KURANGNYA KONSELING DAN PENEMUAN KASUS SECARA PASIF MEMPENGARUHI KEJADIAN KECACATAN KUSTA TINGKAT II DI KABUPATEN SAMPANG

Muhammad, Kamal and Santi, Martini (2015) KURANGNYA KONSELING DAN PENEMUAN KASUS SECARA PASIF MEMPENGARUHI KEJADIAN KECACATAN KUSTA TINGKAT II DI KABUPATEN SAMPANG. Jurnal Berkala Epidemiologi, 3 (3). pp. 290-303. ISSN 2301-7171

[img]
Preview
Text (Full Text)
11 The lack of counselling and passively case detection affecting the occurrance of grade 2 disability in Sampang.pdf

Download (6MB) | Preview
[img]
Preview
Text (Peer review)
11 peer review The lack of counselling and passively case detection affecting the occurrance of grade 2 disability in Sampang.pdf

Download (886kB) | Preview
Official URL: http://e-journal.unair.ac.id/index.php/JBE

Abstract

Kusta merupakan penyakit kronis yang menyerang kulit, saraf tepi, hingga organ-organ tubuh lainnya. Penyakit ini juga dapat menyebabkan cacat yang permanen yang dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Sampang sebagai wilayah dengan rata-rata PR tertinggi pada periode 2010–2014 memiliki proporsi cacat tingkat II yaitu 13%, sedangkan standar yang ditetapkan adalah tidak lebih dari 5%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pelayanan kesehatan terhadap kejadian kecacatan kusta tingkat II. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional-analitik dengan desain case control. Penelitian dilaksanakan di 8 wilayah kerja Puskesmas di Kabupaten Sampang. Sampel adalah penderita kusta tipe MB yang terdiri dari 33 orang yang mengalami cacat tingkat II sebagai kelompok kasus dan 33 orang penderita kusta yang mengalami cacat tingkat 0 atau tingkat I sebagai kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan secara simultan dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penemuan kasus secara pasif (OR = 7,334; CI 95%: 1,643–32,739), waktu diagnosis yang sangat terlambat (OR = 15,267; 95% CI: 1,447 to 161,071), kurangnya POD (OR = 7,016; 95% CI: 1,574–31,274) dan kurangnya konseling (OR=9,154; CI 95%: 1,786–46,906) mempengaruhi kejadian kecacatan kusta tingkat II. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa metode penemuan kasus, waktu diagnosis, POD dan konseling berpengaruh terhadap kejadian kecacatan kusta tingkat II pada penderita. Disarankan agar meningkatkan penemuan kasus secara aktif dan meningkatkan kegiatan konseling.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: kecacatan, kusta, penemuan kasus, konseling
Subjects: R Medicine
Divisions: 10. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Creators:
CreatorsEmail
Muhammad, KamalUNSPECIFIED
Santi, MartiniUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Chusnul Chuluq
Date Deposited: 07 Nov 2017 16:34
Last Modified: 12 Apr 2018 18:21
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/65774
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item