ANALISIS PENGELOLAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) DI KABUPATEN LAMONGAN : Sebagai Dasar Untuk Mengatasi Kejadian Stagnant, Obat Rusak Dan Kadaluwarsa

LILIK SUHARTI, 090410763L (2006) ANALISIS PENGELOLAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) DI KABUPATEN LAMONGAN : Sebagai Dasar Untuk Mengatasi Kejadian Stagnant, Obat Rusak Dan Kadaluwarsa. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s2-2008-suhartilil-6348-tka750-t.pdf

Download (621kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Fulltext)
36071_Part1.pdf

Download (409kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

OAT salah satu komponen yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan penanggulangan TB. Untuk menjamin ketersediaan, kesinambungan OAT dan mengantisipasi kejadian OAT stagnant, rusak dan kadaluwarsa diperlukan pengelolaan yang tepat. Di Kabupaten Lamongan terdapat OAT stagnant, rusak dan kadaluwarsa pada tahun 2005. Terjadinya stagnant, rusak dan kadaluwarsa menyebabkan pemborosan dan tidak terjaminnya keamanan OAT. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah menyusun upaya untuk mengatasi kejadian stagnant, obat rusak dan kadaluwarsa berdasarkan analisis perencanaan dengan metode Service based, pengadaan, distribusi, penyimpanan dan sistem informasi OAT di Kabupaten Lamongan. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan Retrospective study dan Cross sectional. Subyek dalam penelitian ini adalah 21 puskesmas, 3 rumah sakit, dinas kesehatan dan gudang farmasi, yang diambil secara Purposive sampling, dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2006. Pengukuran data primer menggunakan kuesioner dengan wawancara dan observasi data. Hasil penilaian terhadap variabel yang diukur dibandingkan dengan standart nilai yang telah ditetapkan sebelumnya menggunakan teknik Delphi. Hasil penelitian : 1). Perencanaan kebutuhan OAT pada 85,7% puskesmas dan 66.7 % rumah sakit termasuk kategori sangat jelek, dinas kesehatan kategori baik, hasil ini diukur dari ketersediaan data kasus, rencana pengembangan cakupan. Di dinas kesehatan data kasus rinci dan dievaluasi, ada rencana pengembangan. Proses perencanaan tidak dilakukan di puskesmas dan rumah sakit. Tetapi dilakukan di dinas kesehatan tanpa Tim Perencanaan Obat Terpadu. 2). Pengadaan pada 76,2% puskesmas dan 66,7% rumah sakit kategori cukup, dinas kesehatan kategori baik. Dokumen permintaan dan penerimaan OAT tidak lengkap, penggunaan dokumen perencanaan tidak dilakukan di puskesmas dan rumah sakit, form permintaan kurang lengkap, waktu pengadaan tidak sesuai, tidak selalu melakukan pengecekan fisik OAT, fisik OAT tidak selalu baik, pernah menerima OAT tidak sampai 1 tahun kadaluwarsanya. 3). Distribusi OAT di 81% puskesmas dan dinas kesehatan dalam kategori cukup, distribusi semua rumah sakit baik. Penyerahan OAT tanpa resep di puskesmas, mutu fisik OAT selalu baik pada 76,2% Puskesmas dan 66,7% rumah sakit, wadah OAT seadanya di puskesmas, masa kadaluwarsa memenuhi syarat 90,4% puskesmas. Di dinas kesehatan tidak ada rencana distribusi, pernah ada OAT yang rusak satu sampai beberapa tablet dalam paket OAT, masa kadaluwarsa pernah kurang dari I tahun. 4). Penyimpanan OAT kategori cukup di 52,4% puskesmas dan semua rumah sakit, di gudang farmasi kategori jelek. Tata ruang penyimpanan OAT di puskesmas dan rumah sakit rata-rata baik. Di gudang farmasi sirkulasi udara kurang, tidak ada rak dan pernah bocor. Tidak menggunakan sistem FIFO atau FEFO untuk penyimpanan OAT, penulisan tanggal kadaluwarsa di box tidak dilakukan, penataan bok tidak rapi di gudang farmasi. Pencatatan OAT tidak dilakukan di puskesmas dan rumah sakit, karena tidak ada kartu stok. Pengamatan mutu fisik OAT kadang dilakukan tanpa dicatat, obat yang rusak dan kadaluwarsa tidak disimpan sendiri, hanya dipinggirkan. 