DETERMINAN INSTITUSI SOSIAL PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT PERAN TRANSlSI DAN PELUANG KERJA WANlTA DI DESA IDT (Studi Identifikasi Faktor Pendukung dan Penghambat Peluang Kerja dan Pengembangan Potensi Wanita Sebagai Upaya Meningkatkan Peran Transisi Kaum Wanita dl Desa IDT)

MUSTA'IN, Drs., MSi. (1997) DETERMINAN INSTITUSI SOSIAL PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT PERAN TRANSlSI DAN PELUANG KERJA WANlTA DI DESA IDT (Studi Identifikasi Faktor Pendukung dan Penghambat Peluang Kerja dan Pengembangan Potensi Wanita Sebagai Upaya Meningkatkan Peran Transisi Kaum Wanita dl Desa IDT). UNIVERSITAS AIRLANGGA, Surabaya. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (RINGKASAN)
gdlhub-gdl-res-2014-mustain-31875-2.ringk-.pdf

Download (198kB) | Preview
[img]
Preview
Text (HALAMAN DEPAN)
41851 HLMN DPN.pdf

Download (382kB) | Preview
[img] Text (BAB 1-4)
41851 BAB 1-4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
[img] Text (LAMPIRAN)
41851 DAPUS.pdf
Restricted to Registered users only

