KAJIAN POTENSI PEMAKAIAN STRUKTUR KALIMAT NON IMPERATIF DAN PERFORMATIF UNTUK FUNGSI DIREKTIF DALAM TINDAK TUTUR BAHASA JAWA

Nur Wulan, Dra., M.A. and Moch. Jalal, S.S. and Puji Karyanto, S.S. (2005) KAJIAN POTENSI PEMAKAIAN STRUKTUR KALIMAT NON IMPERATIF DAN PERFORMATIF UNTUK FUNGSI DIREKTIF DALAM TINDAK TUTUR BAHASA JAWA. UNIVERSITAS AIRLANGGA, Surabaya. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-res-2008-wulannur-6847-lp1050-t.pdf

Download (488kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-res-2008-wulannur-6847-lp10508.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan (1) Bagaimanakah gambaran umum penggunaan struktur kalimat bukan imperatif atau permormatif untuk fungsi direktif dalam tindak tutur bahasa Jawa? (2) Selain imperatif dan performatif, modus-modus kalimat apa saja yang bisa digunakan sebagai fungsi direktif dalam tindak tutur bahasa Jawa? Secara umum pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana penggunaan modus-modus direktif selain konstruksi imperatif dan performatif dalam tindak tutur bahasa Jawa. Untuk itu, hal-hal yang menjadi tujuan pengungkapan persoalan penelitian ini meliputi penjabaran cara pengungkapan bentuk-bentuk kalimat bukan imperatif atau performatif untuk fungsi direktif dalam tindak tutur bahasa Jawa dialek Surabaya. Eksplorasi berbagai modus pertuturan yang sering digunakan untuk fungsi direktif dalam tindak tutur bahasa Jawa, yang bukan merupakan pertuturan imperatif dan performatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan harapan akan bisa diperoleh gambaran lebih rinci berkaitan dengan subjek yang diteliti, yaitu mengenai pemakaian tindak tutur direktif yang digunakan dalam bahasa Jawa dialek Surabaya. Peneliti mengadakan kajian data kebahasaan yang berupa kaset rekaman ludruk Surabaya, karena pada dasarnya kaset rekaman cerita ludruk merupakan potret pemakaian bahasa riil masyarakat Surabaya yang juga menggambarkan berbagai setting sosiolinguistik dan pragmatik secara jelas dan gamblang. Berkaitan dengan banyaknya kaset cerita ludruk Surabaya yang ada, peneliti tidak melakukan penentuan sampel secara kuantitatif Dengan kata lain, tidak diadakan pembatasan jumlah kaset maupun pemilihan kelompok ludruk tertentu sebagai sampel. Peneliti justru akan mengkaji berbagai kaset rekaman cerita ludruk yang ada guna menjaring keberagaman tindak tutur direktifnya. Pada pemakaian bahasa Jawa dialek Surabaya, fungsi direktif dapat ditemukan modus-modus pertuturan berikut: pernyataan keinginan, pernyataan saran, modus bertanya, modus pemberian isyarat, dan nglulu. Pernyataan keinginan, yaitu perintah atau permintaan kepada mitra tutur yang diungkapkan dengan pernyataan keinginan terhadap sesuatu. Keinginan yang diungkapkan kepada mitra tutur ini bisa pernyataan keinginan penutur terhadap sesuatu, atau pernyataan keinginan penutur supaya mitra tutur melakukan sesuatu. Pernyataan saran, yaitu suatu perintah atau suruhan penutur pada mitra tutur, yang diungkapkan dengan mengemukakan saran tertentu. Ungkapan pernyataan saran ini umumnya digunakan untuk tujuan memperhalus nilai imperatif yang akan disampaikan pada mitra tutur. Sebaliknya, pemakaian ungkapan saran justru bisa digunakan untuk mempertegas nilai imperatif yang akan disampaikan pada mitra tutur. Modus bertanya, yaitu permintaan atau perintah kepada mitra tutur yang diungkapkan dengan mengajukan pertanyaan kepada mitra tutur itu. Dalam pemakaian tindak direktif bahasa Jawa, modus bertanya bisa dibedakan atas: (a) Persiapan bertanya, yaitu mengajukan pertanyaan dahulu kepada mitra tutur, bisa atau tidak kalau seandainya penutur akan minta tolong atau menyuruh dia melakukan suatu tindakan. (b) Bertanya tentang sesuatu, yaitu mengajukan pertanyaan murni terhadap suatu obyek tertentu, padahal maksud sesungguhnya supaya mitra tutur mau melakukan sesuatu berkaitan dengan apa yang ditanyakannya itu. (c) Pemberian saran, yaitu mengajukan sebuah saran yang berbentuk pertanyaan terhadap mitra tutur, dengan tujuan supaya mitra tutur bertindak sesuai dengan saran yang diajukan tersebut. (d) Sindiran, penutur mengungkapkan sindiran kepada mitra tutur dalam bentuk kalimat tanya, supaya mitra tutur melakukan sesuatu seperti apa yang disindirkan kepadanya. (e) Mengingatkan, yaitu bertanya kepada mitra tutur seperti orang yang sedang mengingatkan, bahwa mitra tutur sudah melakukan sesuatu atau belum. Meskipun demikian tujuannya supaya mitra tutur segera melakukan sesuatu berkaitan dengan apa yang sedang diingatkan kepadanya itu. Modus pemberian isyarat_pada saat menyuruh mitra tutur melakukan sesuatu tindakan tertentu, penutur mengungkapkannya dengan bentuk kalimat berita yang berisi sebuah isyarat. Isyarat yang disampaikannya merupakan gambaran situaional yang berhubungan dengan sesuatu yang dikehendaki sebenarnya. Nglulu, yaitu perintah kepada mitra tutur yang diungkapkan dengan sebuah pernyataan kebalikan dengan fakta yang dikehendaki sebenarnya. Jika seandainya penutur menyuruh pergi mitra tutur, berarti sebenarnya penutur menghendaki supaya mitra tutur tidak pergi.

Item Type: Other
Additional Information: KKB KK-2 LP.105/08 Wul k
Uncontrolled Keywords: Kalimat non Imperatif; Performatif; Bahasa Jawa
Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics > P101-410 Language. Linguistic theory. Comparative grammar
P Language and Literature > P Philology. Linguistics > P98-98.5 Computational linguistics. Natural language processing
Divisions: Unair Research > Non-Exacta
Creators:
CreatorsEmail
Nur Wulan, Dra., M.A.UNSPECIFIED
Moch. Jalal, S.S.UNSPECIFIED
Puji Karyanto, S.S.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Elvi Mei Tinasari
Last Modified: 09 Sep 2016 11:44
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/43018
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item