PERBANDINGAN METODE MPS BERLOT SIZE EOQ DISERTAI HASIL FORECASTING TERPILIH DENGAN MAXIMUM - MINIMUM STOCK LEVEL: Simulasi Perencanaan Dan Pengendalian Persediaan di RS Siti Khodijah

MUHAMMAD MIFTAHUSSURUR, 090410751 L (2006) PERBANDINGAN METODE MPS BERLOT SIZE EOQ DISERTAI HASIL FORECASTING TERPILIH DENGAN MAXIMUM - MINIMUM STOCK LEVEL: Simulasi Perencanaan Dan Pengendalian Persediaan di RS Siti Khodijah. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s2-2007-miftahussu-3720-kkckkt-k.pdf

Download (642kB) | Preview
[img]
Preview
Text (HALAMAN DEPAN)
gdlhub-gdl-s2-2007-miftahussu-3720-tka150-p_HALAMANDEPAN.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s2-2007-miftahussu-3720-tka150-p_fulltext.pdf

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text (LAMPIRAN)
gdlhub-gdl-s2-2007-miftahussu-3720-tka150-p_lampiran.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Instalasi farmasi rumah sakit adalah satu � satunya bagian atau unit rumah sakit yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan dan pengendalian seluruh sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lain yang beredar dan digunakan di rumah sakit. Seiring dengan perkembangannya Instalasi Farmasi menghadapi beberapa masalah yaitu Stockout terjadi baik di ruangan, kamar obat maupun unit logistik. Pendataan yang dilakukan selama 19 hari di kamar obat I didapatkan stockout terjadi hampir merata pada semua shift dan tersering terjadi pada shift II sebesar 94,8 % dari total shift II. Stockout juga terjadi di ruangan sepanjang tahun 2004 sebanyak 390 kali dan dapat terjadi berurutan dalam 2 hari. Akibatnya rumah sakit harus kehilangan opportunity revenue akibat tidak terlayaninya resep sebesar Rp. 2.172.840,-119 hari atau Rp. 52.148.580,-/tahun. Berdasarkan Analisis ABC dari 2913 item obat dan alkes hanya 212 item obat dan alkes (7,9 %) yang merupakan golongan A, sedang sisanya adalah golongan B dan C. Selain itu selama tahun 2004 terdapat 790 item obat yang tidak terjadi mutasi selama satu tahun penuh. Tingginya stagnasi tersebut secara otomatis akan meningkatkan jumlah obat expired. Dari hasil stock opname Februari-Juli 2005 didapatkan jumlah obat expired sebanyak 79 item dengan nilai total kerugian sebesar Rp. 7.166.299,-. Selain itu terdapat 28 item obat yang terancam kadaluwarsa untuk 6 bulan kedepan. Kadaluwarsa obat ini merupakan kerugian tertinggi Instalasi Farmasi RSSK dibanding beberapa tahun sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan metode perencanaan dan pengendalian persediaan dengan membandingkan metode MPS berlotsize EOQ disertai forecasting terpilih dan metode Minimum-Maximum stock level guna mencegah terjadinya stockout, stagnasi dan tingginya sisa nilai persediaan di unit logistik RSSK. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian simulasi dengan menggunakan data riil dengan menggunakan metode MPS berlotsize EOQ disertai forecasting terpilih dan Minimum-Maximum Stock Level. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari data harga satuan beli dan mutasi seluruh obat dan alkes di unit logistik RSSK selama bulan Januari 2005 hingga Februari 2006 yang diambil dari pergerakan stock dari sistem informasi logistik RSSK. Hari untuk menetukan stock Maximum pada penelitian ini adalah 7, 10 dan 14 hari. Sedangkan jumlah hari penyediaan stock minimum adalah sama yaitu 3 hari. Ciri khas dari penelitian ini adalah penggunaan tabel MPS berlotsize EOQ dan penggunaan stock maximum dan minimum yang mengikuti mutasi harian obat dan alkes yang belum pernah diterapkan pada beberapa penelitian sebelumnya. Hasil analisis ABC dilakukan berdasar mutasi obat dan alkes dari bulan Januari 2005 hingga Februari 2006 diperoleh obat kelas A merupakan 2,53 % (84 item) dari seluruh jumlah obat dan alkes, tetapi membutuhkan biaya pengadaan sebesar 50,08 %. Obat kelas A inilah yang akan digunakan sebagai sampel penelitian. Pada pelaksanaan metode forecasting terpilih, hasilnya didominasi oleh metode auto regresi dan auto korelasi selisih periode 2 bulan sebanyak 46 item obat (54.76 %) dan selisih periode 1 bulan sebanyak 27 item (32.14 %), diikuti oleh smoothing single moving average sebanyak 8 item (9.52 %) dan dekomposisi time series. 