SUBALTERN PADA BURUH PEREMPUAN PERUSAHAAN TERBATAS INDUSTRI KARET DI KOTA MEDAN PERSPEKTIF GAYATRI SPIVAK

Lukitaningsih, 071217047323 (2017) SUBALTERN PADA BURUH PEREMPUAN PERUSAHAAN TERBATAS INDUSTRI KARET DI KOTA MEDAN PERSPEKTIF GAYATRI SPIVAK. Disertasi thesis, Universitas Airlangga.

[img]
Preview
Text (abstrak)
abstrak.pdf

Download (230kB) | Preview
[img] Text (full text)
DISERTASI.pdf
Restricted to Registered users only until 16 November 2020.

Download (3MB)

Abstract

Spivak. Dalam konteks ini dikaji diamnya buruh perempuan PT Industri Karet disebabkan budaya patriarki dan ketimpangan gender, dan pengalamannya dalam memaknai subaltern. Penelitian ini dilakukan di PT. Industri Karet Kota Medan, dengan metode kualitatif dan pendekatan etnografi feminis. Pendekatan ini memfokuskan pada pengalaman buruh perempuan sebagai subjek yang mengalami ketertindasan. Melalui metode ini diperoleh data dan informasi tentang pengalaman subaltern buruh perempuan. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari enambelas orang, sepuluh orang subjek utama yaitu buruh perempuan dan enam orang subjek pendukung terdiri dari mandor, buruh laki-laki, satpam. Adapun kriteria dalam pemilihan subjek utama yang memiliki pengalaman langsung tentang penindasan yang dialaminya, dan subjek pendukung adalah yang terlibat langsung dalam penindasan.Selain itu ditetapkan lima orang informan dengan kiteria memiliki pengetahuan cukup dan mendalam tentang buruh pabrik. Hasil ini penelitian ini menunjukan bahwa buruh perempuan mengalami subaltern disebabkan, pertama, budaya patriarki, meletakkan perempuan didomi nasi dan subordinasi dalam lingkup keluarga dan industri, struktur patriarki menempatkan laki-laki sebagai penguasa (dominan) di sektor industri. Bentuk patriarki yang dialami buruh perempuan adalah pelecehan seksual di tempat kerja, perbedaan upah dengan buruh laki-laki. Kedua,buruh perempuan mengalami subaltern karena ketimpangan gender. Bentuk ketimpangan gender yang dilaku kan oleh perusahaan adalah melalui perpanjangan tangan mandor, kepala regu, tidak ada jaminan keselamatan saat bekerja, tidak mendapat tunjangan kesejahteraan, tidak ada jenjang karir.Konstruksi sosial yang telah terbangun pada buruh laki-laki di PT Industri Karet menyebabkan buruh perempuan selalu mengalami subaltern. Pada studi ini, buruh perempuan mengalami subaltern di pabrik. Bentuk penindasan yang dialami menjadikannya sebagai pendorong untuk berani bernegosiasi, dan melakukan perlawanan kepada mandor, kepala regu dan buruh laki-laki sebagai perpanjangan tangan perusahaan. Di sisi lain perusahaan juga memberikan ruang bagi buruh perempuan untuk melakukan negosiasi dengan perusahaan, atau perwakilan sarikat buruh Indonesia yang ada di perusahaan dalam bentuk tulisan (surat), dan lisan. Menurut Spivak bahwa perempuan yang India diam menerima subaltern yang dialami, Perempuan buruh PT Industri Karet mengalami subaltern di masyarakat tak akan pernah mampu bersuara apalagi mendapatkan hak-hak sebagai warga negara seperti yang dialami perempuan India pada masa kolonial. Sebagai subaltern perempuan disubordinasikan secara kultural, agama, politik dan tidak dapat bertindak apalagi bersuara.Penelitian ini menunjukan keadaan yang sedikit berbeda dengan teori Spivak, jika dalam penelitian Spivak perempuan Deli dapat bersuara atau menegosiasikan subaltern yang dialaminya.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis S 11/17 Luk s
Uncontrolled Keywords: subaltern, patriarki, ketimpangan gender, industri
Subjects: H Social Sciences
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Creators:
CreatorsEmail
Lukitaningsih, 071217047323UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorWirawan, Prof. Dr. I.B. , Drs., S.UUNSPECIFIED
Depositing User: Unnamed user with email indah.fatma@staf.unair.ac.id
Date Deposited: 15 Nov 2017 23:45
Last Modified: 15 Nov 2017 23:45
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/66752
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item