FAKTOR RISIKO TERJADINYA DISFUNGSI EREKSI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2

K. KASIATI, 090415426/M (2006) FAKTOR RISIKO TERJADINYA DISFUNGSI EREKSI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s2-2007-kasiatik-3645-tkr020-t.pdf

Download (518kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s2-2007-kasiatik-3645-tkr0207.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian disfungsi ereksi (DE) sering dihubungkan dengan diebetes mellitus (DM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita DM berpeluang 2 sampai dengan 5 kali lebih banyak mengalami DE. Prevalensi DE pada DM mencapai 53%, sementara pada non-DM hanya 26.5 % dari populasi. Hal yang menarik pads penderita DE yang DM adalah sekitar 63% dari DE tidak diketahui oleh dokter atau disembunyikan pasien. Ironisnya penanganan komplikasi DM di bidang reproduksi pria tampaknya kurang mendapat perhatian di bandingkan dengan komplikasi DM lainnya. Kurangnya perhatian terhadap komplikasi DM tersebut, menurut Tjokroprawiro (1996), tidak seharusnya terjadi mengingat fertilitas dan seksualitas adalah masalah yang vital bagi kehidupan manusia. Mengingat realitas tersebut, penelitian DM yang DE sepatutnya perlu dilakukan. Alasan lain dida_carkan pads pernyataan Soehadi (1996), hasil penelitian tentang gangguan seksualitas pads DM masih banyak yang bertentangan antara satu dengan yang lain. Faktor risiko DE lainnya seperti hipertensi, penyakit liver, penyakit jantung, hiperkolesterol, merokok, dan depresi kurang diperhatikan. Penelitian tentang hipertensi, penyakit liver, penyakit jantung, hiperkolesterol, merokok, dan depresi justru cenderung dikaitkan dengan DM. Berdasarkan kenyataan tersebut, faktor risiko dalam hubungannya dengan DE perlu dilakukan penelitian. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan bahwa peningkatan HbAlc, hipertensi, penyakit liver, penyakit jantung, hiperkolesterol, merokok, dan depresi sebagai faktor risiko terjadinya DE pada DM tipe 2. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan persentase kemungkinan terjadinya DE pada DM Tipe 2 (DMT2) dari ketujuh faktor tersebut. Bahan dan Cara Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Bahan penelitian berupa buku medical record penderita DMT2, serum darah penderita DMT2, dan pria untuk pemeriksaan laboratorium HbA 1 c. Dan 73 penderita DMT2 sebagai sampel, 36 orang dipilih untuk sampel penderita DE dan 37 orang untuk NDE. Sampel tersebut diambil dari pasien yang berobat di Poliklinik Diabet RSU Dr. Sutomo Surabaya. Besarnya sampel dihitung dengan Case Control Studies. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan simple random sampling. Setelah data diperoleh, kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis tabulasi silang, khi kuadarat, odds ratio, dan regresi logistik. Hasil Hasil penelitian didapatkan pasien non-DE dalam hubungannya dengan regulasi DM yang menunjukkan persentase kelompok diabetes mellitus terawat jelek lebih rendah daripada kelompok diabetes mellitus terawat baik. Artinya, pasien non-DE yang teregulasi baik dapat mempertahankan kondisinya agar terhindar dari DE. Hasil lainnya, pasien DE cenderung terkena hipertensi hingga 61,0%, sebaliknya pasien non-DE yang terkena hipertensi menunjukkan persentase 31,0% daripada yang tidak terkena. Pasien DE pada DMT2 yang terkena penyakit liver hanya 6,6%, penyakit jantung 25,0%, dan depresi 11,0%. Pasien DE yang terkena hiperkolesterol tidak menunjukkan perbedaan yang berarti, yakni masing-masing memiliki persentasi 50,0%. Pasien DE dan non-DE yang merokek menunjukkan persentase lebih tinggi dibandingkan dengan pasien DE dan non-DE yang tidak merokok. Hasil pendeskripsian tersebut tampaknya sejalan dengan hasil analisis Khi Kuadrat dan Odds ratio. Hasilnya adalah hipertensi merupakan faktor risiko paling dominan di bandingkain faktor lainnya. Peningkatan HbA 1 c juga termasuk faktor risiko. Sedangkan faktor lainnya seperti penyakit liver, penyakit jantung, hiperkolesterol, merokok, dan depresi tidak menunjukkan hubungan yang berarti terhadap penderita DE. Kesimpulan Hipertensi dan HbA lc yang meningkat sebagai faktor risiko, sedangkan faktor lainnya seperti penyakit liver, penyakit jantung, hiperkolesterol, merokok, dan depresi tidak menunjukkan sebagai faktor risiko yang berarti. Semakin tinggi nilai HbA l c, semakin rendah skor DE, yang berarti terjadinya DE pada DMT2. Translation: The objective of this study was to confirm that the increase of HbA lc, hypertension, liver disease, heart disease, hypercholesterolemia, cigarette smoking, and depression served as erectile dysfunction (ED) risk factors in type 2 DM (T2DM) patients. In addition, this study was also aimed to determine the percentage of ED occurrence probability in T2DM patients based on those factors. This research was a cross-sectional study. Materials for this study were taken from medical records of T2DM patients, blood serum of male T2DM patients for HbA lc laboratory examination. From 73 T2DM patients, 36 were selected as samples of ED patients and 37 for non-ED. Samples were taken from patients visiting Diabetes Outpatient Clinic, Dr Soetomo Hospital, Surabaya. Sample size was measured according to case control studies, and was taken using simple random sampling. Data were analyzed using cross-tabulation analysis, chi-square, odds ratio, linear regression and logistic regression. The results showed that in relations to DM regulation it was found that among non-ED patients, the percentage of poorly-treated DM group was lower than that of well-treated DM group. This indicated that well-regulated non-ED patients were able to maintain their condition to be prevented from ED. It was also found that the predisposition to have hypertension in ED patients was 61.0%, while that in non-ED patients was 31.0%. ED patients with type 2 DM who had liver disease were 6.6%, heart disease 25.0%, and depression 11.0%. ED patients who had hypercholesterolemia showed no significant difference. Each had 50.0%. ED and non-ED patients who were smoking had a higher percentage compared to those who were not smoking. The findings confirmed the result of Chi-square analysis and Odds ratio analysis. It was apparent that hypertension was the most predominant risk factor compared to other factors. The increase of HbA1c was also included as the risk factor. Other factors, such as liver disease, heart disease, hypercholesterolemia, cigarette smoking, and depression, showed no significant relations with ED. Conclusively, hypertension and HbA lc increase serve as risk factors, while liver disease, heart disease, hypercholesterolemia, cigarette smoking, and depression, are found not to be significant risk factors.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKA KK TKR.02/07 Kas f
Uncontrolled Keywords: Erectile dysfunction, type 2 diabetes mellitus, risk factors
Subjects: R Medicine
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kesehatan
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
K. KASIATI, 090415426/MUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorHUDI WINARSO, Dr.dr.,M.Kes.,Sp.And.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Luluk Lusiana
Date Deposited: 2016
Last Modified: 07 Jun 2017 19:07
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/36272
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item