3 item (3.57 %). Walaupun telah menggunakan model forecasting terpilih, dari basil perbandingan dengan pemakaian nil tetap terdapat kekurang tepatan forecasting. Sebagian besar terjadi pads bulan April 2006 yang mempunyai selisih nilai cukup besar dan melebihi batas toleransi ketepatan forecasting sebesar +/- 10 %. Dari hasil pelaksanaan simulasi metode MPS berlot size EOQ disertai forecasting terpilih dan metode Maximum-Minimum stock level didapatkan hasil bahwa metode MPS berlot size EOQ disertai forecasting terpilih menghasilkan angka stockout dan nilai sisa persediaan yang lebih rendah, disusul MMSL 7, 10, 14 dan metode saat ini. Sedangkan berdasarkan perbandingan nilai stagnasi metode MMSL 14 hari menghasilkan nilai stagnasi terendah disusul MPS berlot size EOQ disertai forecasting terpilih, MMSL 10 hari, metode saat ini dan MMSL 7 hari. Untuk mengetahui signifikansi perbedaan masing-masing metode dengan metode saat ini maka dilakukan uji statistik komparasi analisis paired samples t-test. Berdasarkan stockout dan nilai sisa persediaan, metode MPS berlot size EOQ disertai forecasting terpilih merupakan metode yang menunjukkan perbedaan secara bermakna dengan nilai p<0,05 dibandingkan dengan metode saat ini. Sedangkan berdasar nilai stagnasi MMSL 14 hari merupakan metode yang menunjukkan perbedaan secara bermakna dibandingkan dengan metode saat ini. Dalam rangka menentukan metode yang paling efektif dan efisien, maka dilakukan pembagian obat dan alkes yang diteliti menjadi 2 kelompok yaitu kelompok emergency dan non emergency. Metode MPS berlot size EOQ disertai forecasting terpilih menjadi metode yang paling efektif dan efisien dalam perencanaan dan pengendalian obat emergency disusul MMSL 14, 10, 7 hari dan saat ini. Sedangkan metode MMSL 14 hari menjadi metode yang paling efektif dan efisien dalam perencanaan dan pengendalian obat non emergency, disusul metode MPS berlot size EOQ disertai forecasting terpilih, MMSL 10, 7 hari, dan saat ini. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa metode MPS berlot size EOQ disertai forecasting terpilih menjadi metode yang paling efektif dan efisien dalam perencanaan dan pengendalian obat emergency dan Sedangkan metode MMSL 14 hari menjadi metode yang paling efektif dan efisien dalam perencanaan dan pengendalian obat non emergency. Sehingga dengan diimplimentasikann dua metode yang barn tersebut, melakukan revisi standar formularium dan mengimplementasikan secara konsisten, dan melakukan sedikit perubahan pada software sistem informasi manajemen (SIM) akan dapat memberikan efisiensi dan efektivitas jauh lebih baik dibandingkan dengan tanpa metode perencanaan dan pengendalian persediaan.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKC KK TKA 15/07 Mif p
Uncontrolled Keywords: Master Production Schedule, Lot-size EOQ, forecasting, Maximum-Minimum Stock Level
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions: 10. Fakultas Kesehatan Masyarakat > Administrasi Kebijakan Kesehatan
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
MUHAMMAD MIFTAHUSSURUR, 090410751 LUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorWidodo J. Pudjirahardjo, dr., MS., MPH., Dr.PH.UNSPECIFIED
ContributorHartono Tanto, dr., MARSUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Husnul Khotimah
Date Deposited: 2016
Last Modified: 11 Jul 2017 19:10
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/36313
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item