MODEL PENANGGULANGAN INTENSIF DEMAM BERDARAH DENGUE DI SURABAYA

Florentina Sustini, Dr. dr., MS and Susilowati Andajani, dr. MS. and Atika, S.Si.M, M.Kes (2008) MODEL PENANGGULANGAN INTENSIF DEMAM BERDARAH DENGUE DI SURABAYA. UNIVERSITAS AIRLANGGA. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-res-2008-authorsust-7289-lp125_0-n.pdf

Download (615kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
506. 40487.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkanoleh virus dengue, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes. Surabaya termasuk daerah endemis tinggi DBD dengan incidence rate lebih dari 30 / 100.000 penduduk. Sejak tahun 2000 di setiap tahun terjadi kejadian luar biasa (KLB) DBD. Hal tersebut menunjukkan bahwa program pemberantasan (P2) DBD di Surabaya tidak berhasil. Keadaan tersebut disebabkan karena pelaksanaan P2.DBD di Surabaya tidak sesuai dengan pedoman P2.DBD yang ada dari WHO dan Departemen Kesehatahan RI. Fogging baru dilakukan jika masyarakat sudah panik karena ada korban yang meninggal. Demikain pula kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang merupakan kegiatan andalan untuk memberantas nyamuk belum terlaksana dengan baik, yang terlihat dari angka bebas jentik (ABJ) tahun 2005 sebesar 81% (masih kurang dibandingkan dengan target ABJ &gt; 95%). Tujuan umum penelitian adalah menyusun Model Hipotetik Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Surabaya. Tujuan khususnya 1) Mengidentifikasi kesenjangan antara pedoman P2 DBD dari WHO. Depkes RI dan pelaksanaan P2 DBD di Surabaya berdasar input dan proses, 2) Mengidentifikasi pengetahuan dan praktek masyarakat tentang P2 DBD di Surabaya, 3) Menyusun model hipotetik yang intensif untuk penanggulangan DBD di Surabaya yang sesuai dengan keadaan masyarakat dan lingkungan di Surabaya. Manfaat penelitian bagi instansi kesehatan memberi masukan untuk menyusun kebijakan dalam penanggulangan DBD di Surabaya. Metode penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif baik secara kuantitaif maupun kualitatif . Penelitian kualitatif dengan metode Indepth Interview Populasi penelitian kuantitatif penderita/ keluarga penderita DBD, tetangga penderita DBD, dan Anak sekolah, untuk penelitian kualitatif tokoh masyarakat dan �Pejabat Dinas Kesehatan. Sampel penelitian kuantitatif I) penderitalkeluarga penderita 5 orang x 4 wilayah = 20 orang + lingkungannya, 2) keluarga bukan penderita 5 orang x 4 wilayah =.20 orang + lingkungannya, 3) anak sekolah TK, SD, SMP, SMU = 2 orang x 4 kelompok = 8 orang , 4) Lingkungan TTU = tempat ibadah, pasar tradisional , sekolah = 11. Sampel penelitian kualitatif : PKK 3 orang x 4 wilayah = 12 orang dan Pejabat Dinas Kesehatan 2 orang Besar sampel keseluruhan : 62 orang + 51 tempat untuk pemeriksaan jentik nyamuk. Sampel dipilih secara purposive. Variabel yang diteliti 1), Input, 2). Proses, dan 3) Persepsi tokoh masyarakat dan pejabat Dinas Kesehatan tentang pelaksanaan P2 DBD Variabel Input terdiri dari (1) Perilaku masyarakat terutama adalah pengetahuan dan praktek masyarakat berkaitan dengan penanggulangan DBD, (2) Sumber daya manusia terutama adalah jenis dan jumlah petugas kesehatan yang langsung menangani penanggulangan DBD, (3) Sarana penanggulangan DBD termasuk pedoman penanggulangan DBD dan sarana pemberantasan nyamuk (kebijakan, peralatan, biaya), (4) Kondisi Lingkungan biologis yaitu adanya nyamuk Aedes dan lingkungan fisik yaitu adanya penampungan (container) air untuk sarang nyamuk, (5) Kondisi lingkungan sosial budaya tennasuk adanya dukungan politik dan kader kesehatan , Bumantik (ibu pemantau jentik), Wamantik (Siswa pemantau jentik).. Variabel Proses terdiri dari (1) Pencarian . penderita termasuk kategori baik, (2) penanggulangan focus termasuk kategori sedang, (3) Penyelidikan epidemiologi termasuk kategori sedang, (4) Fogging focus termasuk kategori sedang: (5) Fogging masal yang terencana tennasuk kategori kurang, (6) Abatisasi selektif termasuk kategori baik 1; (7) PSN termasuk kategori kurang; (8) Penyuluhan melalui filter TV, spot radio, slide bioskop termasuk kategori baik (9) Survei ctasaruntuk sosial marketing teramsuk kategori sedang (10) Ceramah klinik, Poster, leaflet, dB termasuk kategiri baik, (11) Survei penilaian Program Pemberantasan DBD Cara pengumpulan data penelitian kuantitatif dengan desk review data yang sudah ada, wawancara menggunakan kuesioner, dan observasi adanya jentik nyamuk Data kualitatif dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara mendalam. Cara Analisis data secara deskriptif Hasil penelitian Input dan kategorinya terdiri dari (1) Perilaku masyarakat terutama adalah pengetahuan dan