Download (348kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Salah satu sebab utama mengapa kaum wanita berada dalam posisi tersubordinasi karena kurangnya akses ekonomi dalam keluarga. Untuk itu. diperlukan upaya pemberdayaan mealui aktifitas-aktifitas ekonomi produktif sehingga akses wanita dalam membantu ekonomi keluarga bisa lebih ditingkatkan. Pentingnya aktifitas produktif kaum wanita tidak saja untuk kepentingan penguatan posisi dengan laki-laki (suami), melainkan juga sangat strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan. Penelitian ini dilakukan antara lain dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya penggalian potensi yang ada pada kaum wanita di desa-desa miskin (lDT). Karena itu, tujuan penelitian ini tak lain adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi potensi-potensi yang ada dan yang bisa dikembangkan pada wanita di desa IDT sebagai upaya meningkatkan peran mereka dalam kegiatan produktif. Penelitian dilakukan di dua desa IDT Kabupaten Dati II Tulungagung. Populasi penelitian ini adalah wanita yang berasal dari kalangan keluarga-keluarga miskin. Jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 100 wanita sebagai responden utama. Responden dipilih secara purpusive. Secara rinci, kriteria responden yang dipilih adalah (1) wanita yang sudah berkeluarga, (2) termasuk: dalam katagori keluarga miskin (keluarga pra-sejahtera dan keluarga sejahtera I), dan (3) wanita yang bekerja. baik kerja paruh waktu maupun wanita yang bekerja secara penuh. Data dalam penelitian ini akan dikumpulkan melalui tiga cara. Pertama, melakukan wawancara langsung kepada responden dan informan terkait. Wawancara dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, melakukan wawancara berdasar panduan kuesioner terstruktur; sedang dengan suami dan informan lain wawancara dilakukan dengan panduan pedoman wawancara (interview guide), Semua wanita yang diwawancarai telah berkeluarga dan dalam penelitian ini telah bekerja di mana lebih dari 90 persen bekerja di sektor industri kerajinan border, batik dan kerajinan kayu. Mereka bekerja secara turun temurun sehingga ketrampilan yang mereka punyai pun juga masih tradisional meski diakui disana-sini sudah mulai ada inovasi baru yang masuk. Penelitian ini menemukan bahwa hampir semua institusi sosial yang ada kian kurang berperan lagi membantu menyelesaikan tugas-tugas domestik wanita; kecuali dalam beberapa hal seperti orang tua dan mertua yang fungsinya terbatas pada pengasuhan anak. Keberadaan institusi-institusi sosial seperti tetangga, mertua dan atau orang tua ternyata tidak: banyak mendukung terhadap peran transisi wanita. pekerja di dua desa penelitian. Malah, dalam banyak hal. Keberadaan institusi sosial yang ada, khususnya tetangga dekat atau famili dekat, hampir tidak berfungsi mendukung sama sekali terhadap peran transisi wanita. Namun demikian, ada beberapa institusi tertentu yang masih bisa diharapkan bias membantu meningkatkan peran transisi wanita di dua desa penelitian. Institusi tersebut adalah institusi agama. Forum-forum seperti pengajian-pengajian yang di dua des a penelitian ada 4-5 kegiatan pengajian agama menurut responden adalah sangat strategis dimanfaatkan untuk keperluan Sosialisasi nilai-nilai kesetaraan gender Sebab, kedua desa yang diteliti dikenal sebagai "desa santri" sehingga dalam banyak hal pengaruh nilai-nilai agama, utamanya nilai yang berasosiasi memperkuat idiologi gender masih relatif kuat menyelimuti hubungan social laki-laki-perempuan. Sebab, meskipun sebagian besar responden mengaku kalau suaminya sudah tidak sekolot dan selaku laki-laki yang maunya menang sendiri, namun dalam banyak hal jika terjadi konflik dengan suami, para suami umumnya cenderung merujuk kepada nilai-nilai agama yang memperkuat idiologi gender. Sebagaimana umumnya pendidikan kaum wanita di daerah pedesaan. apalagi di desa IDT, maka jenjang pendidikan yang ada pada dua desa penilitian pun lebih dari tiga perempat hanya sampai Sekolah Dasar. Meski ada sebagian wanita yang mempunyai ketrampilan khusus seperti menjahit, membuat kue-kue dan masakan-masakan khas tertentu, computer, tata buku dan jenis ketrampilan lainnya, namun semuanya itu tidak banyak berarti banyak. Sebab para wanita kembali ''terjebak'' ke dalam aktifitas pekerjaan rutin tradisional yang diwarisinya secara turun temurun, yakni sebagai tukang bordir, membatik dan ketrampilan. Karena itu, jenis ketrampilan yang cocok dikembangkan kepada para wanita di dua desa penelitian adalah yang berkaitan dengan ketrampilan tradisional mereka dan teknik/strategi pemasarannya. Sumbangan ekonomi wanita terhadap ekonomi keluarga relatif besar. Meski demikian, ternyata besaran sumbangan ekonomi wanita tersebut tidak banyak berpcnganm terhadap beban pekerjaan domestik yang secara tradisional dibebanknn kepada para wanita. Yang kelihatan adalah adanya pengakuan dan para suami bahwa istri mereka diakui cukup membantu ekonomi keluarga bisa dibanggakan dan mempunyai ketahanan fisik yang sangat kuat melebihi laki-laki. Para laki-laki juga menyadari kalau sudah seharusnya beban berat istrinya perlu dibantu tanpa melihat jenis pekerjaannya. Namun, niatan itu menjadi memudar hanya karena adanya “labeling" masyarakat yang masih melihat aneh dan dinilai "kalah" dengan istrinya kalau sampai membantu pekerjaan-pekerjaan domestic. Meski demikian, aktifitas wanita dalam kegiatan di luar rumah diakui atau tidak akan banyak memberikan nuansa-nuansa baru. Hasil penelitian ini memperlihat bahwa keterlibatan para wanita dalam kegiatan produktif lebih banyak oleh faktor warisan. Artinya, sudah sejak lama kedua desa penelitian telah dikenal dan terkenal dengan jenis ketrampilan tersebut. Bedanya, sejak satu dekade terakhir ini volume, intensitas dan skalanya semakin besar sehingga mcmungkinkan melibatkan kaum wanita lebih besar. Para suami umumnya tidak keberatan, bahkan acapkali justru sangat mendukung istrinya bisa bekerja. Selain itu para suami juga mengaku tidak keberatan apalagi merasa terhina jika istrinya berpenghasilan lebih tinggi atau mempunyai jabatan 1ebih tinggi. Meski demikian, para suami (ternyata juga sebagian besar istri) masih merasa keberatan kalau tugas-tugas domestik dibantu apalagi diserahkan dan atau dibebankan kepada suaminya. Peluang-peluang pekerjaan yang menurut responden bisa dan terbuka dikembangkan sebagai upaya selain meningkat peran wanita dalam bidang ekonomi keluarga dan sekaligus untuk ikut membantu mengentas kemiskinnn adalah masih terbatas pada dunia responden yang digelutinya sekarang, yakni di sekitar kerajinan kayu dan bordir atau batik. Maksudnya, agar baik dalam mekanisme produksi maupun pemasarannya lebih diperhatikan lagi. Sccara umum dapat disimpnlkan bahwa meski dalam beberapa hal sudah ada tanda-tanda pergeseran hubungan sosial eksploitatif terhadap wanita, dan dalam banyak hal kaum wanita lebih banyak aksesnya dalam ekonomi keluarga. nanum semuanya itu masih belum banyak mengubah struktur hubungan sosial patriarkhi. Artinya posisi wanita tetap tersubordinasi dan di bawah baying-bayang idiologi gender. Peran ganda yang disandang wanita ternyata justru semakin memberatkan tugas dan beban tanggungjawab wanita; dan ironisnya, status itu, tidak dibarengi dengan peran ganda pria (suaminya).

Item Type: Other
Additional Information: KKB KK-2 331.4 Mus d-1
Uncontrolled Keywords: Institusi sosial; Transisi; Peluang kerja; Wanita
Subjects: H Social Sciences > HF Commerce > HF5549-5549.5 Personnel management. Employment
H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform > HN1-995 Social history and conditions. Social problems. Social reform
Divisions: Unair Research > Non-Exacta
Creators:
CreatorsEmail
MUSTA'IN, Drs., MSi.UNSPECIFIED
Depositing User: Tn Joko Iskandar
Date Deposited: 28 Oct 2016 22:23
Last Modified: 13 Jun 2017 21:31
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/41851
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item