HUBUNGAN ANTARA RESTRUKTURISASI ORGANISASI DAN POLA COPING STRES PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA DINAS SOSIAL PROPINSI JAWA TIMUR

DWI MARDIANA SUSILAWATI, 090210372/L (2004) HUBUNGAN ANTARA RESTRUKTURISASI ORGANISASI DAN POLA COPING STRES PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA DINAS SOSIAL PROPINSI JAWA TIMUR. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
jiptunair-gdl-s2-2005-susilawati-1778-tps_13-05.pdf

Download (686kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Halaman Depan)
35485_Part1.pdf

Download (587kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Fulltext1)
35485_Part2.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text (Fulltext2)
35485_Part3.pdf

Download (397kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Lampiran)
35485_Part4.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penyelenggaraan Otonomi Daerah ditandai dengan keluarnya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan tersebut memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Kebijakan otonomi daerah dalam perspektif pendayagunaan aparatur negara pada hakekatnya adalah memberikan kesempatan yang luas bagi daerah untuk membangun struktur pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan responsif terhadap kepentingan masyarakat luas, membangun sistem pola karir yang kompetitif, mengembangkan sistem manajemen pemerintahan yang efekti, meningkatkan efisiensi pelayanan publik di daerah, serta meningkatkan transparansi pengambilan kebijakan dan akuntabilitas publik. Salah satu respon dari pelaksanaan otonomi daerah adalah adanya restrukturisasi organisasi di pemerintahan daerah. Dalam pelaksanaan restrukturisasi organisasi, beragam persoalan acapkali muncul sebagai fenomena yang sulit dihindarkan dari wacana good governance dalam birokrasi di Indonesia. Terlebih saat ini, fenomena penggabungan instansi pusat dengan daerah menjadi sebuah dinas/instansi baru di bawah naungan propinsi maupun daerah menjadi tataran praktis akan membawa perubahan suasana dan nuansa kinerja birokrasi di daerah dengan berbaurnya dua komunitas pegawai atau PNS (pusat dan daerah) yang boleh jadi mempunyai perbedaan kebiasaan dan karakteristik dalam melaksanakan tugas. Fenomena tersebut akan sangat berpengaruh pada sumber daya aparatur yaitu PNS sebagai pelaku dalam organisasi. Dengan adanya restrukturisasi organisasi, daerah dituntut untuk dapat mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien. Konsekuensinya, cukup banyak PNS yang tidak mempunyai kedudukan atau kehilangan kesempatan kerja yaitu aparatur yang tidak memiliki kompetensi, pengetahuan dan sikap mental yang sesuai dengan tuntutan perubahan. Penelian-ini menggunakan rancangan deskriptif dan eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi sampel 262 orang pejabat dan staf Dinas Sosial Propinsi Jawa imur dengan menggunakan teknik stratified proporsional sampling. Variabel restrukturisasi organisasi dan tingkat stres diukur dengan menggunakan kuesioner skala Likert, sedangkan variabel pola coping stres diukur dengan menggunakan kuesioner skala-2. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square. Hasil pengujian hubungan antara restrukturisasi organisasi dengan tingkat stres, didapatkan nilai Chi Square = 90,056, dengan p &lt; 0,05, berarti pengujian hubungan antara Restrukturisasi Organisasi dengan tingkat stres signifikan. Hal ini menunjukkan pandangan subyek terhadap restrukturisasi organisasi berkaitan dengan tingkat stres. Hasil pengujian hubungan antara restrukturisasi organisasi dengan pola coping stres didapatkan nilai Chi Square adalah 8,474, dengan p = 0,076. Karena p &gt; 0,05, maka berarti pengujian hubungan antara restrukturisasi organisasi dengan pola coping stres tidak signifikan. Hal ini menunjukkan pandangan subyek terhadap restrukturisasi organisasi tidak ada kaitannya dengan pola coping stres yang dilakukan. Subyek yang mempunyai pola problem focused coping memiliki pandangan yang sama terhadap restrukturisasi organisasi dengan subyek yang memiliki pola emotion focused coping. Hasil pengujian hubungan antara restrukturisasi organisasi, tingkat stres, dan pola coping didapatkan nilai Chi Square = 63,131, dengan p &lt; 0,05 pada problem focused coping, maka berarti pengujian hubungan antara restrukturisasi organisasi dan tingkat stres pada pola problem focused coping signifikan. Pada pola emotion focused coping, didapatkan nilai Chi Square = 46,990, dengan p &lt; 0,05. Artinya, pada responden dengan pola emotion focused coping, pandangan terhadap restrukturisasi organisasi berhubungan dengan tingkat stres.</description

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKB KK-2 TPS 13/05 Sus h
Uncontrolled Keywords: Organizational Restructurization. Stress level, Stress Coping
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor
H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD58.7-58.95 Organizational behavior, change and effectiveness. Corporate culture
H Social Sciences > HF Commerce > HF5548.8 Psychology, Industrial
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
DWI MARDIANA SUSILAWATI, 090210372/LUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSUNARJO, Dr. dr., MS., MScUNSPECIFIED
ContributorSURYANTO, Drs. MSi.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 2016
Last Modified: 14 Jun 2017 21:05
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/35485
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item