PERANAN ANESTESIOLOGI REANIMASI DALAM MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU BERSALIN DAN BAYI BARU LAHIR

Sri Wahjoeningsih, Prof.Dr., Sp.An.K.IC (2008) PERANAN ANESTESIOLOGI REANIMASI DALAM MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU BERSALIN DAN BAYI BARU LAHIR. Universitas Airlangga, Surabaya. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-grey-2011-wahjoening-21019-pg8210-k.pdf

Download (149kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
443. 40275-ilovepdf-compressed.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pada tahun 1846 William T.G. Morton berhasil mendemonstrasikan efek eter di depan umum di Massachusetts General Hospital untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Morton adalah seorang dokter gigi yang pada saat itu menjadi mahasiswa kedokteran. Oliver Wendell Holmes kemudian mengusulkan nama keadaan tidak bergerak dan tidak merasakan nyeri selama pembedahan tersebut: Anesthesia). Pemberian obat anestesi umum akan menimbulkan gangguan reversible 100 miliar sel otak dan segenap sambungannya yang menyebabkan pasien menjadi tidak sadar. Di samping itu, obat-obat tersebut menurunkan fungsi napas, fungsi sirkulasi, fungsi ginjal dan fungsi hati. Keadaan ini mengharuskan seorang anesthesiologist mampu mempertahankan fungsi-fungsi vital tersebut agar tidak membahayakan jiwa pasien. Agar dapat mengelola dengan baik maka dibutuhkan pemahaman fisiologi, patofisiologi, biokimia, farmakologi dan keterampilan melakukan Life Support. Memberikan anestesi tidak hanya dapat menidurkan pasien, tetapi juga harus dapat membangunkan kembali pasien dalam kondisi seperti di saat sebelum ditidurkan atau kondisi yang lebih baik. Pemberian anestesi yang tampaknya sederhana ini, efeknya pada perubahan fungsi¬fungsi vital jika tidak dikelola dengan hati-hati dapat mengancam jiwa pasien. Kelambatan penanganan akan menyebabkan kematian atau kerusakan organ yang menetap (permanent). Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang tidak berorientasi pada organ (misalnya jantung) atau umur (misalnya pediatri) tetapi berorientasi pada fungsi. Anestesiologi menekankan segi gangguan fungsi, bukan gangguan organ. Misalnya, dalam mengatasi kegawatan napas, letak penyebab dan penyelesaian masalahnya tidak hanya di paru, tetapi juga bisa pada neuromuscular endplate seperti pada myasthenia gravis, atau hipokalemia berat, atau sisa obat pelumpuh otot (Neuro Muscular Blocking AgentINMBA); namun demikian, tindakan mengatasi kegawatannya adalah sama yaitu memberikan napas buatan dan menambahkan oksigen. Pengalaman di bidang diagnosis dan terapi kegawatan selama operasi sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari anestesia, membuat personil anestesia menjadi peka, waspada, tanggap dalam bertindak dan cepat mengatasi krisis yang mengancam jiwa.

Item Type: Other
Additional Information: KKA KK PG 82/10 Wah p
Uncontrolled Keywords: anestesi
Subjects: R Medicine > RG Gynecology and obstetrics > RG1-991 Gynecology and obstetrics > RG500-991 Obstetrics > RG651-721 Labor. Parturition
R Medicine > RJ Pediatrics > RJ251-325 Newborn infants Including physiology, care, treatment, diseases
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: Pidato Guru Besar
01. Fakultas Kedokteran > Anestesiologi dan Reanimasi
Creators:
CreatorsEmail
Sri Wahjoeningsih, Prof.Dr., Sp.An.K.ICUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Anisa Septiyo Ningtias
Date Deposited: 29 Sep 2016 01:50
Last Modified: 20 Jun 2017 17:10
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/40275
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item