UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK DAN INFUSA COLEUS AMBOINICUS, LOUR MENGGUNAKAN ESEI MTT

Devi Rianti, drg., M.Kes. (2006) UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK DAN INFUSA COLEUS AMBOINICUS, LOUR MENGGUNAKAN ESEI MTT. UNIVERSITAS AIRLANGGA, Surabaya. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-res-2008-riantidevi-6437-lp2508-k.pdf

Download (1MB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-res-2008-riantidevi-6437-lp2508.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Saat ini pemerintah Indonesia sedang menggalakkan pemakaian bahan tradisional sebagai bahan alternatif pengobatan, karena Indonesia kaya akan tanaman berkhasiat obat. Beberapa obat tradisional yang berasal dari tumbuhan yang dapat dipakai sebagai obat kumur dan dapat berfungsi sebagai antiseptik maupun desinfektan antara lain adalah daun semanggi, daun jinten (Coleus amboinicus,Lour), daun sirih, gambir, daun saga dan daun kacapiring. Daun jinten dengan nama latin Coleus amboinicus Lour. Kandungan daun tersebut adalah minyak atsiri antara lain fenol, karvakrol, isopropil -o- kresol dan sineol. Pada umumnya ketersediaan bahan ekstrak lebih sulit didapat, sehingga perlu alternatif cara pengolahan bahan tanaman obat. Menurut bcberapa penelitian, pengolahan tanaman obat dengan teknik infusa ternyata lebih baik daripada penjerangan atau perebusan. Kelebihan infusa adalah mudah cara pembuatannya dan sudah memasyarakat. Disamping itu harga lebih murah karena tidak memerlukan perlakuan khusus dan peralatan yang mutakhir. Pada penggunaan ekstrak dan infusa CAL sebagai alternatif obat kumur maka akan kontak dengan mukosa rongga mulut. Menurut Hugo dan Russel (1989) senyawa fenol bersifat toksik pada konsentrasi yang tinggi. Salah satu pengujian untuk menentukan berbagai sifat baik sebagai desinfektan maupun antiseptik menggunakan uji sitotoksisitas terhadap jaringan (Maat, 2001). Telah dilakukan penelitian eksperimental laboratoris mengenai uji sitotoksisitas ekstrak dan infusa Coleus amboinicus, Lour menggunakan esei MTT. Diharapkan dari penelitian ini dapat diketahui konsentrasi ekstrak dan infusa Coleus amboinicus, Lour sitotoksisitas rendah terhadap Cell lines BHK-21. Penelitian ini menggunakan ekstrak Coleus amboinicus, Lour dengan konsentrasi 7,5%, 10%, 12,5%, 15% dan infusa Coleus amboinicus, Lour dengan konsentrasi 12,5%, 15%, 17,5%, 20%, 22,5% . Sitotoksisitas diukur dengan Esei MTT yang ditandai oleh dehidrogenase pada mitokondria yang aktif, menghasilkan produk formazan biru keunguan yang tidak larut. Produksi formazan dapat dihitung dengan melarutkannya dan mengukur densitas optik dari larutan yang dihasilkan. Reaksi warna biru keunguan digunakan sebagai ukuran dari jumlah sel hidup dengan bantuan alat spektrofotometer dengan panjang gelombang 630 nm. Analisis data yang digunakan adalah analisis Anava satu arah, kemudian dilanjutkan dengan LSD dengan taraf kemaknaan 5%. Kesimpulan yang diperolch dari penelitian ini adalah konsentrasi larutan ekstrak Coleus amboinicus, Lour yang semakin meningkat, yaitu 7,5%, 10%, 12,5%, 15% maka semakin tinggi sitotoksisitasnya. Konsentrasi larutan infusa Coleus amboinicus, Lour yang semakin meningkat, yaitu 12,5%, 15%, 17,5%, 20%, 22,5% maka semakin tinggi sitotoksisitasnya. Persentase sel BHK-21 yang hidup pada konsentrasi larutan ekstrak maupun infusa tersebut semuanya masih diatas 80%, sehingga larutan ekstrak dan infusa CAL tidak toksik.

Item Type: Other
Additional Information: KKA KK LP 25/08 Ria u ABSTRAK JADI SATU SAMA FULLTEXT
Uncontrolled Keywords: UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK; INFUSA COLEUS AMBOINICUS
Subjects: R Medicine > RK Dentistry
S Agriculture > SB Plant culture > SB621-795 Plant pathology
Divisions: 02. Fakultas Kedokteran Gigi
Unair Research > Exacta
Creators:
CreatorsEmail
Devi Rianti, drg., M.Kes.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Elvi Mei Tinasari
Last Modified: 15 Sep 2016 02:34
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/42898
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item