PENGARUH POLA ASUH TERHADAP KEMUNGKINAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN/HIPERAKTIVITAS PADA ANAK DI KOTA DAN DIDESA PENELITIAN PENDAHULUAN

Prima Ardiansah Surya, 011511133041 (2018) PENGARUH POLA ASUH TERHADAP KEMUNGKINAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN/HIPERAKTIVITAS PADA ANAK DI KOTA DAN DIDESA PENELITIAN PENDAHULUAN. Other thesis, Fakultas Kedokteran.

[img] Text (Fulltext)
KKA KK FK.PD.204 18 Sur p .pdf
Restricted to Registered users only until 2022.

Download (2MB) | Request a copy
[img] Text (Abstrak)
KKA KK FK.PD.204 18.pdf

Download (1MB)
Official URL: http://repository.unair.ac.id

Abstract

Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPPH) adalah gangguan pada anak yang ditandai dengan dengan perilaku yaitu hiperaktif, impulsif, dan kesukaran untuk memusatkan perhatian (Wiguna, 2010). Prevalensi GPPH diperkirakan sekitar 5% pada anak di Amerika dan ditemukan ada 6,1 juta anak berumur 2-17 tahun yang didagnosa GPPH(Center for Disease Control and Prevention, 2018). GPPH disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: genetik, struktur anatomi otak, neurokimia, dan psikososial sebagai factor yang berpengaruh. Penelitian ini fokus pada lingkungan psikososial. Psikososial (pola asuh, trauma masa kecil, dll.) bukan merupakan salah satu penyebab GPPH, namun psikososial mempengaruhi perjalanan penyakit dan penyembuhan GPPH. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil, profil pengasuh, jenis pola asuh, perbedaaan jenis pola asuh di desa dan di kota yang berkemungkinan memiliki GPPH, sekaligus mengetahui hubungan jenis pola asuh dengan kemungkinan GPPH. Penelitian diskriptif dan analitik yang dilaksanakan di Kelurahan Pacarkembang Surabaya, Desa Malasan dan Desa Panggungsari Trenggalek. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas 1 dan 2 SDN IV Pacarkembang, SDN 1 Malasan dan SDN Panggungsari pada bulan Juni-September 2018. Kemungkinan GPPH diidentifikasi dengan pengisian Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia(SPPAHI) oleh guru wali kelas dan dilanjutkan pengisian SPPAHI dan Kuisioner Pola Asuh Anak(KPAA) oleh orangtua atau pengasuh anak yang berkemungkinan memiliki GPPH oleh guru wali kelas. Siswa yang dinilai oleh guru sebanyak 97 di Surabaya dan 66 di Trenggalek. Selanjutnya setlah dilakukan seleksi anak yang berkemungkinan GPPH oleh guru, didapatkan 10 data SPPAHI dan KPAA di Surabaya dan 9 data SPPAHI dan KPAA di Trenggalek yang diisi orangtua atau pengasuh secara lengkap. Proporsi anak yang berkemungkinan GPPH secara keseluruhan dalam penelitian ini adalah 3,7% atau 6 dari 163 Subyek, di kota 4,1% atau 4 dari 97 Subyek dan di desa 3% atau 3 dari 66 Subyek. Pekerjaan orangtua/pengasuh terbanyak adalah Ibu Rumah Tangga dengan prosentase total 57,9% dari 19 Subyek, urutan kedua terbanyak di desa adalah petani dan wiraswasta yang masing-masing 22,2% dari 9 responden, dan di kota adalah wiraswasta sebanyak 20% dari 10 responden. Pendidikan terakhir orangtua/pengasuh secara umum lebih baik di desa daripada di kota. Status perkawinan terbanyak adalah kawin, semua orangtua di desa berstatus kawin, sedangkan di kota, urutan kedua terbanyak adalah bercerai dengan prosentase 30% dari 10 responden. Pola asuh yang paling banyak pada orangtua/pengasuh Subyek adalah pola asuh kebebasan penuh dengan prosentase 68,4%. Kedua menuntut dan dominan dengan prosentase 21,1%, dan ketiga penuh pertimbangan dengan prosentase10,6%. Terdapat perbedaan dominansi pola asuh antara kota dan desa. Di kota kebebasan penuh menjadi terbanyak dengan prosentase 90% diikuti menuntut dan dominan 10%. Sedangkan di desa prosentase kebebasan penuh 44,4%, kedua menuntut dan dominan 33,3%, dan terakhir penuh pertimbangan dengan prosentase 22,2%. Pola asuh pada anak yang berkemungkinan GPPH akumulasi menurut guru dan orangtua/pengasuh terbanyak adalah kebebasan penuh dengan prosentase 83,3% dan sisanya adalah menuntut dan dominan, dan semua jenis pola asuh tersebut adalah pola asuh yang tidak diharapkan. Klasifikasi pola asuh dengan pengelompokan pola asuh penuh pertimbangan menjadi pola asuh diharapkan, lalu pola asuh asuh menuntut dan dominan serta pola asuh kebebasan penuh menjadi pola asuh tidak diharapkan, menjadikannya terdapat 6(31,6%) Subyek berpola asuh tidak diharapkan berkemungkinan GPPH, 2(10,5%) Subyek berpola asuh diharapkan tidak berkemungkinan GPPH, dan sisanya 11(57,9%) Subyek berpola asuh tidak diharapkan berkemungkinan GPPH. Hasil uji menggunakan Fisher’s Exact Test bernilai p = 1 (p>0,05). Hal ini menunjukan tidak ada hubungan yang bermakna antara pola asuh dengan kemungkinan GPPH. Sebagian besar pola asuh orangtua/pengasuh pada subyek penelitian ini adalah pola asuh yang tidak diharapkan, utamanya pola asuh kebebasan penuh. Sebaiknya orangtua/pengasuh perlu diedukasi secara baik bagaimana cara mengasuh yang benar menurut hasil penelitian-penelitian yang sudah ada. Guru kelas sebaiknya juga dilatih mendeteksi GPPH, karena dari segi pekerjaan dan pengalaman, guru akan lebih mudah mendeteksi secara dini anak-anak yang berkemungkinan GPPH. Fokus studi adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh dengan kemungkinan GPPH. