PAKET TEKNOLOGI RANCANG BANGUN PROGESTERON INTRA VAGINAL SILIKON SPONGE (PRIVASIS) UNTUK INDUKSI DAN SINKRONISASI BIRAHI PADA SAPI DAN KAMBING

HERRY AGOES HERMADI, Drh., M.Si and Wurlina, Dr., drh., MS and Rimayanti, drh., M.Kes (2002) PAKET TEKNOLOGI RANCANG BANGUN PROGESTERON INTRA VAGINAL SILIKON SPONGE (PRIVASIS) UNTUK INDUKSI DAN SINKRONISASI BIRAHI PADA SAPI DAN KAMBING. UNIVERSITAS AIRLANGGA, -. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-res-2007-hermadiher-4731-lp5507-k.pdf

Download (445kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
467. 40343-ilovepdf-compressed.pdf

Download (455kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penggunaan preparat hormonal progesteron intra vaginal untuk tujuan perbaikan repoduksi sudah banyak dilakukan dilapangan, salah satu untuk induksi birahi. Saat ini yang beredar dipasaran preparat progesteron adalah progesteron release intra vaginal device (PRID), kontrol internal drug release (CIDR) dan implant synchromate B pada sapi. PRID adalah hormon luteal yang berasal dari Perancis dan CIDR dari Selandia Baru yang penggunaannya dimasukkan di dalam vagina sapi. Atas dasar pertimbangan di atas perlu dilakukan penelitian tentang induksi birahi dengan menggunakan progesteron intra vaginal silikon sponge (privasis) yang dipadukan dengan inseminasi buatan (IB) pada hewan ternak sapi dan kambing. Sebagai pengganti obat hormon progesteron import seperti PRID, CIDR dan Syncromate B, selain langka, harganyapun cukup mahal. Tujuan dari penelitian ini adalah, membuat progesteron intra vaginal silikon sponge dan penyempurnaan teknologinya pada sapi dan kambing. Mengaplikasikan progesteron intra vaginal silikon sponge dengan menentukan dosis sekaligus menentukan kadar progesteron serum darah sebelum pencabutan, sesudah pencabutan (birahi) dan saat kebuntingan setelah IB pada sapi dan kambing. Menentukan waktu pencabutan privasis dan timbulnya gejala birahi pada sapi dan kambing. Metode penelitian Penentuan Kadar Progesteron serum darah sebelum pencabutan, setelah pencabutan (birahi) dan saat kebuntingan 21 hari pasca birahi digunakan hewan coba sebanyak 20 ekor sapi betina yang telah dipastikan pernah beranak berumur 2-3 tahun perlakuan mendapatkan 5 ulangan dan setelah terjadi birahi dilakukan inseminasi buatan. Sebelum dan sesudah pencabutan hari ke 14 privasis diambil darahnya rnelalui vena yugularis sebanyak 5 cc untuk pemeriksaan progesteron dengan metode RIA. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan pada hari ke 21. PO (kontrol) : Sapi diberikan injeksi PGf2a 25 mg IM; P1: Sapi diberikan privasis 2 gram MPA + 10 mg estradiol benzoas; P2: Sapi diberikan privasis 1,5 gram MPA+ 10 mg estradiol benzoas ; P3 : Sapi diberikan privasis 1 gram MPA + 10 mg estradiol benzoas. Penentuan Waktu timbulnya birahi setelah pencabutan privasis pada hari ke 14. Penentuan Kadar Progesteron Serum Darah Sebelum Pencabutan, saat birahi dan scat kebuntingan pada kambing. Sebanyak 20 ekor kambing betina yang telah dipastikan pernah beranak > 1 tahun yang dikelompokkan secara acak menjadi 4 kelompok dengan masing-masing perlakuan mendapatkan 5 ulangan dan setelah terjadi birahi dilakukan inseminasi buatan (pencabutan privasis hari ke 13). Sebelum dan sesudah pencabutan diambil darahnya sebanyak 5 cc untuk pemeriksaan kadar progesteron serum darah dengan metode RIA. