POLA PENGGUNAAN ANTIKOAGULAN PADA PASIEN TROMBOSIS VENA DALAM (Deep Vein Thrombosis)(Penelitian dilakukan di Poli Vaskular dan Instalasi Rawat Inap Jantung dan Pembuluh Darah RSUD Dr. Soetomo Surabaya)

ULLY RIZKI SULISTIYOWATI, 051311133043 (2017) POLA PENGGUNAAN ANTIKOAGULAN PADA PASIEN TROMBOSIS VENA DALAM (Deep Vein Thrombosis)(Penelitian dilakukan di Poli Vaskular dan Instalasi Rawat Inap Jantung dan Pembuluh Darah RSUD Dr. Soetomo Surabaya). Skripsi thesis, Universitas Airlangga.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
KKC KK FF FK 08-17 Sul p-Abstrak.pdf

Download (179kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
KKC KK FF FK 08-17 Sul p.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Deep vein thrombosis merupakan manifestasi klinik dari Venous thromboembolism (VTE). Deep vein thrombosis adalah penggumpalan darah yang terjadi di dalam pembuluh darah vena bagian dalam. Pada kelainan kardiovaskular, DVT menempati urutan tersering ketiga setelah arteri koroner dan stroke. Penyebab utama dari DVT yaitu gangguan dari aliran darah vena (statis), disfungsi endotel pembuluh darah, dan hiperkoagulabilitas. Manajemen terapi pada pasien DVT adalah antikoagulan. Tujuan dari pemberian antikoagulan tersebut adalah untuk menghentikan bertambahnya trombus dan mencegah terjadinya sindrom pasca-trombosis dan emboli. Antikoagulan terdiri dari heparin, LMWH (Low Molecular Weight Heparins), fondaparinux, warfarin, dan NOACs (New Oral Anticoagulants), seperti rivaroxaban, dabigatran, dan apixaban. Lama pemberian terapi antikoagulan adalah minimal 3 bulan. Selain membutuhkan waktu yang lama, respon terapi yang diberikan juga bersifat individual. Efek samping utama yang ditimbulkan adalah perdarahan. Dengan demikian, peluang terjadinya interaksi antikoagulan dengan obat lain juga semakin besar sehingga diperlukan monitoring secara rutin untuk memantau efek samping dan hasil pengobatan pasien. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran penggunaan antikoagulan pada pasien yang menderita DVT. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat retrospektif dan menggunakan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Ruang Rekam Medik dan Poli Vaskular RSUD Dr. Soetomo Surabaya dengan sampel berupa rekam medik pasien yang memenuhi kriteria inklusi pada periode Januari 2013 – Desember 2016 untuk ruang rawat inap jantung dan pembuluh darah dan periode November 2015 – Mei 2017 untuk poli Vaskular. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah seluruh DMK pasien yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Jantung dan Pembuluh Darah serta Poli Vaskular RSUD Dr. Soetomo, Surabaya dengan diagnosa penyakit DVT dan menggunakan terapi antikoagulan. Dari 48 rekam medik yang diperoleh dari ruang rawat inap dan poli Vaskular, terdapat 31 rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi yang mana 10 rekam medik berasal dari ruang rawat inap dan 21 rekam medik berasal dari poli Vaskular. Berdasarkan hasil penelitian, risiko DVT pada pasien perempuan (65%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (35%). Hal tersebut akibat penggunaan oral kontrasepsi, kehamilan, dan puerperium pada wanita. Usia juga menjadi salah satu faktor risiko terjadinya DVT karena semakin bertambahnya usia mobilitas seseorang akan menurun dan risko perdarahan akan meningkat. Pada penelitian ini didapatkan distribusi usia pasien yang terdiagnosis DVT paling besar berada pada usia 40-44 tahun dan 60-64 tahun. Risiko DVT meningkat pada usia 45 tahun dan menjadi lebih besar pada usia 80 tahun karena menurunnya fungsi ginjal, penurunan berat