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Proporsi anak yang berkemungkinan GPPH secara keseluruhan dalam penelitian ini adalah 3,7% dari 163 Subyek, di Kota 4,1% dari 97 Subyek dan di Desa 3% dari 66 Subyek. Pekerjaan orangtua/pengasuh terbanyak adalah Ibu Rumah Tangga, urutan kedua terbanyak di desa adalah petani dan wiraswasta, dan urutan kedua terbanyak di kota adalah wiraswasta. Pendidikan terakhir orangtua/pengasuh secara umum lebih baik di desa daripada di kota. Status perkawinan terbanyak adalah kawin, semua orangtua di desa berstatus kawin, sedangkan di kota, urutan kedua terbanyak adalah bercerai. Pola asuh yang paling banyak pada orangtua/pengasuh Subyek adalah pola asuh kebebasan penuh. Kedua menuntut dan dominan, dan ketiga penuh pertimbangan.Terdapat perbedaan dominansi pola asuh antara kota dan desa. Di kota kebebasan penuh menjadi terbanyak lalu diikuti menuntut dan dominan. Sedangkan di desa, urutan dari yang terbanyak pertama adalah kebebasan penuh, kedua menuntut dan dominan, dan terakhir penuh pertimbangan. Pola asuh pada anak yang berkemungkinan GPPH yang diakumulasi menurut guru, dan orangtua atau pengasuh terbanyak adalah kebebasan penuh, sisanya adalah menuntut dan dominan. Klasifikasi pola asuh dengan pengelompokan pola asuh penuh pertimbangan menjadi pola asuh diharapkan, lalu pola asuh asuh menuntut dan dominan serta pola asuh kebebasan penuh menjadi pola asuh tidak diharapkan, menjadikannya terdapat 6(31,6%) Subyek berpola asuh tidak diharapkan yang berkemungkinan GPPH, 2(10,5%) Subyek berpola asuh diharapkan yang tidak berkemungkinan GPPH, dan sisanya 11(57,9%) Subyek berpola asuh tidak diharapkan yang tidak berkemungkinan GPPH. Hasil Fisher’s Exact Test menunjukan tidak ada hubungan yang bermakna antara pola asuh dengan kemungkinan GPPH. --------------------------------------------------------- Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) is the most psychiatric disorder in elementary school age children. This disorder has three main symptoms, namely inatention, hyperactivity, and impulsive in two different settings, for example at home and at school. Caring for the children with ADHD may causes stressors from caregivers, so caregivers tend to make a parenting practice that are disciplined, demanding, and tend to punish children to control their behavior. Method: This study used a cross sectional method. The subjects is 19 caregivers from 7-10 years old children with ADHD suspects according to the teacher. The study was conducted at SDN 4 Pacarkembang Surabaya, SDN 1 Malasan, and SDN Panggungsari Trenggalek. ADHD suspects was assessed using Indonesian ADHD Rating Scale (IARS), while caregiver parenting style was assessed using Child Parenting Questionnaire (CPQ). IARS and CPQ were filled by subjects and data were analyzed by Fisher Exact Test. Result: The proportion of parenting styles applied by the subject: permissive (13 of 19), authoritarian (4 of 19), authoritative (2 of 19). There are different dominant parenting style in urban and rural. After being classified as expected and unexpected parenting styles. There are 6 children with unexpected parenting styles that are not ADHD suspects, 2 children with expected parenting styles are ADHD suspects, and 11 children with expected parenting styles are not ADHD suspects. The Fisher Exact Test results is p = 1 (p> 0.05), which shows there is no significant relationship between parenting styles and ADHD suspects. Conclusion: There are different dominant parenting styles between urban and rural. In the urban environment, permissive being the most parenting styles, second are authoritarian. Whereas in the rural environment, in the highest to lowest order are: permissive, authoritarian, and authoritative.

Item Type: Thesis (Other)
Additional Information: KKA KK FK.PD.204 18 Sur p
Uncontrolled Keywords: ADHD, Parenting Style, Urban Parenting Style, Rural Parenting Style
Subjects: R Medicine
R Medicine > RJ Pediatrics > RJ101 Child Health. Child health services
Divisions: 01. Fakultas Kedokteran > Pendidikan Dokter
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Prima Ardiansah Surya, 011511133041UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorIrmawati, MiraUNSPECIFIED
ContributorSuryawan, AhmadUNSPECIFIED
Depositing User: Nurma Harumiaty
Date Deposited: 25 Jun 2019 07:37
Last Modified: 01 Jul 2019 03:30
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/83722
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item