Aplikasi klinik tablet fraksi etil asetat herba sambiloto (Andrographis paniculata Nees) pada terapi malaria

Aty, Widyawaruyanti and Achmad, Fuad Hafid and lndah, S Tantular (2015) Aplikasi klinik tablet fraksi etil asetat herba sambiloto (Andrographis paniculata Nees) pada terapi malaria. Project Report. Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya. (In Press)

[img] Text (FULL TEXT)
Article C41-Laporan Pusnas 2015.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
[img] Text (PEER REVIEW)
41 Penilaian Reviewer.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Malaria masih menjadi masalah kesehatan dunia termasuk di Indonesia. Malaria diperkirakan menginfeksi 207 juta penduduk dunia pada tahun 2012 dengan angka kematian mencapai 627.000. Di Indonesia, prevalensi malaria cukup tinggi. Indonesia menduduki peringkat ke-26 di antara negara di dunia yang endemik malaria dengan prevalensi 9,19 per 100 penduduk. Penyebaran resistensi terhadap obat antimalaria yang tersedia saat ini semakin mempersulit pemberantasan penyakit malaria, sehingga pengembangan obat antimalaria yang efektif sangat dibutuhkan dalam mengatasi penyakit ini. Berdasarkan informasi empirik herba sambiloto (Andrographis paniculata) telah digunakan sebagai tanaman obat untuk mengatasi malaria pada beberapa daerah di Indonesia. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa fraksi etil asetat (EA) dari sambiloto yang mengandung senyawa diterpen lakton andrografolida terbukti dapat menghambat pertumbuhan parasit malaria pada mencit terinfeksi Plasmodium. Dari hasil uji keamanan pada hewan coba menunjukkan bahwa fraksi EA dan andrografolida dari herba sambiloto termasuk bahan yang aman, praktis dan tidak toksik. Hasil studi terhadap pengembangan formula sediaan fraksi EA sambiloto, telah dihasilkan formula yang efektif. Oleh karena itu, penelitian akan dilanjutkan pada uji efektifitas dan keamanan pada manusia. Penelitian ini akan dilakukan selama 3 tahun. Tahun pertama meliputi (a) penyiapan fraksi EA, standarisasi dan karakterisasi, (b) formulasi dan produksi sediaan tablet dari fraksi EA: penelitian skala laboratorium menjadi skala pilot, (c) penentuan dosis efektif dari sediaan tablet fraksi EA pada hewan coba. Pada tahun kedua akan dilakukan uji preklinik pada hewan coba macaca dan uji klinik fase I dari sediaan tablet fraksi EA pada manusia sehat untuk mengetahui keamanan dan kemungkinan efek samping yang muncul. Pada tahun ketiga akan dilakukan uji klinik fase II dari sediaan tablet fraksi EA pada penderita malaria. Penelitian ini dilaksanakan oleh Universitas Airlangga bekerja sama dengan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk dalam kerangka kerja konsorsium riset sebagai bentuk nyata sinergi ABG. Penelitian ini diharapkan akan menghasilkan prototip sediaan fitofarmaka antimalaria yang efektif, aman, dan berkualitas serta siap diproduksi pada skala komersial. Selain itu dari penelitian ini akan dihasilkan juga draf paten proses ekstraksi dan fraksinasi, draf paten formula serta publikasi ilmiah. 2 Hasil penelitian tahun pertama adalah: (a) Optimasi kondisi ekstraksi dan fraksinasi di Universitas Airlangga (UA):Telah diperoleh kondisi optimal ekstraksi dan fraksinasi untuk menghasilkan fraksi EA dalam skala laboratorium. Telah dilakukan scale-up proses ekstraksi dan produksi fraksi EA dari ekstrak etanol sambiloto. Pada skala laboratorium dan scale-up ekstrak dan fraksi, telah dilakukan penentuan kadar marker andrografolida terhadap ekstrak etanol 96% dan etanol 70% maupun fraksi etil asetat dari ekstrak dengan metode KLT-Densitometri.  