PERBANDINGAN EFIKASI DAN EFEK SAMPING ANTARA SILODOSIN DENGAN TAMSULOSIN PADA PASIEN BPH LUTS (Prospektif –Eksperimental )

Anggia Augustasia Lumban Toruan, 011081901 (2017) PERBANDINGAN EFIKASI DAN EFEK SAMPING ANTARA SILODOSIN DENGAN TAMSULOSIN PADA PASIEN BPH LUTS (Prospektif –Eksperimental ). Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (abstrak)
PPDS.IBUro. 01 - 17 Tor p abstrak.pdf

Download (312kB) | Preview
[img] Text (fulltext)
PPDS.IBUro. 01 - 17 Tor p fulltext.pdf
Restricted to Registered users only until 28 November 2020.

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Latar belakang : Silodosin merupakan obat alfa blockers yang diklaim memiliki selektifitas yang tinggi terhadap reseptor α1A yang terdapat tidak hanya dalam prostat, leher buli, juga dalam otot detrusor bahkan kontraksi vesikula seminalis, vas deferens, duktus ejakulatorius dipengaruhi oleh reseptor α1A. Diperlukan uji klinis untuk menilai efektivitas dan efek samping Silodosin di Indonesia dengan membandingkan dengan obat alfa blockers pendahulunya pada pasien BPH-LUTS. Tujuan : Mengetahui perbandingan efekttivitas antara Silodosin 2x4 mg dengan Tamsulosin 0,4 mg menggunakan perbaikan skor IPSS total, subskor voiding dan storage, serta laju pancaran kencing (Qmax). Mengetahui perbandingan efek samping antara Silodosin 2x4 mg dengan Tamsulosin 0,4 mg efek samping hipotensi ortostatik dan gangguan ejakulasi antara Silodosin dan Tamsulosin menggunakan pemeriksaan TD berdiri dan berbaring dan skor IIEF-OF. Metode : Studi klinis ini bersifat randomized double blind. Semua pasien BPH LUTS di Poli Rawat Jalan RSUD dr Soetomo Surabaya yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian, dengan memperhatikan kriteria eksklusi. Data dasar pasien berupa umur, volume prostat, IPSS total, subskor storage dan voiding, laju pancaran kencing (Qmax), voided volume, skor IIEF-OF, dan TD berdiri dan berbaring seluruhnya dicatat. Setelah perlakuan pasien dievaluasi setelah 4 dan 12 minggu. Data yang diperoleh ditampilkan secara deskriptif dan analitik dengan nilai p <0,05 bernilai signifikan. Hasil : Total 17 pasien diacak dan dikelompokkan dalam dua grup, 9 pasien kelompok Silodosin dan 8 kelompok Tamsulosin. Setelah 4 minggu IPSS total menurun sebanyak - 5.6±3,4 pada grup Silodosin, dan -2.3±2,1 pada grup Tamsulosin dengan nilai p yang signifikan (p 0.041). IPSS total berhasil turun pasca pemberian Silodosin -9,4±5.8 dan Tamsulosin -4.4±3.2 (p 0.048) dalam 12 minggu. Silodosin dapat menurunkan IPSS subskor storage (-4.4±22) secara signifikan berbeda dengan Tamsulosin (-2.1±1.7) (p 0.032) dalam 12 minggu. IPSS subskor voiding menurun -3.2±3.0 setelah pemberian Silodosin, Tamsulosin -1.2±1.3 (p 0.155) namun perbandingan penurunan IPSS subskor voiding pun tidak bermakna secara statistik. Silodosin meningkatkan laju pancaran kencing 2.1±0.8 ml/s dan Tamsulosin 1.1±0.6 ml/s dengan nilai statistik yang signifikan (p 0.021) pada minggu ke 4. Setelah 12 minggu Qmax meningkat dengan nilai p yang tinggi (p 0.000) setelah pengobatan dengan Silodosin (4.1±0.6 ml/s) dan Tamsulosin (2.1±0.9 ml/s). Silodosin dapat menyebabkan gangguan ejakulasi yang signifikan dibandingkan dengan Tamsulosin yang ditunjukkan melalui penurunan skor IIEF-OF pertanyaan ke 9 0,67±1,0 (p 0,002) dalam 4 minggu, 1,81±1,39 (p 0,044) dalam 12 minggu. Silodosin juga menyebabkan penurunan skor IIEF-OF pertanyaan ke 10, dan secara statistik berbeda signifikan dengan Tamsulosin. Hipotensi ortostatik hanya timbul dalam kelompok Tamsulosin. Tamsulosin menyebabkan penurunan tekanan TD sistolik saat berbaring dalam kelompok Tamsulosin sebesar -3.25±3,8 mmHg dan Silodosin -1.4±2.5 mmHg (p 0.017). Kesimpulan : Silodosin lebih efektif dalam memperbaiki keluhan LUTS dengan mengurangi skor IPSS total dan subskor storage secara signifikan dibandingkan Tamsulosin. Silodosin sama efektifnya dalam menurunkan skor voiding dengan Tamsulosin. Silodosin lebih banyak menimbulkan gangguan ejakulasi dibandingkan dengan Tamsulosin dalam menurunkan skor IIEF-OF pertanyaan 9 dan 10. Silodosin tidak menimbulkan insidens hipotensi ortostatik dan tidak menimbulkan penurunan tekanan darah meski dikonsumsi bersamaan dengan obat anti hipertensi.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKA KK PPDS.IBUro. 01 - 17 Tor p
Uncontrolled Keywords: BPH, LUTS, IPSS, Qmax, IIEF-OF, hipotensi, ejakulasi
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine > RC870-923 Diseases of the genitourinary system. Urology
R Medicine > RD Surgery
Divisions: 01. Fakultas Kedokteran
Creators:
CreatorsEmail
Anggia Augustasia Lumban Toruan, 011081901UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorJohan Renaldo, dr., SpUUNSPECIFIED
ContributorWahjoe Djatisoesanto, Dr., dr.,SpU(K)UNSPECIFIED
Depositing User: Tatik Poedjijarti
Date Deposited: 27 Nov 2017 19:49
Last Modified: 27 Nov 2017 19:49
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/67226
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item