POLA KEBERAGAMAAN DI ERA TRANSISI : STUDI TENTANG KONSTRUKSI KEBERAGAMAAN (RELIGIOSITAS) ANGGOTA ORGANISASI MUHAMMADIYAH DAN NAHDLATUL ULAMA DI KOTA SIDOARJO

Muhammad Khodafi, 099913311/M (2004) POLA KEBERAGAMAAN DI ERA TRANSISI : STUDI TENTANG KONSTRUKSI KEBERAGAMAAN (RELIGIOSITAS) ANGGOTA ORGANISASI MUHAMMADIYAH DAN NAHDLATUL ULAMA DI KOTA SIDOARJO. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s2-2006-khodafimuh-698-ts.02_06-2.pdf

Download (630kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Fulltext)
35776.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Kesenjangan antara doktrin keagamaan dengan pengalaman keagamaan dalam komunitas Muhammadiyah dan Nandlatul ulama, merupakan fenomena yang melatarbelakangi penelitian tentang konstruksi keberagamaan ini. Kedua organisasi yang memiliki dasar ideologis yang berbeda tersebut. Memunculkan proposisi tentang konstruksi ideologi keberagamaan yang melahirkan pola keberagamaan yang berbeda, di antara kedua anggota organisasi tersebut. Konstruksi (orientasi) ideologi tersebut seringkali dijadikan ukuran terhadap perilaku dan sikap keberagamaan masyarakat, apakah masuk dalam kategori moderat atau eksklusif-puritan. Gejala ini bukan semata-mata tumbuh dalam terminologi teks agama. Konteks dimana teks itu akan diinterpretasikan, ternyata sangat mempengaruhi dalam proses menjadikan teks sebagai rujukan sikap ataupun perilaku mereka. Suasana inilah yang menjadikan fenomena singkretisme dan resistensi perilaku kelompok agama menjadi gejala yang kompleks, karena menyangkut konstruksi sosial budaya masyarakat secara luas. Penelitian ini bertitik tolak dari konsep agama sebagai bagian dari realitas sosial, yang merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh manusia sebagai individu yang kreatif. Penciptaan realitas sosial tersebut sebagaimana dikonsepsikan oleh Peter Berger dan Thomas Luckman, dilakukan melalui proses eksternalisasi, obyektivikasi, dan internalisasi. Riset ini juga menggunakan konsep agama sebagai bagian dari sistem (simbol) kebudayaan dan C.Geertz dan konsep klasik tentang agama dari Emile Durkheim, yang menganggap agama sebagai sebuah instrumen yang mendukung fungsi sosial, serta menciptakan basis keutuhan masyarakat dan kesinambungannya dari waktu ke waktu. Serta konsep keakheratan dan keduniawian (sacred and profane), yang merupakan kategori kunci dalam pandangan Durkheim. Dimana keduanya diyakini mejadi dasar atau landasan dari penyusunan sistem fakta-fakta sosial. Di samping itu studi ini juga memakai konsep agama sebagai sistem simbol dan Victor Turner, terutama dalam upaya menemukan makna simbol an ritus keberagamaan. Di sisi lain konstruksi ideologi keberagamaan kedua organisasi Muhammadiyah dan Nandlatul Ulama, pada prinsipnya sudah terbentuk sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan bisa dikatakan sudah mendahului kemunculan Muhammadiyah pada tahun 1912 ataupun Nandlatul Ulama pada 1926. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan pola pikir Ahmad Dahlan dan kelompok Islam tradisional di kalangan kasultanan Jogjakarta yang menolak pandangan-pandangan pembaharuan pendiri Muhammadiyah (KH. Ahmad Dahlan) tersebut. Bahkan perbedaan ini harus diselesaikan dengan jalan politik, yakni mengurangi kewenangan KH. Ahmad Dahlan sebagai seorang ulama kraton. Perbedaan konstruksi dan pola pikir keagamaan ini yang kemudian memperlebar jarak ideologis kedua pihak, yang kemudian direpresentasikan dalam Muhamadiyah dan Nandlatul Utama Pola keber-agama-an pada prinsipnya merupakan suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial tertentu, yang mencakup sejarah dan proyeksinya ke masa depan, yang di dalamnya terdapat legitimasi terhadap upaya merasionalisasikan suatu bentuk hubungan sosial - politik. Karena itu dalam ajaran agama (doktrin keagamaan), juga terdapat sejarah masa lampau kelompok sosial keagamaan tersebut, nilai-nilai yang diciptakan, atau visi akan masa depan dari kelompok sosial yang bersangkutan. Serta tuntunan yang mengarah pada tindakan-tindakan praksis. Dengan demikian ajaran kelompok agama memiliki dua aspek/unsur dasar yakni aspek kognitif dan normatif. Aspek/unsur kognitif terdapat di dalam sistem pengetahuan yang disepakati secara kolektif sebagai sarana untuk menjaga dan mempertahankan tertib sosial. Sementara unsur normative, mengarah pada ajaran sebagai alat