mandi setelah melakukan penyemprotan, mengganti pakaian setelah menyemprot, merokok saat menyemprot, lama menjadi petani penyemprot, luas lahan yang disemprot, lama melakukan penyemprotan, dosis fungisida yang digunakan untuk menyemprot bawang merah. Gangguan kesehatan meliputi penurunan kadar cholinesterase darah sebelum dan setelah penyemprotan bawang merah termasuk dilakukan identifikasi terhadap gejala dan keluhan keracunan fungsida sebelum dan setelah penyemprotan bawang merah,. Rancangan dalam penelitian ini adalah longitudinal dengan jumlah sampel sebesar 34 petani penyemprot bawang merah di Kelurahan Panekan, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan kadar serum glutamat piruvat transaminase (SGPT), kadar cholinesterase darah, wawancara terhadap gejala dan keluhan keracunan fungisida, kelengkapan pemakaian alat pelindung diri, mandi setelah menyemprot, mengganti pakaian setelah menyemprot, merokok saat menyemprot, pemakaian obat nyamuk semprot, jenis dan formulasi pestisida yang digunakan, lama menjadi petani penyemprot, luas lahan disemprot, lama melakukan penyemprotan, dosis semprot. Analisa data pada penelitian ini digunakan beberapa uji statistik yaitu uji komparasi dan uji asosiasi dengan tarafsignifikansi (α)=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka keracunan pada petani penyemprot bawang merah sebesar 11 Qrang (32,35 %). Hasil uji Wilcoxon match -paired test didapatkan ada perbedaan gejala dan keluhan keracunan sebelum dan setelah penyemprotan bawang merah dengan p=O,033. Hasil uji paired t-test didapatkan perbedaan rata-rata kadar cholinesterase darah sebelum dan setelah penyemprotan bawang merah dengan p=0,000. Hasil uji regresi linier ganda didapatkan pemakaian alat pelindung diri, mengganti pakaian setelah menyemprot dan lama melakukan penyemprotan secara bersama-sama mempengaruhi penurunan kadar cholinesterase sebelum dan setelah penyemprotan bawang merah dengan nilai probabilitas masing-masing p=0,003 ; p=0,000 dan p=0,007. Dapat disimpulkan ada perbedaan gejala dan keluhan keracunan pestisida sebelum dan setelah penyemprotan bawang merah, ada rata-rata perbedaan kadar cholinesterase darah sebelum dan setelah penyemprotan bawang merah pemakaian alat pelindung diri, mengganti pakaian setelah menyemprot dan lama menyemprot secara bersama-sama berpengaruh terhadap penurunan kadar cholinesterase darah. Mandi setelah menyemprot, merokok saat menyemprot, lama menjadi petani penyemprot, luas lahan disemprot, dosis semprot secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap penunman kadar cholinestearse darah petani penyemprot bawang merah. Juga tidak didapatkan adanya pengaruh antara pemakaian obat nyamuk semprot dan kadar SGPT terhadap penurunan cholinesterase darah. Dengan hasil penelitian di atas kepada pihak Puskesmas atau Dinas Kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya kesehatan dan memantau kadar cholinesterase darah secara berkala 1 bulan sekali akibat penggunaan pestisida. Kepada pihak Dinas Pertanian diharapkan bersedia memberikan bimbingan teknis terhadap pentingnya penggunaan alat pelindung diri dan kebersihan perorangan sehingga pemaparan terhadap fungisida dapat dicegah.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKC KK TKM.02/05 Bud h (FULLTEXT DAN ABSTRAK TIDAK ADA)
Uncontrolled Keywords: Pesticide, Health disorder.
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA1190-1270 Toxicology. Poisons
R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine > RA565-600 Environmental health
S Agriculture > SB Plant culture > SB950-990.5 Pest control and treatment of diseases. Plant protection
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kesehatan Masyarakat
Creators:
CreatorsNIM
BudionoUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorSoedibjo HPUNSPECIFIED
Thesis advisorM RachimoellahUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Joko Iskandar
Date Deposited: 2016
Last Modified: 11 Oct 2016 04:32
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/35428
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item