POLA PENGGUNAAN INSULIN PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 (Studi dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya)

FAIRUZA SYARFINA, 051311133102 (2017) POLA PENGGUNAAN INSULIN PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 (Studi dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya). Skripsi thesis, Universitas Airlangga.

[img]
Preview
Text (ABSTRAC)
KKC KK FF FK 18-17 Sya p-Abstrak.pdf

Download (58kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
KKC KK FF FK 18-17 Sya p.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan permasalahan global, International Diabetes Federation (IDF) mencatat sebanyak 415 juta orang menderita DM dan diprediksi akan terus meningkat. Tahun 2013, jumlah penderita DM di Indonesia adalah sekitar 12 juta (Kementerian Kesehatan RI, 2013). DM merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar glukosa darah (GD) karena gangguan kerja insulin, sekresi insulin, atau keduanya yang berhubungan dengan gangguan fungsi dan kegagalan berbagai organ (ADA, 2015). DM tipe 2 terjadi pada 90% dari semua kasus DM. Pasien dengan riwayat DM tipe 2 memiliki peluang tiga kali lebih besar untuk di rawat di rumah sakit. Kondisi hiperglikemia yang terjadi tidak hanya timbul dari komplikasi DM, namun dapat berasal dari penyakit penyerta yang memicu hiperglikemia (McDonnell dan Umpierrez, 2012; Powers, 2015). Insulin merupakan salahsatu terapi farmakologi yang digunakan untuk mengontrol kadar GD. Insulin diindikasikan pada pasien DM tipe 2 dengan kegagalan kombinasi OAD, penyakit penyerta infark miokard akut, stroke, infeksi/ gangren/ sepsis, komplikasi akut dan komplikasi kronis untuk menekan progresivitas DM (Tjokroprawiro, 2015, Perkeni, 2015; Pranoto, 2012). Insulin lebih dipilih karena kemampuan meregulasi GD yang relatif cepat dan dosisnya dapat disesuaikan berdasarkan fluktuansi GD serta intake makanan pada pasien rawat inap (Magaji dan Johnston, 2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan insulin pada pasien DM tipe 2 yang menjalani rawat inap di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya dan mengkaji potensi munculnya drug related problem (DRP) terkait penggunaan insulin pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dan prospektif dengan menggunakan Rekam Medik (RM) pasien yang dianalisis secara deskriptif serta pengambilan sampel dengan metode time limited sampling. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosa DM Tipe 2 oleh dokter penanggung jawab pasien (DPJP). Kriteria inklusi sampel adalah pasien DM tipe 2 dengan atau tanpa komplikasi maupun penyakit penyerta yang mendapat terapi insulin atau kombinasi insulin-OAD yang menjalani rawat inap dengan data RM lengkap meliputi data inti yaitu regimen insulin serta data penunjang yaitu data klinis dan data laboratorium untuk mengkaji terapi insulin yang diberikan. Hasil penelitian pada 104 pasien yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan 51% pasien berjenis kelamin wanita dan 49% pasien berjenis kelamin pria dengan rentang usia terbanyak yaitu pasien wanita dengan usia 50-59 tahun yaitu 24%. Komplikasi yang paling banyak dialami adalah komplikasi kronis makrovaskular (86,5%). Penyakit penyerta yang paling banyak dialami adalah sepsis (29,8%) dimana satu pasien dapat mengalami lebih dari satu komplikasi maupun penyakit penyerta. Dari hasil pengamatan terhadap pola penggunaan insulin pada regimen terapi pasien, diketahui bahwa insulin kerja cepat paling banyak digunakan yakni insulin aspart (46,6%). Selain insulin aspart, dalam penelitian juga digunakan insulin kerja cepat glulisin (8,65%), insulin kerja panjang glargin (18,2%), insulin kerja panjang detemir (25,5%) dan insulin campuran (70/30 protamine aspart/ aspart) (0,96%%). Rute pemberian insulin diberikan melalui subkutan (78,6%) dan intravena (21,4%). Dalam penelitian ini, insulin paling banyak diberikan sebagai terapi insulin kombinasi basal-bolus (51,9%). Selain diberikan sebagai terapi basal bolus, terapi insulin diberikan juga sebagai terapi insulin tunggal basal atau bolus (38,2%) dan terapi kombinasi insulin-OAD (8,40%). Jenis, dosis, frekuensi dan rute pemberian insulin sangat beragam dan bersifat individual, disesuaikan dengan kadar GD harian dan kondisi pasien dimana pasien dapat memperoleh lebih dari satu regimen terapi insulin. Frekuensi pemberian insulin kerja cepat yaitu sehari tiga kali disesuaikan jadwal makan pasien dan insulin kerja panjang diberikan satu kali sehari pada malam hari (59,1%) atau pagi hari (40,9%). Dari 93 pasien yang memperoleh terapi insulin kerja panjang, diperoleh lima pasien (4,88%)yang mengalami perubahan waktu pemberian insulin. Kondisi klinis dan fluktuansi kadar GD pasien rawat inap membutuhkan penyesuaian terapi insulin agar tetap pada rentang target glikemik. Pada pengamatan terhadap 104 pasien, diketahui 29 pasien (27,9%) mengalami 40 kejadian perubahanregimen insulin yang digunakan. Perubahan regimen insulin diantaranya penambahan insulin koreksi regulasi cepat intravena (RCI) (60,0%) dan regulasi cepat subkutan (RCS) (12,5%), perubahan jenis insulin (2,5%) dan perubahan rute insulin (25,0%). DRP yang teridentifikasi yakni efek samping penggunaan insulin meliputi hipoglikemia (10,5%) yang dilihat dari data GD pasien dan hipokalemia (15,2%) yang dilihat dari data serum elektrolit pasien, interaksi potensial antara insulin dan obat lain yang diterima pasien seperti ACEIlisinopril atau captopril (12,5%), diuretik-furosemid (27,9%), OAD sulfonilurea (0,96%), kortikosteroid-deksametason (4,81%) dan obat simpatomimetik-norepinefrin (1,92%), pemilihan terapi yang kurang tepat pada 0,96% pasien yakni terapi insulin prandial dan OAD sulfonilurea dan perubahan dosis tanpa pencatatan GD pada 4,49% pasien. Pada penelitian ini, 25% pasien telah mencapai target glikemik. Namun, sebagian besar pasien (93,27%) dipulangkan karena sembuh dari penyakit penyerta atau meneruskan terapi rawat jalan untuk mengontrol komplikasi penyakit, 5,77% pasien dirujuk karena membutuhkan perawatan lebih lanjut dan 0,96% pasien meninggal akibat syok kardiogenik dari komplikasi yang dialami. Berdasarkan uraian diatas, diketahui bahwa terapi yang diterima pasien kompleks. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama seluruh tenaga kesehatan di rumah sakit dan pasien demi meningkatkan luaran terapi pasien dan mencegah terjadinya DRP.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK FF FK 18-17 Sya p
Uncontrolled Keywords: Drug utilization study, insulin, type 2 diabetes melitus, inpatient, drug related problems
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine > RC31-1245 Internal medicine
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS200-201 Pharmaceutical dosage forms
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmasi Klinis
Creators:
CreatorsEmail
FAIRUZA SYARFINA, 051311133102UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorBudi Suprapti, Dr., M.Si., AptUNSPECIFIED
ContributorCahyo Wibisono Nugroho, dr. , Sp. PDUNSPECIFIED
ContributorChrismawan Ardianto, MSc., PhD., ApUNSPECIFIED
Depositing User: Mrs. Djuwarnik Djuwey
Date Deposited: 02 Nov 2017 21:32
Last Modified: 02 Nov 2017 21:32
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/65673
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item