HUBUNGAN TRAUMA MASA KANAK DENGAN STATUS MENTAL BERISIKO GANGGUAN PSIKOSIS PADA REMAJA

Manzilatur Rahmah, 111411131156 (2018) HUBUNGAN TRAUMA MASA KANAK DENGAN STATUS MENTAL BERISIKO GANGGUAN PSIKOSIS PADA REMAJA. Skripsi thesis, Universitas Airlangga.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK_Psi.147 18 Rah h.pdf

Download (583kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
FULLTEXT_Psi.147 18 Rah h.pdf
Restricted to Registered users only until 31 July 2021.

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara trauma masa kanak dengan status mental berisiko gangguan psikosis pada remaja. Status mental berisiko gangguan psikosis adalah gejala awal yang muncul dari gangguan psikosis. Trauma masa kanak merupakan pengalaman traumatis yang terjadi pada masa kanak. Trauma masa kanak yang dimaksud adalah 5 skala klinis yaitu, kekerasan emosional, kekerasan fisik, kekerasan seksual, pengabaian emosional, dan pengabaian fisik. Subjek penelitian ini merupakan remaja akhir. Penelitian ini dilakukan pada sebanyak 110 subjek, yang terdiri dari 19 remaja laki-laki dan 91 remaja perempuan. Sebanyak 31 subjek sedang menempuh pendidikan SMA, dan 79 Subjek sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner Chilhood Trauma Questionare yang terdiri dari 28 butir yang disusun oleh Bernstein, dkk., (2003) dan alat ukur identifikasi status mental berisiko yang mengacu pada teori at risk mental state milik Yung (1996). Analisis data menggunakan teknik analisis korelasional yang dibantu oleh SPSS IBM 20. Hasil dari analisis data penelitian ini diperoleh nilai korelasi antara trauma kekerasan emosional dengan status mental berisiko gangguan psikosis sebesar 0.474 dengan ρ=0.000; korelasi antara kekerasan fisik dengan status mental berisiko gangguan psikosis sebesar 0.486 dengan ρ=0.000; korelasi antara kekerasan seksual dengan status mental berisiko gangguan psikosis sebesar 0.374 dengan ρ=0.000; korelasi antara pengabaian emosional dengan status mental berisiko gangguan psikosis sebesar 0.191 dengan ρ= 0.046; korelasi antara pengabaian fisik dengan status mental berisiko gangguan psikosis sebesar 0.150 dengan ρ=0.117. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara Trauma kekerasan emosional, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan pengabaian emosional dengan status mental berisiko gangguan psikosis pada remaja, serta tidak ada korelasi antara trauma pengabaian fisik dengan status mental berisiko gangguan psikosis pada remaja.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 Psi.147/18 Rah h
Uncontrolled Keywords: Remaja, Trauma Masa Kanak, status mental berisiko gangguan psikosis, kekerasan emosional, kekerasan fisik, kekerasan seksual, pengabaian emosional, dan pengabaian fisik. gangguan psikosis
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology > BF1-1999 Psychology, Parapsychology, Occult Sciences.
Divisions: 11. Fakultas Psikologi
Creators:
CreatorsEmail
Manzilatur Rahmah, 111411131156UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorTri Kurniati Ambarini, M.Psi., Psikolog.UNSPECIFIED
Depositing User: mhs PKL UNAIR
Date Deposited: 12 Aug 2018 18:52
Last Modified: 12 Aug 2018 18:52
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/73442
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item