HUBUNGAN SUDUT FLEKSI LUTUT, FLEKSI PANGGUL DAN PEAK GROUND REACTION FORCE DENGAN PERFORMA LOMPATAN VERTICAL JUMP PADA ATLET BOLA VOLI LAKI-LAKI DI SURABAYA

Endy Utama, 011081604 (2017) HUBUNGAN SUDUT FLEKSI LUTUT, FLEKSI PANGGUL DAN PEAK GROUND REACTION FORCE DENGAN PERFORMA LOMPATAN VERTICAL JUMP PADA ATLET BOLA VOLI LAKI-LAKI DI SURABAYA. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (Abstrak)
PPDS.IFR. 06-18 Uta h Abstrak.pdf

Download (111kB) | Preview
[img] Text (fulltext)
PPDS.IFR. 06-18 Uta h.pdf
Restricted to Registered users only until 21 March 2021.

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Latar Belakang: Gerakan melompat secara vertikal atau yang biasa disebut dengan vertical jump biasanya ditemukan pada beberapa cabang olahraga. Pada beberapa cabang olahraga seperti bola basket dan bola voli keberhasilan para atletnya sangat bergantung kepada kemampuannya untuk melompat secara vertikal setinggi mungkin. Ketinggian maksimal dari vertical jump biasanya digunakan sebagai salah satu cara penilaian untuk memantau kemampuan melompat dan mengestimasi kekuatan anggota gerak bawah seorang atlet. Gerakan vertical jump sendiri adalah sebuah harmonisasi beberapa gerakan dari anggota gerak bawah yang merupakan gabungan push off, melayang dan mendarat. Vertical jump terdiri atas dua teknik yaitu squat jump dan countermovement jump. Gerakan melompat secara vertikal dan mendarat umum dijumpai pada berbagai cabang olahraga, dan telah diindikasikan sebagai salah satu penyebab beberapa jenis cidera lutut pada atlet. Penelitian pada beberapa dekade terakhir ini ditujukan untuk memeroleh data yang akurat untuk mengetahui aspek yang memengaruhi performa, yang pada akhirnya jadi bahan melatih para atlet untuk memeroleh cara, ketinggian melompat yang lebih baik dan teknik menghindari cidera saat melompat. Data tentang melompat vertikal dengan teknik countermovement jump yang meliputi berapa sudut panggul dan lutut yang paling optimal guna memperoleh gaya yang maksimal dalam melakukan gerakan melompat secara vertikal belum diperoleh. Pertimbangan di atas mendorong peneliti mengamati pengaruh perubahan derajat sudut panggul dan lutut guna memeroleh hasil yang maksimal dalam melakukan countermovement jump. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analisis observasional, menggunakan subyek 17 atlet voli yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi. Subyek diamati sudut fleksi lutut, sudut fleksi pinggul, Ground Reaction Forces (GRF) dan lompatan tinggi di ruang analisis gait pada Instalasi Rehabilitasi Medis RSUD Dr.Soetomo. Semua sampel penelitian melakukan gerakan melompat dengan teknik melompat countermovement sebanyak tiga kali, data diekstraksi dari nilai lompatan tertinggi. Seluruh data di lakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, kemudian dilanjutkan uji korelasi dengan ternik Pearson (untuk parameter yang berdistribusi normal) dan uji Spearman (untuk parameter yang berdistribusi tidak normal). Hasil: Dari pengamatan terhadap 17 subjek dengan melakukan 3 lompatan, analisis diambil dari nilai lompatan tertinggi dengan rerata 64,34±9,51 cm, sudut lutut saat propulsi sebesar 104,91±16,35 derajat, sudut lutut pada saat take-off 42.97 ± 9.06 derajat, sudut lutut saat downward 16,26±6,48 derajat, sudut lutut saat deselerasi 66,07±8,25 derajat, sudut panggul saat propulsi 102,95±16,57 derajat, sudut pinggul saat take-off 30,29±9,96 derajat, sudut panggul saat downward 8.36±8.04 derajat, sudut panggul saat deselerasi 30,46±13,16 derajat, ground reaction forces (GRF) pada saat propulsi 1414,82±203,31 Newton, GRF pada saat take-off 327,24±235,73 Newton, GRF pada saat downward 1567,35±244,49 Newton, dan nilai GRF saat deselerasi 1298,65± 247,15 Newton. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara sudut lutut dan tinggi lompatan, tapi ada hubungan antara sudut panggul dengan tinggi lompatan saat propulsi. Ada hubungan antara sudut lutut dan sudut panggul dengan tinggi lompatan selama fase take-off. Ada hubungan antara sudut panggul dengan tinggi lompatan tapi tidak ada hubungan antara sudut lutut dengan tinggi lompatan pada fase downward. Tidak ada hubungan antara sudut lutut dan panggul dengan tinggi lompatan pada fase deselerasi. Ada hubungan antara nilai Ground Reaction Forces (GRF) dengan tinggi lompatan pada fase propulsi. Tidak ada hubungan antara nilai Ground Reaction Forces (GRF) dengan tinggi lompatan saat take-off. . Tidak ada hubungan antara Ground Reaction Forces (GRF) dengan tinggi lompatan pada fase ke downward. Tidak ada hubungan antara nilai GRF dan tinggi lompatan pada fase deselerasi.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKA KK PPDS.IFR. 06-18 Uta h
Uncontrolled Keywords: sudut lutut, sudut panggul, ground reaction forces, tinggi lompatan.
Subjects: R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology > RM930-931 Rehabilitation therapy
Divisions: 01. Fakultas Kedokteran > Ilmu Fisik & Rehab
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Endy Utama, 011081604UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorDamayanti Tinduh, DR., dr.,Sp.KFR-KUNSPECIFIED
ContributorI Putu Alit Pawana, dr.,Sp.KFR-KUNSPECIFIED
ContributorDwikora Novembri Utomo, DR., dr. Sp.OT-KUNSPECIFIED
Depositing User: Tatik Poedjijarti
Date Deposited: 20 Mar 2018 17:18
Last Modified: 20 Mar 2018 17:18
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/71021
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item