UJI TOKSISITAS AKUT DAN SUBAKUT EKSTRAK ETANOL 80% KULIT BATANG Artocarpus champeden Spreng DENGAN PARAMETER HISTOPATOLOGI HATI DAN ENZIM SGOT DAN SGPT PADA MENCIT (Mus musculus)

Esti Eka Wardhani, 050513390 (2009) UJI TOKSISITAS AKUT DAN SUBAKUT EKSTRAK ETANOL 80% KULIT BATANG Artocarpus champeden Spreng DENGAN PARAMETER HISTOPATOLOGI HATI DAN ENZIM SGOT DAN SGPT PADA MENCIT (Mus musculus). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2011-estiekawar-19613-ff4011-k.pdf

Download (97kB) | Preview
[img] Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s1-2011-estiekawar-16367-ff4011-u.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penggunaan tanaman obat sebagai obat alternatif dalam pengobatan oleh masyarakat semakin meningkat sehingga diperlukan penelitian untuk membuktikan khasiat dan keamanan tanaman obat tersebut. Pada penelitian ini dilakukan uji toksisitas akut dan subakut dengan parameter histopatologi hati serta enzim SGOT dan SGPT mencit pada ekstrak etanol 80% kulit batang Artocarpus champeden Spreng, atau lebih banyak dikenal dengan nama cempedak. Uji toksisitas akut dan subakut dilakukan dengan hewan coba mencit (Mus musculus) sebanyak 20 ekor yang dibagi ke dalam 4 kelompok dimana masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor mencit. Kelompok kontrol diberikan CMC-Na 0,5%. Kelompok I, II, dan III merupakan kelompok uji yang masing-masing diberikan ekstrak etanol 80% kulit batang cempedak (Artocarpus champeden Spreng) yang diberikan dalam bentuk suspensi CMC-Na 0,5%. Dosis yang diberikan pada kelompok I merupakan dosis tertinggi (dosis LD50 yang relatif tidak berbahaya) yaitu 2,1 g ekstrak/Kg BB mencit. Kemudian pada kelompok II dan III, dosis diturunkan menjadi ½ dan ¼ dosis tertinggi. Pemberian sediaan dilakukan satu kali dengan cara per oral. Kemudian diamati jumlah hewan coba yang mati selama 24 jam setelah pemberian. Hasil uji toksisitas akut pada mencit menunjukkan bahwa pada dosis tersebut tidak menimbulkan kematian pada hewan coba sehingga dapat disimpulkan bahwa semua toksisitas akut yang berbahaya dapat disingkirkan dan LD50 tidak perlu ditentukan. Parameter yang digunakan pada uji toksisitas subakut adalah aktivitas enzim SGOT, SGPT dan gambaran histopatologi organ hati. Dipilihnya aktivitas enzim SGOT dan SGPT sebagai tolak ukur kemungkinan terjadinya kelainan hati oleh karena peningkatan aktivitas enzim-enzim tersebut merupakan indikator yang kuat dan peka terhadap adanya kelainan sel-sel hati. Parameter lain yang digunakan pada penelitian ini adalah melihat gambaran histopatologi organ hati, karena efek toksik terlihat dari adanya kelainan hati berupa deganerasi dan nekrosis. Pada uji toksisitas subakut dilakukan pemberian suspensi ekstrak etanol 80% kulit batang cempedak (Artocarpus champeden Spreng ) sehari sekali dengan rute per oral selama 30 hari. Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit jantan 40 ekor dibagi dalam 4 kelompok dimana masing-masing kelompok 10 ekor. Setiap kelompok diuji dengan dosis yang berbeda yaitu kelompok yang diuji dengan dosis lazim (KEL.I), 5x dosis lazim (KEL.II), dan 10x dosis lazim (KEL.III). Pada kelompok kontrol diberikan CMC-Na 0,5%. Dosis lazim yang digunakan adalah dosis lazim penggunaan pada manusia sehat yang dikonversikan pada hewan coba. Pada akhir masa uji dilakukan pembedahan dan diambil organ hati serta darahnya dari jantung (intra cardial). Kemudian diamati perubahan yang terjadi pada preparat histopatologi yaitu berupa degenerasi dan nekrosis. Perubahan diamati pada lima lapang pandang, diberi skor kemudian diolah datanya. Data dari enzim SGOT dan SGPT setelah didapat dianalisis menggunakan uji ANAVA pada tingkat kepercayaan 95%.Hasil yang didapat untuk SGPT setelah dianalisis didapatkan harga sig= 0,320. Sig tersebut lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna diantara kontrol dengan semua kelompok perlakuan . Sedangkan enzim SGOT setelah dianalisis didapatkan harga sig = 0,014. Sig tersebut lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan bermakna diantara kontrol dengan semua kelompok perlakuan. Selanjutnya dilakukan Uji HSD (honestly significant difference), dan didapatkan bahwa antara kontrol dengan kelompok dosis lazim tidak terdapat perbedaan efek signifikan, sedangkan pada kelompok kontrol dengan kelompok uji 5x dosis lazim dan 10x dosis lazin terdapat perbedaan yang signifikan. Rata – rata kadar enzim SGOT kelompok kontrol =167,8 U/L, kelompok 5x dosis lazim = 220,9 U/L, kelompok 10x dosis lazim = 228 U/L ; sedangkan harga normal enzim SGOT untuk mencit adalah 70 – 400 U/L ( Shayne, 1992). Jadi , perbedaan kadar enzim SGOT antara kelompok kontrol dengan kelompok 5x dosis lazim dan kelompok 10x dosis lazim juga masih dalam batas harga normal SGOT mencit. Sedangkan hasil analisis Histopatologi dengan menggunakan uji Kruskal Wallis untuk degenerasi pada perubahan degenerasi didapatkan harga Asymp.Sig = 0,000 . Harga sig tersebut lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan bermakna diantara semua kelompok uji. Selanjutnya dilanjutkan dengan uji statistik Mann-Whitney U antara kelompok kontrol dengan kelompok 1x dosis lazim ; kontrol dengan 5x dosis lazim ; kontrol dengan 10x dosis lazim, didapatkan hasil adanya perbedaan yang nyata antara kelompok kontrol dengan seluruh kelompok uji. Sedangkan hasil analisis Kruskal Wallis untuk histopatologi hati pada perubahan berupa nekrosis didapatkan harga Asymp.Sig = 0,000 Sig.tersebut lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan bermakna diantara semua kelompok uji. Kemudian dilanjutkan dengan uji statistik Mann-Whitney U antara kelompok kontrol dengan kelompok 1x dosis lazim ; kontrol dengan 5x dosis lazim ; kontrol dengan 10x dosis lazim, didapatkan hasil adanya perbedaan yang nyata antara kelompok kontrol dengan seluruh kelompok uji pada perubahan nekrosis, dengan kata lain ekstrak etanol 80% kulit batang cempedak (Atrocarpus champeden Spreng) dapat menyebabkan perubahan histopatologi hati berupa degenerasi dan nekrosis. Berdasarkan pada pengamatan kedua parameter tersebut yakni pengujian enzim SGOT, SGPT dan pengamatan histopatologi dari hati mencit dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 80% kulit batang cempedak (Atrocarpus champeden Spreng) tidak mempengaruhi terhadap peningkatan enzim SGOT dan SGPT mencit, sedangkan penggunaan ekstrak etanol 80% kulit batang cempedak (Atrocarpus champeden Spreng) selama 30 hari dapat menyebabakan degenerasi sel hati dan nekrosis ringan ( tahap piknosis ). Sehingga dapat dikatakan bahwa ekstrak etanol 80% kulit batang cempedak (Atrocarpus champeden Spreng) tidak menyebabkan hepatotoksik dan relatif aman digunakan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK_2 FF 40 /11 War u
Uncontrolled Keywords: cempedak (Artocarpus champeden Spreng), hepatotoxic effects, SGOT and SGPT, liver histopathology, acute and subacute toxicity
Subjects: Q Science > QD Chemistry > QD1-999 Chemistry
Q Science > QD Chemistry > QD415-436 Biochemistry
Q Science > QH Natural history > QH301 Biology
S Agriculture > SF Animal culture > SF405.5-407 Laboratory animals
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmakognosi Fitokimia
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Esti Eka Wardhani, 050513390UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorHerra Studiawan, Dra., MSUNSPECIFIED
ContributorArimbi, Dra., M.Kes., drhUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Duwi Prebriyuwati
Date Deposited: 22 Aug 2011 12:00
Last Modified: 04 Sep 2016 10:24
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/8035
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item