5). Sistem informasi kategori jelek di 52,4% puskesmas dan semua rumah sakit, cukup di dinas kesehatan. Instrumen penunjang di puskesmas dan rumah sakit berupa format laporan dan permintaan kurang sesuai, format kartu stok dan buku harian tidak ada. Di dinas kesehatan menggunakan format laporan TB-13, ada format kartu stok tanpa tanggal kadaluwarsa, format permintaan kurang sesuai. Di puskesmas dan rumah sakit, tidak ada data pengeluaran dan waktu kegiatan mutasi.Laporan kegiatan mutasi tidak dilakukan di puskesmas dan rumah sakit. Obat rusak, kadaluwarasa, stagnant tidak dilaporkan tertulis, arsip laporan sisa stok tidak ada atau tidak sama pada rumah sakit. Dinas Kesehatan melaporkan kegiatan mutasi OAT dengan TB-13, obat stagnant, rusak dan kadaluwarsa dilaporkan secara lisan ke dinas kesehatan propinsi. Tidak ada prosedur kerja dan penerapannya. 6). Puskesmas yang mempunyai OAT rusak 66,7%. kadaluwarsa 47,62%, stagnant 42,86%. Rumah sakit yang ada OAT rusak 33,3%, kadaluwarsa 66,7%, stagnant 66,7%. Di Dinas Kesehatan terdapat obat rusak, kadaluwarsa dan stagnant. 7). Dari distribusi frekuensi berdasarkan analisis bobot diketahui urutan dominasi penyebab obat rusak, stagnant dan kadaluwarsa adalah perencanaan, sistem informasi, penyimpanan, pengadaan dan distribusi. Dari hasil penelitian tersebut, dilakukan focus group discussion yang melibatkan dinas kesehatan. gudang farmasi, puskesmas dan rumah sakit untuk menyusun suatu rekomendasi peningkatan pengelolaan OAT untuk mengatasi kejadian stagnant, rusak, dan kadaluwarsa. Adapun rekomendasi yang dihasilkan adalah sebagai berikut : 1) Dibentuknya tim perencanaan obat terpadu 2) Meningkatkan keterlibatan bidang kefarmasian antara lain Apoteker, Asisten Apoteker dalam pengelolaan OAT.3). Pelatihan tentang pengelolaan OAT kepada petugas program maupun pengelola obat. 4). Perencanaan bottom up dari Puskesmas dan rumah sakit. 5). Pengadaan menggunakan dasar perencanaan. 6) Penggunaan LPLPO untuk permintaan dan pelaporan OAT. 7) Administrasi yang tertib. 8). Membuat rencana distribusi. 9) Penggunaan resep untuk pengeluaran OAT. 10). Tiap OAT harus ada pencatatan pada kartu stok. 11).Penyusunan penyimpanan dengan sistem FIFO atau FEFO. 12). Pencatatan dan pelaporan OAT rusak, kadaluwarsa dan stagnant 13). Penyerahan OAT dengan wadah yang kuat 14). Dilakukan pengecekan mutu fisik 15). Adanya prosedur atau kebijakan yang mengatur pengelolaan OAT dan penerapannya.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKC KK TKA.75/07 Suh a
Uncontrolled Keywords: ATD, Drug management, damaged, Stagnant, Expired drugs
Subjects: R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology > RM300-666 Drugs and their actions
Divisions: 10. Fakultas Kesehatan Masyarakat > Administrasi Kebijakan Kesehatan
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
LILIK SUHARTI, 090410763LUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorWidodo Jatim Pudjirahardjo, dr.,MS.,MPH.,Dr.PH.UNSPECIFIED
ContributorRatna Dwi Wulandari, SKM.,M,KesUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Husnul Khotimah
Date Deposited: 2016
Last Modified: 10 Jul 2017 21:42
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/36071
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item