NYALI KARYA PUTU WIJAYA DALAM PERSPEKTIF KEKERASAN SIMBOLIK PIERRE BOURDIEU: SEBUAH KAJIAN HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR

Adi Setijowati, 091170407 (2018) NYALI KARYA PUTU WIJAYA DALAM PERSPEKTIF KEKERASAN SIMBOLIK PIERRE BOURDIEU: SEBUAH KAJIAN HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR. Disertasi thesis, Universitas Airlangga.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK_Dis.S.03 18 Set n.pdf

Download (23kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
FULLTEXT_Dis.S.03 18 Set n.pdf
Restricted to Registered users only until 17 April 2021.

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Karya sastra selama ini dipelajari secara otonom dan terlepas dari kejadian politik masanya. Karya sastra yang di antaranya mengangkat masalah politik dianggap tidak berguna karena tidak dapat dipertanggungjawabkan. Padahal, karya sastra membidik kenyataan (masalah politik) secara berbeda. Beberapa waktu yang lalu karya sastra dibaca dengan cara mengungkap kebenaran mendekati kebenaran pengarang/penulis, sedangkan saat ini dibaca dengan teori yang berpusat pada pencarian makna yang dikemukakan oleh diri sendiri sebagai pembaca. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah metode kualitatif berdasarkan pembacaan Kekerasan Simbolik Pierre Bourdieu dan dinterpretasi lewat hermeneutika Paul Ricoeur (Fenomenologi Eksistensial), yang mendasarkan diri pada peran seni pemahaman untuk memberikan tempat kepada refleksi politik berupa etika politik. Novel Nyali karya Putu Wijaya merupakan ciri dasariah keberadaan manusia di dunia sejarawi dan terbatas ini. Konsep Ricoeur dimanfaatkan untuk menginterpretasi teks lewat apropriasi/pemahaman diri. Pemikiran hermeneutika Paul Ricoeur mengenali tantangan pokok refleksi filsafat tentang unsur-unsur dasariah pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyali merupakan karya Putu Wijaya yang memenuhi syarat sebagai teks dan fiksi politik, yang berarti memenuhi syarat sebagai wacana politik. Nyali menanggapi pergantian kekuasaan pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru. Nyali menyoroti tokoh Kropos dari perjalanannya menjadi tentara sebagai Kopral yang menunjukkan kesetiaannya yang luar biasa pada atasan dan korpsnya. Dalam teks Nyali didapat proposisi kekerasan simbolik tentara berupa indoktrinasi, kepatuhan, dibohongi, strategi penguasaan, komando dari tentara yang berpangkat tinggi ke pangkat yang lebih rendah. Refleksi kritis dan etika politik dari teks berupa refleksi keseharian warga yang menurun militer. Kehadiran militer telah sampai pada ranah individu dan sosial terutama dalam konsep keamanan. Hal tersebut memperlemah dalam menghadapi kekerasan simbolik yang membuat warga hilang kekritisannya. Kehilangan kekritisan tersebut dapat menyebabkan warga negara apatis atau sebaliknya, gampang digiring ke wacana publik yang berkembang di masyarakat tanpa mempertimbangkan akal sehat.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis.S.03/18 Set n
Uncontrolled Keywords: karya sastra, filsafat politik, etika politik, kekerasan simbolik, Hermeneutika
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM481-554 Theory. Method. Relations to other subjects
H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM831-901 Social change
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Adi Setijowati, 091170407UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorRamlan Surbakti, Prof., MA., PhD.UNSPECIFIED
ContributorHaryatmoko, Dr., Sj.UNSPECIFIED
Depositing User: Mrs Nadia Tsaurah
Date Deposited: 16 Apr 2018 21:27
Last Modified: 16 Apr 2018 21:27
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/71847
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item