MODEL, STRATEGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERBASIS KOMUNITAS LOKAL UNTUK MENCEGAH DAN MENGHADAPI BENCANA DI DESA-DESA SEKITAR DAERAH LERENG GUNUNG KELUD, KABUPATEN KEDIRI, JAWA TIMUR

Rustinsyah, Dr., M.Si and H. Muhammad Adib, Drs., MA (2013) MODEL, STRATEGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERBASIS KOMUNITAS LOKAL UNTUK MENCEGAH DAN MENGHADAPI BENCANA DI DESA-DESA SEKITAR DAERAH LERENG GUNUNG KELUD, KABUPATEN KEDIRI, JAWA TIMUR. Universitas Airlangga, Surabaya. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-res-2014-rustinsyah-36463-3.-ringk-n.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT TIDAK TERSEDIA)
gdlhub-gdl-res-2014-rustinsyah-36463-16.-daft-a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Kerusakan lingkungan di desa-desa sekitar lereng Gunung Kelud tidak bisa dihindari. Hal itu disebabkan adanya bencana alam dan perilaku manusia dalam menjaga lingkungannya. Bencana alam seperti gunung meletus yang kemudian diikuti banjir atau rusaknya tanaman keras di sekitar gunung. Messkipun adanya gunung berapi memberikan manfaat daerah sekitarnya yaitu membawa kesuburan tanah. Perilaku-perilaku manusia sekitar dalam menjaga lingkungannya ada yang baik dan buruk. Perilaku buruk dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang ada kalanya tidak disengaja. Sepertihalnya yang terjadi di desa sekitar lereng gunung, misalnya perubahan pola tanam di area kebun kopi rakyat, penebangan liar, kebakaran hutan dan sebagainya. Hilangnya tanaman keras di lereng gunung akan mengurangi fungsi hutan bagi kehidupan manusia di sekitarnya. Kerusakan daerah lereng gunung dirasakan warga Desa Besowo seperti meningkatnya suhu udara di pedesaan, banjir lahar dingin yang disertai dengan potongan kayu besar yang terjadi pada tahun 2008/2009, air keruh pada musim hujan akibat �damlak� sebagai tempat penampungan air terkena longsoran tanah di sekitar hutan dan sebagainya. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan metode pengumpulan kualitatif pada bulan Mei hingga Oktober 2013 di Desa Besowo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Desa tersebut merupakan salah satu desa di Kawasan Rawan Bencana Lereng Gunung Kelud. Keberadaan Desa Besowo sudah ada sejak jaman Belanda dan bahkan di desa terdapat pabrik kopi milik Belanda. Penelitian ini bertujuan untuk: a) mendapatkan model, strategi pengelolaan lingkungan berbasis komunitas lokal di desa daerah lereng gunung untuk mencegah dan menghadapi bencana; b)) Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pengelolaan lingkungan daerah lereng Gunung Kelud. Untuk itu akan dilakukan penelitian dengan metode kualitatif di Desa Besowo yang merupakanm daerah lereng Gunung Kelud, Kediri. Pengumpulan data dengan wawancara dengan elemen-elemen masyarakat lokal yang memiliki sumbangan terjadinya kerusakan lingkungan lereng gunung dan yang bertisipasi mengelola,menjaga lingkungan dan orang-orang atau institusi yang siap membantu apabila ada bencana. Peneliti juga melakukan observasi langsung ke daerah-daerah penelitian untuk mengamati secara langsung kondisi lingkungan desa-desa di lereng gunung. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: a) sejak terjadinya banjir yang melanda Desa Besowo dan rusaknya DAMLAK akibat tanah longsor menimbulkan kesadaran untuk menjaga lingkungan khususnya di daerah hutan lindung, hutan produktif dan daerah perkebunan kopi rakyat. Kerusakan hutan di sekitar DAMLAK hingga sekarang mengakibatkan air untuk kebutuhan warga desa menjadi keruh akibat terkena longsoran tanah di sekitarnya. b) peningkatan suhu udara di daerah pedesaan. Di area kebun kopi rakyat terjadi perubahan pola tanam dari tanaman keras perkebunan menjadi tanaman musiman hortikultura. Tanaman keras di area