interpretasi dalam mengarahkan dan menilai tindakan sosial anggota kelompok keagamaan tersebut. Kedua aspek ini menjelaskan bahwa ajaran agama memuat sebuah acuan terhadap realitas sosial dalam masyarakat. Kedua aspek tarsebut memberi pembenaran atau penolakan terhadap keberadaan struktur sosial yang ada, ataupun yang ingin dicapai. Dalam konteks ini ajaran agama memiliki kesamaan dengan ideologi, yang samasama menentukan makna dan nilai-nilai dalam realitas sosial, serta menjadi referensi bagi tindakan para penganutnya. Hanya saja titik referensi tertinggi dalam agama terdapat pada eksistensi (sifat-sifat) ketuhanan yang merupakan pusat dari segala gerak di alam semesta. Sedangkan dalam ideologi titik tertinggi referensinya terdapat pada kesepakatan kolektif masyarakat untuk memberikan identitas komunitasnya, Pada aspek inilah agama tidak semata-mata dapat direduksi sebagai representasi dari ideologi. Meskipun keduanya sama-sama berperan sistem yang mengatur makna dan nilai-nilai dalam kehidupan manusia. Kedua aspek kognitif dan normatif dalam agama tersebut bukanlah aspek yang statis dan tidak dapat berubah. Dalam realitas keberagamaan komunitas Muhammadiyah dan Nandlatul Ulama di kota Sidoarjo, kedua aspek tersebut mengalami proses dinamika, seiring dengan adanya proses transisi dan masyarakat pertanian menuju masyarakat industri, yang diiringi dengan krisis ekonomi dan politik. Path proses inilah pola keberagamaan sangat ditentukan oleh beberapa faktor baik struktural maupun kultural. Pemahaman masyarakat Sidoarjo khususnya komunitas Muhammadiyah dan Nandlatul Ulama tentang agama yang terbuka, serta gejala adaptasi norma keagamaan mereka terhadap perubahan dan perkeinbangan yang terjadi di masyarakat Sidqarjo (yang tengah mengalami proses transformasi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri), merupakan indikator dari dinamika keberagamaan mereka. Hal ini menunjukkan peran strategic dari konstruksi keberagamaan masyarakat Sidoarjo, yang tercermin dalam teks ajaran, ideologi kelembagaan, struktur sosial masyarakatnva, struktur budaya, dan dinamika politik yang terjadi pada masyarakat tersebut. Secara teoritis fenomena ini mempertegas asumsi dari Durkheim yang menganggap agama sebagai sebuah instrumen yang mendukung fungsi sosial, serta menciptakan basis keutuhan masyarakat dan kesinambungannya dari waktu ke waktu. Serta konsepnya tentang agama sebagai sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat, yang merupakan cerminan dari fakta sosial yang mencakup bidang ekonomi, hukum, teknologi dan apek-aspek lainnya, dari masyarakat tersebut. Gejala ini juga menjelaskan tentang agama sebagai bagian dari realitas sosial budaya, yang secara teoritik dipengaruhi (diciptakan) dan mempengaruhi manusia. Sedangkan resistensi ideologi dan radikalisasi agama yang dijumpai pada kedua komunitas tersebut, secara teoritik terjadi karena proses kesadaran beragama kedua komunitas keagamaan tersebut tumbuh secara parsial. Hal ini terjadi karena tekanan sosial akibat perubahan masyarakat yang sangat cepat, sehingga melahirkan proses refleksi yang tidak tuntas. Akibatnya muncul pemahaman keber-agama-an yang bersifat ekslusif, agama dipahami sebagai sebuah ideologi. Agama dijadikan sebagai alat legitimasi dan pembenar terhadap realitas sosial atau kenyataan yang sedang berlangsung. Sikap keber-agama-annya pun lebih menempatkan agama sebagai sistem simbolis, yang berfungsi menjadi perangkat masyarakat untuk memahami sejarahnya. Dalam konteks inilah agama memberikan kompensasi dan pembenaran bagi setiap tindakan (radikal) ataupun keadaan kelompok-kelompok sosial tertentu.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKB KK-2 TS.02/06 Kho p
Uncontrolled Keywords: Ideology, Construction, Cognitive, Normative, Resistant, Transition
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion > BL630-632.5 Religious Organization
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Creators:
CreatorsEmail
Muhammad Khodafi, 099913311/MUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorPingky Saptandari, Dra., MAUNSPECIFIED
ContributorDaniel Sparringa, Ph.DUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Husnul Khotimah
Date Deposited: 2016
Last Modified: 02 Jul 2017 21:58
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/35776
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item