ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF PERDAGANGAN INTERNASIONAL BARANG PADAT KARYA (SITC 82, 83, 84, DAN 85) DI EMPAT NEGARA ASEAN PERIODE TAHUN 1997-2001

Hero Adianto, 040117224 (2005) ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF PERDAGANGAN INTERNASIONAL BARANG PADAT KARYA (SITC 82, 83, 84, DAN 85) DI EMPAT NEGARA ASEAN PERIODE TAHUN 1997-2001. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2006-adiantoher-1098-kkbkk-2-k.pdf

Download (306kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2006-adiantoher-1098-.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh model flying geese, dimana model ini menggambarkan bagaimana suatu produk dari negara maju diperkenalkan kepada negara kurang berkembang melalui impor atau FDI. Kemudian, negara kurang berkembang tersebut menerima teknik produksi dan menjadi eksporter produk itu. Pada tahun 1940-an negara Jepang mulai mengekspor barang padat karya di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Kemudian karena lebih memilih mengembangkan industri padat modal, maka Jepang memindahkan industri padat karyanya ke negara tetangganya yaitu Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Korea Selatan (sering disebut dengan Newly Industrialized Economics atau NIEs) pada akhir tahun 1960-an. Pada awal tahun 1980-an, ketika empat negara NIEs mulai beralih ke industri padat modal, maka terjadilah relokasi industri padat karya ke empat negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina). Proses perpindahan industri padat karya ini ditandai dengan terjadinya perpindahan keunggulan komparatif barang padat karya dari Jepang (sebagai leader goose) ke empat negara NIEs (sebagai follower goose pertama), kemudian ke empat negara ASEAN (sebagai follower goose kedua). Untuk melihat apakah pada masa krisis ekonomi (1997-2001), empat negara ASEAN masih memiliki keunggulan komparatif pada barang padat karya, maka digunakan indeks keunggulan komparatif RCA, RCDA, dan RTA. Indeks RCA digunakan untuk melihat keunggulan komparatif di sisi ekspor. Indeks RCDA digunakan untuk melihat keunggulan komparatif di sisi impor. Indeks RTA digunakan untuk melihat keunggulan komparatif di sisi ekspor dan impor. Berdasarkan hasil perhitungan indeks RCA, RCDA, dan RTA, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar empat negara ASEAN memiliki keunggulan komparatif pada barang padat karya (SITC 82, 83, 84, dan 85). Sedangkan, pada tahun 1999-2001, negara Malaysia memiliki ketidakunggulan komparatif pada komoditi tas tangan, travel bags, dan similar cases (SITC 83).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 C 07/06 Adi a
Uncontrolled Keywords: INTERNATIONAL TRADE
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > G Geography (General) > G2200-2444.84 Asia
H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD2340.8-2346.5 Small and medium-sized businesses, artisans,handicrafts, trades
H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD8039 By industry or trade
Divisions: 04. Fakultas Ekonomi dan Bisnis > Ekonomi Pembangunan
Creators:
CreatorsEmail
Hero Adianto, 040117224UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSOEBAGYO, Drs., Ec.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Duwi Prebriyuwati
Date Deposited: 08 May 2006 12:00
Last Modified: 20 Jun 2017 18:31
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/5853
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item