ini hanya tersisa kurang lebih 15%, selebihnya pemiliknya mengganti dengan tanaman hortikultura musiman. Strategi-strategi menjaga, mengelola lingkungan di Desa Besowo berbatasan langsung dengan kawasan hutan dan merupakan daerah lereng gunung dilakukan secara individu maupun lembaga. Strategi menjaga, pengelolaan lingkungan lereng gunung adalah Pertama, gerakan menanam tanaman keras di area kebun kopi rakyat untuk mengembalikan pola tanam dengan tanaman keras di area perkebunan kopi rakyat. Hal itu didukung oleh pemerintah dengan program tanaman kakao oleh Dinas Perkebunan yang mempunyai kantor cabang di Desa Besowo. Kedua, membangun kerjasama antara masyarakat hutan yaitu Dusun Sidodadi dan Perhutani. Pola kerjasama adalah masyarakat Dusun Sidodadi mendapatkan hak pakai tanah pekarangan untuk didirikan rumah dan melakukan usaha tani di selasela tanaman keras milik perhutani. Masyarakat Dusun Sidodadi yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan memiliki kewajiban: a) untuk menjaga, memelihara tanaman keras atau pohon milik perhutani di area lahan garapan; b) ikut menjaga kelestarian, keamanan hutan produktif dan hutan lindung dengan tugas secara bergiliran seagai penjaga keamanan selama 24 jam. c) melakukan kerja bakti atau gotong royong untuk menjaga infrastruktur sekitar hutan seperti memperbaiki jalan agar kendaraan sperti truk tidak mengalami kesulitan dalam operasional kegiatan seperti mengangkut kayu, bibit tanaman dan sebagainya; d) bersedia membantu tenaga kerja apabila diperlukan perhutani. Ketiga, memberdaykan peran LSM �Jangkar Kelud� untuk menjaga lingkungan dan menyiapkan team siaga guna membantu jika terjadi bencana alam seperti banjir lahar dingin dan sebagainya. Kegiatan-kegitan yang dilakukan antara lain a) melakukan kegiatan �lokal latih� kepada warga desa ketika menghadapi bencana, memasukkan pelajaran penanganan bencana sebagai pelajaran muatan lokal di Sekolah Dasar, b) membantu melakukan penghijauan di daerah rawan bencana, misalnya bekerja sama dengan perusahaan rokok Sampurna melakukan penghijauan menanam pohon Pucung dan bambu di dekat sumber sumber air di Kecamatan Kasembon; c) membantu operasional kegiatan untuk mengefektifkan radio komunitas di daerah rawan bencana. Adanya radio komunitas akan memberikan informasi terjadinya peristiwa alam yang mungkin berdampak sebagai bencana, misalnya adanya angin puting beliung, hujan yang dapat mengakibatkan banjir dan sebagainya. Biaya untuk penyiaran radio komunitas diambilkan dari kas desa dan penyiar-penyiar berasal dari aktifis jangkar kelud. Keempat, melakukan ritual pada bulan September di tempat penampungan air �Damlak�. Ritual itu dilakukan oleh kelompok masyarakat Hindu dari Desa Besowo. Hal itu sebagai upaya masyarakat agar tidak terjadi bencana di desa ini dan memohon agar sumber air DAMLAK terjaga dengan baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan warga desa. Kelima, melakukan gotong royong dan memeberikan tugas khusus kepada Jogotirto untuk menjaga �Damlak�. Gotong royong di tingkat desa yang dikordinir oleh Jogotirto dan aparat desa. Gotong royong di tingkat pedusunan biasanya dikordinir oleh kepala dusun , tukang talang tergantung kegiatannya.

Item Type: Other
Additional Information: KKB KK-2 LP. 40-14 Rus m
Uncontrolled Keywords: pengelolaan lingkungan, bencana, Kediri
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences > GE300-350 Environmental management
Divisions: Unair Research > Non-Exacta
Creators:
CreatorsEmail
Rustinsyah, Dr., M.SiUNSPECIFIED
H. Muhammad Adib, Drs., MAUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 26 Oct 2016 17:55
Last Modified: 26 Oct 2016 17:55
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/42462
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item