badan, dimensia, dan meningkatnya penyakit lain yang dapat memicu terjadinya DVT. Faktor risiko terjadinya DVT terbesar disebabkan oleh penyakit jantung (atrial fibrilasi, ischemic cardiomyopathy dan congestive heart failure) yaitu sebesar 30%, diikuti dengan adanya riwayat DVT sebelumnya (kekambuhan kembali) dengan 18%, adanya tumor/kanker sebesar 15%, dan pasca operasi sebesar 12%. Hal tersebut disebabkan adanya kelainan pada aliran darah sehingga memicu terbentuknya trombus. Jenis antikoagulan yang paling banyak digunakan pada ruang rawat inap adalah enoxaparin sebagai antikoagulan parenteral dan warfarin sebagai antikoagulan oral. Berdasarkan guideline Antithrombotic Therapy and Prevention of Thrombosis, terapi inisiasi DVT adalah LMWH, fondaparinux, atau UFH selama 5-10 hari. Warfarin dapat diberikan bersama sejak hari pertama penggunaan antikoagulan parenteral. Sedangkan, pada poli vaskular jenis antikoagulan yang paling banyak digunakan adalah antikoagulan oral baru rivaroxaban. Hal tersebut disebabkan rivaroxaban tidak memerlukan pemantauan laboratorium yang rutin, indeks terapi yang luas, dan memiliki efikasi yang tidak kalah baik dengan warfarin. Berdasarkan guideline Antithrombotic Therapy for VTE Disease tahun 2016, pasien dengan DVT pada kaki dan tidak memiliki kanker, terapi antikoagulan jangka panjang yang diberikan adalah dabigatran, rivaroksaban, apixaban, atau edoxaban. Dalam penelitian ini, terdapat 2 macam DRP yang ditemukan, yaitu dugaan efek samping obat dan interaksi obat potensial. Dugaan efek samping obat berupa pemanjangan nilai INR yang disebabkan oleh penggunaan warfarin dan perdarahan yang terjadi karena penggunaan enoxaparin. Interaksi obat potensial yang paling banyak dan termasuk kategori mayor dalam penelitian ini adalah warfarin dengan simvastatin. Warfarin dan simvastatin berinteraksi dengan kompetisi pada CYP3A4-mediated metabolism sehingga meningkatkan nilai INR dan risiko rhabdomiolisis. Sedangkan enoxaparin berinteraksi dengan aspirin. Sementara itu, rivaroxaban berinteraksi dengan aspirin. Keduanya bekerja secara sinergis sehingga dapat meningkatkan toksisitas dan efek samping perdarahan. Monitoring nilai INR secara berkala diperlukan untuk mencegah terjadinya efek samping perdarahan. Pada hasil penelitian ini, terapi antikoagulan untuk inisiasi sudah sesuai dengan pustaka dan rekomendasi guideline yang ada. Namun, penggunaan antikoagulan bersifat individual dan membutuhkan jangka waktu yang panjang sehingga diperlukan peran farmasis untuk manajemen dosis, kepatuhan pasien agar dapat menghasilkan terapi yang maksimal. Selain itu, monitoring faktor-faktor pembekuan darah seperti INR, aPTT dan PPT juga penting dilakukan untuk melihat efektifitas antikoagulan dan efek samping yang muncul pada pasien.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK FF FK 08-17 Sul p
Uncontrolled Keywords: anticoagulant, deep vein thrombosis, drug utilization
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine
R Medicine > RC Internal medicine > RC666-701 Diseases of the circulatory (Cardiovascular) system
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmasi Klinis
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
ULLY RIZKI SULISTIYOWATI, 051311133043UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorWenny Putri Nilamsari, S.Farm.,Sp.FRS.,AptUNSPECIFIED
ContributorMeity Ardiana, dr., Sp.JP, FIHAUNSPECIFIED
Depositing User: Mrs. Djuwarnik Djuwey
Date Deposited: 25 Oct 2017 22:58
Last Modified: 25 Oct 2017 22:58
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/64875
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item