MENGUAK KONSEP DAN NILAI KEHIDUPAN MASYARAKAT TIONGHOA LEWAT ANALISIS WACANA RITUAL TAHUN BARU IMLEK

Ni Wayan Sartini, Dra., M.Hum. and Luita Aribowo (2005) MENGUAK KONSEP DAN NILAI KEHIDUPAN MASYARAKAT TIONGHOA LEWAT ANALISIS WACANA RITUAL TAHUN BARU IMLEK. UNIVERSITAS AIRLANGGA, Surabaya. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-res-2008-sartininiw-6864-lp1440-k.pdf

Download (354kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-res-2008-sartininiw-6864-lp14408.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Banyaknya konsep hidup masyarakat Tionghoa yang diacu masuk oleh masyarakat selain Tionghoa merupakan salah satu latar belakang ketertarikan terhadap penelitian. Di samping itu hubungan yang lebih terbuka dengan masyarakat Tionghoa khususnya yang beragama Konghucu membuat rasa ingin tahu yang mendalam terhadap pandangan dan konsep serta nilai-nilai kehidupan yang dijalankan oleh masyarakat Tionghoa. Sehubungan dengan itu pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk wacana ritual ,tahun baru Imlek dan nilai serta konsep apa yang terkandung di dalam doa tersebut? Penelitian ini dilakukan di salah satu. kelenteng tua yaitu kelenteng Boen Bio. Sebagai sumber data adalah doa-doa yang dibaca pada saat perayaan tahun baru Imlek yang sifatnya terbuka. Data dikumpulkan juga lewat wawancara dan penelusuran pustaka. Analisis data bersifat kualitatif karena didasarkan atas suatu persepsi bahwa penelitian ini lebih banyak bekerja pada tataran reinterpretatif terhdap nilai-nilai serta makna-makna dalam semiotika teks dalam hal ini wacana ritual Imlek. Masyarakat Tionghoa yang beragama Konghucu dalam perayaan tahun baru Imlek melakukan beberapa kali persembahyangan yaitu yang diawali dengan sembahyang pada hari Persaudaraan, Persembahyangan penutup akhir tahun, King Thi Kong dan Capgome. Pada masing-masing doa persembahyangan tersebut terkandung makna yang sangat diyakini oleh masyarakat Tionghoa yang beragama Konghucu. Pada prinsipnya masyarakat Tionghoa Konghucu sangat memegang teguh ajaran -ajaran seperti satya, firman, harmoni dan kebajikan. Satya atau tiong berarti kesetiaan dalam melaksanakan firman Thian dan menjaga harmoni atau hoo dan selalu menjalankan kebajikan. Harmoni dalam anti menyeimbangkan antara sifat-sifat yang baik (yang) dan sifat-sifat buruk (yin). Setiap umat Konghucu harus selalu melaksanakan pat tik atau delapan kewajiban insani yaitu hoo berbakti, tee. rendah hati, tiong satya, lee susila, gie menjunjung kebenaran, liansuci hati , sien dapat dipercaya , thee tahu malu atau harga diri. Perayaan tahun baru Imlek pada dasarnya bermakna kegembiraan (kebahagiaan) dalam menyambut hari yang baru dan melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukan pada hari-hari yang lalu. Kegembiraan itu ditunjukkan dengan symbol warna merah pada perlengkapan upacara dan jenis-jenis buah dan kue tertentu yang sarat dengan makna dan filosofi kehidupan. Oleh sebab itu perayaan tahun baru Imlek adalah ritual simbolis sebab setiap benda selalu diyakini memiliki kekuatan dan pengaruh dalam kehidupan masyarakat Tionghoa.

Item Type: Other
Additional Information: KKB KK-2 LP 144/08 Sar m
Uncontrolled Keywords: MASYARAKAT TIONGHOA; TAHUN BARU IMLEK
Subjects: K Law > KB Religious law in general > KB1-4855 Religious law in general. Comparative religious law. Jurisprudence > KB400-4855 Interdisciplinary discussion of subjects > KB400 Ritual law. Religious observances and rituals
P Language and Literature > PL Languages and literatures of Eastern Asia, Africa, Oceania > PL1001-3208 Chinese language and literature
Divisions: Unair Research > Non-Exacta
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Ni Wayan Sartini, Dra., M.Hum.UNSPECIFIED
Luita AribowoUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Elvi Mei Tinasari
Last Modified: 14 Sep 2016 04:57
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/42919
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item