PERBANDINGAN SEROPOSITIF KUSTA PADA NARAKONTAK SERUMAH PENDERITA KUSTA TIPE MULTI-BASILER (MB) DAN PAUSI-BASILER (PB) STUDI SEROEPIDEMIOLOGI KUSTA DI KAB. SAMPANG - MADURA

BHAKTI SETIYO TUNGGAL, 090310643 L (2005) PERBANDINGAN SEROPOSITIF KUSTA PADA NARAKONTAK SERUMAH PENDERITA KUSTA TIPE MULTI-BASILER (MB) DAN PAUSI-BASILER (PB) STUDI SEROEPIDEMIOLOGI KUSTA DI KAB. SAMPANG - MADURA. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s2-2006-tunggalbha-1973-tkt030-k.pdf

Download (465kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s2-2006-tunggalbha-1973-tkt03_06.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penyakit kusta sampai sekarang masih merupakan problem kesehatan masyarakat di Indonesia, karena dapat menyebabkan kecacatan, morbiditas dan stigma sosial. Khususnya di daerah endemik kusta Kabupaten Sampang, penyakit kusta prevalensinya masih tertinggi di Jawa Timur sebesar 8,2 per 10.000 penduduk (tahun 2004). Dalam pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit Kusta di Indonesia, terdapat suatu masalah yang masih belum terpecahkan hingga kini, yaitu masalah kusta subklinis. Kusta subklinis adalah suatu keadaan dimana kuman kusta telah masuk ke dalam tubuh namun individu tersebut tidak menunjukkan gejala klinis, tetapi pada pemeriksaan serologis menunjukkan adanya antibodi spesifik terhadap M leprae dalam titer yang cukup tinggi. Meskipun tidak seluruhnya, kusta subklinis ini berpotensi untuk menjadi kusta manifes dalam beberapa tahun setelah diketahui seropositifitasnya. Di daerah Jawa Timur cut off point titer anti bodi kusta (Ig M anti PGL-1) sebesar > 600,00 p/ml Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya angka kejadian seropositif kusta pada narakontak serumah, dan membandingkan seropositif kusta pada narakontak serumah penderita kusta tipe MB dan tipe PB. Serta untuk mengetahui hubungan faktor usia, jenis kelamin, lama kontak, status kontak dengan hasil pemeriksaan serologi. Rancangan penelitian ini adalah belah lintang (cross sectional), yang bersifat analitik observasional. Populasinya seluruh narakontak serumah penderita kusta tipe MB dan tipe PB di wilayah penelitian, pengambilan sampelnya secara cluster random sampling. Sesuai dengan kriteria penerimaan sampel didapatkan 69 sampel yang bersedia diambil darahnya. Variabel dalam penelitian ini adalah penderita kusta tipe MB dan tipe PB sebagai sumber penularan, narakontak serumah penderita kusta, dan faktor usia, jenis kelamin, lama kontak, status kontak. Pengambilan data primer karakteristik individu, diperoleh dengan cara pendataan langsung pada sampel penelitian, sedangkan data primer serologi diperoleh setelah dilakukan uji serologi kusta dari serum narakontak. Data sekunder diperoleh dari laporan kegiatan tahunan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang. Cara analisis pada penelitian ini secara diskriptif untuk menggambarkan karakteristik sampel, dan analisis Chi-square untuk uji beda seropositifitas. Hasil pemeriksaan ELISA dari 69 sampel menunjukkan besarnya titer antibodi kusta berkisar 43,2 p/ml sampai 2.939,6 p/ml. Tiga puiuh empat sampel (49,3%) menunjukkan seropositif, yang terdiri dari 19 sampel (55,9%) narakontak penderita kusta tipe MB (NK-MB) dan 15 sampel (44,1%) narakontak penderita kusta tipe PB (NK-PB). Pada penelitian ini, hasil seropositif terbanyak pada jenis kelamin perempuan (52,94%), usia > 14 tahun (67,65°'o), lama kontak > 3 tahun (70,58%), dan status kekerabatan pada kelompok ayah/ibu (orang tua) (29,4%). Kesimpulan penelitian ini, angka kejadian kusta subklinis pads narakontak serumah di Kabupaten Sampang sebesar 49,3%. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dalam seropositifitas antara narakontak penderita kusta tipe MB (NK-MB) dengan tipe PB (NK-PB). Disamping itu juga tidak didapatkan hubungan antara lama kontak, status kekerabatan narakontak, usia, jenis kelamin dengan basil pemeriksaan serologi kusta. Saran untuk peneliti bahwa faktor lingkungan cukup berperan dalam epidemiologi kusta, maka perlu dipikirkan penelitian yang mencakup faktor lingkungan di Kabupaten Sampang. Untuk pengelolah program kesehatan P2PL Kusta harus mengantisipasi kemungkinan meningkatnya insiden penderita kusta baru di masyarakat, sehingga perlu dipikirkan pencegahan dengan pemeriksaan serologi secara luas.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKA KK TKT. 03/06 Tun p TIDAK ADA ILMU KEDOKTERAN TROPIS
Uncontrolled Keywords: Leprosy – M leprae – Household – PGL-l
Subjects: Q Science > QR Microbiology > QR75-99.5 Bacteria
R Medicine > RC Internal medicine > RC109-216 Infectious and parasitic diseases
Creators:
CreatorsEmail
BHAKTI SETIYO TUNGGAL, 090310643 LUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorIndropo Agusni, Prof.,Dr.,dr.,SpKK(K)UNSPECIFIED
Contributorkuntaman, Dr.,dr.,MS.,SpMKUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Anisa Septiyo Ningtias
Date Deposited: 2016
Last Modified: 07 Jun 2017 15:42
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/36155
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item