PERCERAIAN DALAM PERSPEKTIF GENDER (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Latar Belakang Perempuan yang Melakukan Gugatan cerai Terhadap Suaminya di Kota Surabaya)

RINA DWI ASTUTI, 079715407 (2002) PERCERAIAN DALAM PERSPEKTIF GENDER (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Latar Belakang Perempuan yang Melakukan Gugatan cerai Terhadap Suaminya di Kota Surabaya). Skripsi thesis, Universitas Airlangga.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
S 18-02 Ast p.pdf

Download (399kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Saat ini banyak perempuan yang tidak mau menerima nasib mereka begitu saja. Mereka tidak mau lagi menderita dan lemah perilaku yang tadinya dianggap sebagai kewajaran dan merupakan persoalan interen keluarga, seperti perselingkuhan suami, pemukulan, pelecehan bahkan perkosaan dalam perkawinan yang notabene termasuk kekerasan, telah dianggap sebagai alasan yang cukup untuk melakukan gugatan cerai terhadap suaminya. Hal ini terbukti dengan meningkatnya angka perceraian, khususnya cerai gugat di kota Surabaya dari tahun-ketahun. Padahal dampak perceraian bukanlah masalah yang kecil, banyak kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Pada penelitian ini, permasalahan yang akan dikaji adalah bagaimana profil atau karakteristik perempuan yang melakukan gugatan cerai terhadap suaminya, hal-hal yang melatarbelakangi perempuan menggugat cerai suaminya, serta bagaimana intervensi atau campur tangan pihak lain terhadap konflik dan keputusan perempuan untuk menggugat cerai suaminya. Dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif, dimana peneliti menyajikan gambaran tentang latar belakang perempuan menggugat cerai suaminya. Dari data sekunder dan primer yang diperoleh dialasis secara kualitatif Pada dasarnya penelitian ini adalah penelitian yang berperspekstif sosiologi gender dengan lokasi penelitian diambil secara purposive yakni Surabaya. Para informan adalah perempuan yang telah secara resmi bercerai dengan cara mengajukan gugatan terlebih dahulu ke Pengadilan Agama, dan menetap di Surabaya. Para informan ini dipilih dengan menggunakan teknik, dimana melihat ruang lingkup permasalahan yang masuk lingkup pribadai maka diperlukan adanya ketersediaanl kesukarelaan dari remaja perempuan untuk menjadi informan. Pada akhimya informan yang berhasil diwawancarai sebanyak 12 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui indepth interview dengan menggunakan pedoman wawancara (gUide interview) yang lebih menyerupai dialog bebas. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis dengan dikategorikan dan diproses melalui pemetaan (mapping) dan menghubungkan k1asifikasi dengan referensi teori yang ada. Dari data yang terkumpul , informan memiliki karakteristik yaitu mayoritas menikah pertama kali pada usia yang masih muda yaitu antara 20-24 tahun, memiliki sedikit anak yaitu 1-2 anak, mayoritas bercerai pada usia perkawinan yang ke 6-10 tahun dangan didahului konflik pada tahun-tahun pertama perkawinannya, mayoritas setelah menikah informan tidak tinggal sendir, tetapi tinggal dirumah mertua atau orang tua, memiliki pendidikan yang cukup tinggi pada tingkat menengah dan atas (SMA sampai Perguruan tinggi), serta mendapatkan pola asuh dari orang tua secara demokratis dan permisif Dengan temuan dan analisis data dapat disimpulkan bahwa latar belakang informan menggugat cerai suaminya dipicu adanya perbedaan pandangan tentang perkawinan dengan kenyataan yang dialami. Selain itu juga ada perbedaan penetapan peran ideal suami dan istri dalam sebuah perkawinan. Dimana disatu sisi informan sudah mengalami perubahan peran dan status dari yag semula hanya menjadi ibu rumah tangga, menjadi seorang istri yang bisa membantu suami mencari nafkah. Para informan menuntut adanya pengertian dari pihak suami untuk bisa memahami kesulitannya dalam menjalani peran gandanya. Tetapi tampaknya dari pihak suami tidak bisa memahami kesulitan istri. Suami masih memiliki pandangan bahwa seorang suami adalah kepala rumah tangga yang memiliki kekuasaan penuh, sedangkan istri dituntut harus bisa mengetjakan tugasnya dengan baik. Adapun hal-hal yang menyebabkan perempuan menggugat cerai suaminya adalah karena suami tidak bisa menjalankan tugas dan kewajibannya terhadap rumah tangga dan anak (seperti jarang pulang kerumah, tidak memberi nafkah yang layak, dan tidak ada kepastian waktu dirumah), suami berselingkuh, adanya campur tangan dan tekanan dari pihak suami dan kerabatnya, serta karena kurangnya komunikasi, perhatian dan kedekatan emosional dengan pasangannya. Intervensi pihak lain dalam konflik sangat berperan dalam memperbesar atau memperburuk konflik yang ada. Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik maupun yang menyebabkan konflik adalah wanita lain (WIL) dengan segala caranya menarik perhatian suami informan, Mertua dan kerabat suami dengan cara ikut campur dalam pegambilan keputusan, memojokkan informan ataupun menggunakan kata-kata yang bisa menyakitkan informan. Sedangkan intervensi pihak lain dalam pengambilan keputusan informan dari pihak diluar keluarga memiliki peran yang cukup besar dalam mempengaruhi informan untuk menggugat cerai suaminya. Terlebih lagi apabila ada suatu jaminan akan adanya kehidupan yang lebih baik bagi informan setelah bercerai dari suaminya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: FULLTEXT TIDAK TERSEDIA
Uncontrolled Keywords: DIVORCE, SOSIOLOGI
Subjects: H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman
H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman > HQ1-2044 The Family. Marriage. Women > HQ503-1064 The family. Marriage. Home
H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman > HQ1-2044 The Family. Marriage. Women > HQ503-1064 The family. Marriage. Home > HQ811-960.7 Divorce
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
RINA DWI ASTUTI, 079715407UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSEPTI ARIADI, Drs., MA.UNSPECIFIED
Depositing User: shiefti dyah alyusi
Date Deposited: 08 Dec 2016 19:15
Last Modified: 13 Jun 2017 16:35
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/48792
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item