Pada skala laboratorium: kadar andrografolida dalam ekstrak etanol 96% adalah 8,6- 10,7% sedangkan kadar andrografolida dalam ekstrak etanol 70% adalah 6,4-7,5%. Kadar andrografolida fraksi EA ekstrak etanol 96% adalah 24,3-26,75% sedangkan kadar andrografolida fraksi EA ekstrak etanol 70% adalah 28,7-30,1%.  Pada scale-up: kadar andrografolida dalam ekstrak etanol 96% adalah 9,5-15,5% sedangkan kadar andrografolida dalam ekstrak etanol 70% adalah 8,5-15,5%. Kadar andrografolida fraksi EA ekstrak etanol 96% adalah 23,6-29,6% sedangkan kadar andrografolida fraksi EA ekstrak etanol 70% adalah 30,1-35,1%.  Untuk kondisi fraksinasi ekstrak menggunakan etil asetat dipilih kondisi optimal dengan komposisi ekstrak : air : etil asetat 1:2:1. (b) Optimasi kondisi ekstraksi dan fraksinasi di PT. Kimia Farma Tbk: Telah dilakukan ekstraksi dan fraksinasi skala laboratorium dan skala pilot.  Pada skala laboratorium dihasilkan fraksi EA 96% dengan kadar andrografolida 4,47% dan fraksi EA 70% dengan kadar andrografolida 1,53%. Dilakukan pengeringan fraksi EA dengan penambahan avicel dan granulasi sehingga dihasilkan granul fraksi EA. Pada skala laboratorium dihasilkan granul fraksi EA 96% dengan kadar andrografolida 1,66% dan granul fraksi EA 70% dengan kadar andrografolida 0,75%.  Pada skala pilot dihasilkan fraksi EA 96% dengan kadar andrografolida 6,91% dan fraksi EA 70% dengan kadar andrografolida 5,72%. Granul fraksi EA 96% dengan kadar andrografolida 3,86% dan granul fraksi EA 70% dengan kadar andrografolida 3,18%. (c) Uji aktivitas antimalaria terhadap fraksi EA 96% dan fraksi EA 70% pada hewan coba yang terinfeksi Plasmodium berghei telah dilakukan. Uji dilakukan berdasarkan metode Peter’s 4 days suppressive test. Fraksi EA diberikan dengan dosis yang setara dengan 3 andrografolida 25 mg/kg BB mencit, sehari dua kali selama 4 hari. Hasil uji menunjukkan bahwa fraksi EA 96% menghambat pertumbuhan parasit sebesar 92,73 – 95,91% (rata-rata 94,36%) dan fraksi EA 70% menghambat pertumbuhan parasit sebesar 72,73 – 95,45% (rata-rata 86,55%). Fraksi EA 96% memberikan aktivitas penghambatan yang lebih baik daripada fraksi EA 70%. (d) Formulasi dan produksi sediaan tablet dari fraksi EA telah dilakukan di Universitas Airlangga. Dibuat tablet yang mengandung andrografolida 35 mg per tablet. Pada formula diperlukan 167,5 mg fraksi EA 96% per tablet sedangkan untuk fraksi EA 70% diperlukan 111,6 mg. Hasil uji keseragaman bobot tablet menunjukkan bahwa bobot rata-rata tablet kedua formula tersebut sesuai dengan rentang persyaratan yaitu sebesar 650 ± 5%. Nilai kekerasan tablet fraksi EA 96% sebesar 6,36 ± 0,21 kP dengan kerapuhan 0,77 ± 0,06% serta kekerasan tablet fraksi EA 70% sebesar 9,23 ± 0,27 dengan kerapuhan 0,83 ±0,06. Waktu hancur tablet fraksi EA 96% adalah 15-17 menit sedangkan fraksi EA 70% adalah 8 menit. (e) Uji aktivitas antimalaria terhadap sediaan tablet yaitu tablet fraksi EA 70% dan tablet fraksi EA 96% dilakukan pada mencit terinfeksi P. berghei dengan 4 dosis uji yaitu 6,25; 12,5; 25 dan 50 mg/kg BB mencit yang diberikan sehari 2 kali selama 4 hari. Hasil uji menunjukkan bahwa tablet fraksi EA 96% dengan nilai ED50 6,91 mg/kg BB mempunyai aktivitas antimalaria yang lebih baik dibandingkan dengan tablet fraksi EA 70% dengan nilai ED50 8,12 mg/kg BB.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: R Medicine
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS1-441 Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmakognosi Fitokimia
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Aty, Widyawaruyantiaty-w@ff.unair.ac.id
Achmad, Fuad Hafidachmadfuad@ff.unair.ac.id
lndah, S TantularUNSPECIFIED
Depositing User: Mr M. Fuad Sofyan
Date Deposited: 09 May 2017 21:42
Last Modified: 09 May 2017 21:42
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/57086
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item