PENGARUH SUHU DAN JUMLAH PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN TERLARUT DALAM PRODUK TEH HIJAU KERING DENGAN METODE KCKT (KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI)

MASRUROTUS ZAHROH, 051311133181 (2017) PENGARUH SUHU DAN JUMLAH PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN TERLARUT DALAM PRODUK TEH HIJAU KERING DENGAN METODE KCKT (KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI). Skripsi thesis, Universitas Airlangga.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
FF.KF.19-17 Zah p ABSTRAK.pdf

Download (80kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
FF.KF.19-17 Zah p SKRIPSI.pdf
Restricted to Registered users only until 24 October 2020.

Download (678kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia yang dibuat dari tanaman Camellia sinensis. Berdasarkan proses pengolahannya terdapat empat jenis, yaitu teh putih, teh hitam, teh oolong, dan teh hijau. Teh hijau mengandung lebih dari 30-40 % polifenol (Syah, 2006). Teh memiliki manfaat dalam kecantikan, pencegahan dan pengobatan penyakit yang sebagian besar disebabkan karena adanya polifenol. Selain manfaat teh, terdapat pula kafein dalam teh yang berakibat kurang baik untuk tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan (Fernandez- Caceres et al., 2001). Khasiat dan dampak berbahaya teh tergantung pada cara menyeduh teh. Semakin lama teh direndam maka kafein dalam teh akan semakin terekstrak dan terjadi oksidasi (Putri dan Ulfin, 2015). Pada beberapa masyarakat ditemukan teh yang diseduh secara berulang. Oleh sebab itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh penyeduhan berulang terhadap kadar kafein yang terlarut dalam teh hijau. Berdasarkan kebiasaan masyarakat di Indonesia yang menyeduh teh dengan air hangat hingga air panas, maka digunakan variabel suhu ekstraksi dengan pelarut air pada suhu 50 °C, 70 °C, dan 100 °C. Pada penelitian ini dilakukan penetapan kadar air, optimasi kondisi KCKT, validasi metode, dan penetapan kadar kafein pada sampel. Hasil dari penetapan kadar air dalam sampel teh hijau adalah 7,36 %. Analisis kafein dilakukan dengan menggunakan kolom C-18 μbondapak 10 μm, 3.9 x 300 mm, fase gerak metanol: air: asam asetat 2 % v/v (30:65:5) pH = 3 dengan laju alir 0,45 ml/menit dan panjang gelombang pengamatan 272 nm. Pada penelitian ini dilakukan validasi metode dengan hasil sebagai berikut: selektivitas dengan nilai Rs 3,909; akurasi sebesar 104,48 ± 1,94 %; linieritas dengan nilai (r) sebesar 0,9994 dan Vxo sebesar 2,48 %; presisi dengan nilai KV sebesar 0,35 %; batas deteksi dan kuantitasi dengan nilai sebesar 0,24 ppm dan 0,73 ppm.Selanjutnya dilakukan penetapan kadar kafein terlarut dalam sampel teh hijau. Pada suhu 50 °C, 70 °C dan 100 °C setiap kali mengalami penyeduhan, terjadi penurunan kadar kafein terlarut dalam sampel teh hijau. Peningkatan suhu penyeduhan dapat meningkatkan kadar kafein yang terlarut dalam sampel teh hijau. Kadar kafein tertinggi dalam sampel teh hijau adalah pada penyeduhan pertama dengan suhu 100 °C sedangkan kadar kafein terendah dalam sampel teh hijau adalah pada penyeduhan ketiga dengan suhu 100 °C. Hal ini membuktikan bahwa kadar kafein di dalam teh hijau dipengaruhi oleh kondisi penyeduhan diantaranya yaitu suhu dan jumlah penyeduhan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK FF.KF.19/17 Zah p
Subjects: Q Science > QC Physics > QC901-913.2 Temperature and Radiation
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Kimia Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
MASRUROTUS ZAHROH, 051311133181UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorDJOKO AGUS P., Dr., M.Si., Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: mrs hoeroestijati beta
Date Deposited: 23 Oct 2017 23:22
Last Modified: 23 Oct 2017 23:22
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/64645
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item