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan pada hari 21 pasca inseminasi dengan RIA. PO (kontrol) : kambing diberikan injeksi PGfa 7 mg IM + PMSG 200 IU; P1 : kambing diberikan priivasis 70 mg MPA + 10 mg estradiol benzoas; P2 : Kambing diberikan privasis 60 mg + 10 mg estradiol benzoas; P3 :Kambing diberikan privasis 50 mg + 10 mg estradiol benzoas. Penentuan Waktu Timbulnya Birahi Setelah Pencabutan Privasis Pada Kambing. Ditentukan PO 5 ekor kambing betina masing-masing diberikan 7 mg PGF2a + 200 IU PMSG IM. Kemudian P1, P2 dan P3 diberikan privasis dengan 60mg MPA + 10 mg estradiol benzoas. Pengamatan timbulnya privasis P1 pada hari ke 12 P2 pada hari ke 13 dan P3 hari ke 14. Hasil penelitian yang diperoleh data mengenai kadar progesteron darah sapi sebelum pencabutan privasis antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dilakukan analisis dengan Analisis Varian yang menunjukkan perbedaan yang tidak nyata dengan taraf kepercayaan 5 % masing-masing kadar progesteron menunjukkan PO (1,46 ± 0,29 ng/ ml), P1 (1,50 ± 0,32 ng/ ml), P2 (1,48 ± 0,28 ng/ml), dan P3( 1,42 ± 0,29 ng/ ml). Setelah pencabutan privasis kadar progesteron sapi setelah pencabutan privasis (munculnya gejala birahi) yang menunjukkan perbedaan yang nyata ( P > 0,05) dari kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing PO 100% birahi (0,072 ± 0,034 ng/ ml), dan kelompok perlakuan 100% birahi dengan P1 (0, 076 ± 0,025 ng/ ml), P2 (0,070 ± 0,29 ng/ml), dan P3 (0,068 ± 0,019 ng/ ml). Untuk mengatahui status kebuntingan pada sapi dapat kita lihat kadar progesteron dalam serum darah pada kelompok P1 dengari rata-rata 3,5 ± 2,89 ng/ ml, kelompok P2 dengan rata-rata 3,44 ± 2,73 ng/ ml dan kelompok P3 dengan rata-rata 3,66 ± 2,27 ng/ ml tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol dengan rata-rata 3,48 ± 2,66 ng/ ml. Kecepatan birahi pada sapi antara kelompok kontrol dan perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P > 0,05) dimana antara kelompok kontrol dan perlakuan menunjukkan waktu birahi sekitar 36,61 ± 0,37 jam setelah pencabutan privasis. Hasil rataan kadar progesteron dalam darah kambing saat sebelum pencabutan privasis dengan hasil (Pl) 1,36 ± 0,28 ng/ ml, (P2) adalah 1,32 ± 0,23 ng/ ml dan (P3) , 1,30 ± 0,28 ng/ ml; sedangkan kambing kontrol (P0) setelah mendapatkan penyuntikan PGF2a menunjukan hasil 1,38 ± 0,23 ng/ ml P > 0,05. Hasil kadar progesteron darah kambing setelah pencabutan privasis dengan hasil 100% birahi pada perlakuan dan kontrol dimana (P1) yang memiliki dosis 70 mg adalah 0,168 ± 0,004 ng/ ml, (P2) yang memiliki dosis 60 mg adalah 0,164 ± 0,005 ng/ ml dan (P3) yang memiliki dosis terendah 50 mg adalah 0,160 ± 0,007 ng/ ml; sedangkan kambing kontrol (P0) adalah 0,162 ± 0,004 ng/ ml p > 0,05.. Angka-angka menunjukkan bahwa hasil rataan kadar progesteron darah pada hari 21 setelah dilakukan inseminasi buatan pada kambing kontrol adalah 3,68 ± 0,41 ng/ml, sedangkan pada kambing perlakuan dosis MPA sponge 70 mg (PI) adalah 3,60 ± 0,32 ng/ml, dosis MPA sponge 60 mg (P2) adalah 4,16 ± 0,30 ng/ml, dan untuk dosis MPA sponge 50 mg (P3) adalah 3,66 ± 0,50 ng/ml p > 0,05. Hasil rataan waktu timbulnya birahi kambing saat pencabutan sponge hari ke-12 (PI) adalah 57,51 ± 5,660 jam, pencabutan hari ke-13 (P2) adalah 48,32 ± 0,067 jam, pencabutan hari ke-14 (P3) adalah 49,10± 0,054 jam, sedangkan kambing kontrol (Po) setelah mendapat penyuntikan PGF2a daan PMSG menunjukkan hasil 48,29± 0,054 jam. Data pada tabel dilakukan analisis dengan Analisis Varians tidak menunjukkan perbedaan yang nyata p > 0,05. Kesimpulan Progesteron intra vaginal silikon sponge (privasis) dapat diaplikasikan pada kambing dan sapi.

Item Type: Other
Additional Information: KKC KK LP.55/07 Her p
Uncontrolled Keywords: PROGESTERONE; ESTRUS
Subjects: S Agriculture > SF Animal culture > SF600-1100 Veterinary medicine
Divisions: 06. Fakultas Kedokteran Hewan
Unair Research > Non-Exacta
Creators:
CreatorsEmail
HERRY AGOES HERMADI, Drh., M.SiUNSPECIFIED
Wurlina, Dr., drh., MSUNSPECIFIED
Rimayanti, drh., M.KesUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Fariddio Caesar
Date Deposited: 28 Oct 2016 22:02
Last Modified: 20 Jun 2017 17:41
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/40343
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item