MANAJEMEN KULTUR MIKROALGA Porphyridium cruentum PADA SKALA LABORATORIUM DAN SKALA INTERMEDIET DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU, JEPARA JAWA TENGAH

AULIA CITRA ISLAMI, 141411131066 (2017) MANAJEMEN KULTUR MIKROALGA Porphyridium cruentum PADA SKALA LABORATORIUM DAN SKALA INTERMEDIET DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU, JEPARA JAWA TENGAH. Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK_PKL.PK.BP.24 18 Isl m.pdf

Download (316kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
FULLTEXT_PKL.PK.BP.24 18 Isl m.pdf
Restricted to Registered users only until 28 March 2021.

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Mikroalga Porphyridium cruentum merupakan salah satu pakan alami yang dapat dimanfaatkan dalam bidang industri, kosmetik, pangan, pharmaceutical dan nuetraceutical. Porphyridium cruentum mengandung pigmen fikoeritrin. Pigmen fikoeritrin dapat digunakan untuk pewarna makanan dan pakan alami pada larva ikan hias. Tujuan dari Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk mempelajari manajemen kultur mikroalga Porphyridium cruentum pada skala laboratorium dan skala intermediet, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan hambatan yang muncul pada proses kultur Porphyridium cruentum. Metode kerja yang digunakan dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapang adalah metode deskriptif. Data yang diambil berupa data primer serta data sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, partisipasi aktif, serta studi pustaka. Kegiatan Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau, Jepara , Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 20 Januari sampai dengan 20 Februari 2017. Kultur Porphyridium cruentum di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara dilakukan pada skala laboratorium dan intermediet. Kultur skala laboratorium menggunakan pupuk Walne pro analisis sedangkan pada kultur skala intermediet menggunakan pupuk Walne teknis. Kultur skala laboratorium mengalami puncak kepadatan 4,17 x 106 pada hari keenam. Pada skala intermediet puncak kepadatan terjadi pada hari kelima dengan populasi 1,356 x 106. Hambatan yang muncul kultur Porphyridium cruentum adalah kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan tingkat pertumbuhan yang tidak dapat tumbuh dengan optimal.

Item Type: Other
Additional Information: KKC KK PKL.PK.BP.24/18 Isl m
Uncontrolled Keywords: manajemen, kultur mikroalga, skala laboratorium, skala intermediet
Subjects: S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling
S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling > SH1-691 Aquaculture. Fisheries. Angling > SH201-399 Fisheries > SH328-329 Fishery management. Fishery policy
Divisions: 14. Fakultas Perikanan dan Kelautan
Creators:
CreatorsEmail
AULIA CITRA ISLAMI, 141411131066UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorWahyu Tjahjaningsih, Ir., MSi.UNSPECIFIED
Depositing User: Mrs Nadia Tsaurah
Date Deposited: 27 Mar 2018 19:28
Last Modified: 27 Mar 2018 19:28
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/71354
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item