praktek masyarakat berkaitan dengan penanggulangan DBD termasuk kategori sedang, sumber informasi tentang DBD yang paling banyak diakses masyarakat adalah Televisi, (2) Sumber daya manusia terutama adalah jenis dan jumlah petugas kesehatan yang langsung menangani penanggulangan DBD termasuk kategori sedang, (3) Sarana penanggulangan DBD Berita adanya pedoman penanggulangan DBD dan sarana pemberantasan nyamuk (kebijakan, peralatan, biaya) termasuk kategori baik, (4) Kondisi Lingkungan biologis yaitu adanya nyamuk Aedes dan lingkungan fisik yaitu adanya penampungan (container) air untuk sarang nyamuk termasuk kategori sedang 1 (5) Kondisi lingkungan sosial budaya, termasuk adanya dukungan politik dan kader kesehatan , Bumantik (ibu pemantau jentik), Wamantik (Siswa pemantau jentik), termasuk kategori baik. Total skor dari input dalam penanggulangan DBD di Surabaya sebesar 70% dari nilai ideal berarti termasuk dalam kategori sedang. Hasil Proses Penanggulangan DBD yaitu (1) Pencarian penderita termasuk kategori baik, (2) penanggulangan focus termasuk kategori sedang; (3) Penyelidikan epidemiologi termasuk kategori sedang, (4) Fogging focus termasuk kategori sedang; (5) Fogging masal yang terencana termasuk kategori kurang, (6) Abatisasi selektif termasuk kategori baik 1; (7) PSN termasuk kategori kurang; (8) Penyuluhan melalui filter TV, spot radio, slide bioskop termasuk kategori baik (9) Survei dasar untuk sosial marketing teramsuk kategori sedang (10) Ceramah klinik; Poster, leaflet, dil termasuk kategori baik, (11) Survei penilaian Program Pemberantasan DBD termasuk kategori kurang. Total skor dari proses dalam penanggulangan DBD di Surabaya sebesar 47.62% dari nilai ideal berarti termasuk dalam kategori kurang.. Persepsi tokoh masyarakat (PKK dan pejabat Dinkes) tentang pelaksanaan P2 DBD di Surabaya selama ini. masih perlu ditingkatkan berdasar fakta bahwa kejadian DBD cenderung meningkat. Diakui bahwa penanggulangan /program pemberantasan DBD masih belum dilaksanakan sepenuhnya secara sempurna. Peran tokoh masyarakat yang formal sudah mendukung progam ini. tetapi seringkali kurang koordinasi dengan berbagai pihak yang potensial membantu. Misalnya kerjasama dengan PKK , Diknas, Pemerintah Kota, pihak swasta, dan lainnva. Pemerintah daerah sudah memberikan Dukungan politis untuk meningkatkan kegiatan Penanggulangan DBD. Peran serta masyarakat jugs sudah nampak dalam berbagai kegiatan PSN. Akan tetapi dengan adanya ABJ yang masih rendah masih perlu digiatkan lagi. Kesimpulan penelitian 1) Terdapat kesenjangan antara pedoman P2 DBD dari WHO, Depkes RI dan pelaksanaan P2 DBD di Surabaya berdasar input dan proses terutama dalam hal perencanaan, kelancaran pelaporan kasus, kerjasama dengan instansi lain baik pemerintah maupun swasta termasuk masyarakcat dan LSM, 2) Pengetahuan dan praktek masyarakat tentang P2 Dab di Surabaya dalam kategori sedang.. 3). Model hipotetik penanggulangan DBD di Surabaya disusun secara prioritas pada proses meliputi kegiatan (1) Fogging masal terancana, (2) Pemberantasan Sarang Nyamuk, (3) Survei penilaian Program Pemberantasan DBD, (4) Penyelidikan epidemiolog, (5) Fogging fokus, (6) Abatisasi selektif, (7) Survei dasar untuk sosial marketing, (8) Pencarian penderita dan penanggulangan fokus, (9) Penyuluhan melalui filter TV, spot radio, slide bioskop, (10) Ceramah klinik; Poster, leaflet, dll, Sedangkan pada input berturut-turut prioritasnya adalah (1) Perilaku masyarakat, (2) Sumber daya manusia, (3) Kondisi Lingkungan biologis, (4) Sarana penanggulangan DBD, dan (5) Kondisi lingkungan sosial budaya. Saran yang diajukan adalah 1) Perlu penataan clang perencanaan kegiatan penanggulangan DBD di Surabaya yang melibatkan para stakeholder. Sebaiknva dilakukan lokakarya khusus untuk membahas masalah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan penanggulangan DBD tesebut, 2) Perlu peningkatan kegiatan pendidikan kesehatan tentang Penanggulangan DBD dengan menggunakan berbagai media, 3) Perlu Pilot Projek untuk menerapkan Model yang diusulkan sebelum diterapkan di wilayah yang lebih luas. </description

Item Type: Other
Additional Information: KKC KK LP 125/08 Sus m
Uncontrolled Keywords: PENANGGULANGAN INTENSIF DEMAM BERDARAH
Subjects: R Medicine
Divisions: Unair Research > Exacta
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Florentina Sustini, Dr. dr., MSUNSPECIFIED
Susilowati Andajani, dr. MS.UNSPECIFIED
Atika, S.Si.M, M.KesUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 28 Oct 2016 23:23
Last Modified: 21 Jun 2017 18:03
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/40487
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item