PENGARUH PENAMBAHAN MINYAK ZAITUN TERHADAP DAYA PENETRASI β-ARBUTIN DARI BASIS GEL CARBOMER 940 (DITINJAU DARI HAMBATAN PADA AKTIVITAS ENZIM TIROSINASE)

Fahriyatul Wahyuni, 050513391 (2009) PENGARUH PENAMBAHAN MINYAK ZAITUN TERHADAP DAYA PENETRASI β-ARBUTIN DARI BASIS GEL CARBOMER 940 (DITINJAU DARI HAMBATAN PADA AKTIVITAS ENZIM TIROSINASE). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (Abstrak)
gdlhub-gdl-s1-2011-wahyunifah-14850-kkbkk-2-p.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Sekarang ini, banyak produk pencerah kulit yang beredar di pasaran dan sangat diminati oleh masyarakat, terutama kaum wanita. Salah satu contoh pencerah kulit adalah arbutin. Arbutin merupakan bahan yang sangat hidrofil sehingga penetrasinya sangat lambat, sedangkan arbutin menghambat aktivitas dari enzim tirosinase pads lapisan basal epidermis. Salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah obat agar dapat berpenetrasi ke dalam stratum korneum adalah dengan penambahan enhancer. Salah satu contoh enhancer adalah minyak zaitun dari golongan minyak tumbiihan. Sebagai enhancer minyak zaitun bekerja dengan membentuk area lipid barn pada stratum korneum sehingga akan menyebabkan perubahan permeabilitas pada lipid bilayer. Sediaan pencerah kulit dapat dibuat dalam berbagai bentuk sediaan semi solid, antara lain bentuk gel. Sediaan dalam bentuk gel sangat nyaman dipakai karena tidak lengket, lembut, elegan, tidak menimbulkan bekas di kulit, menyejukkan dan dapat digunakan untuk semua jenis kulit terutama yang berminyak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh penambahan minyak zaitun pads konsentrasi (3;5;7) % b/b terhadap daya penetrasi f3-arbutin 3% dari basis gel carbomer 940 ditinjau dari hambatan pada aktivitas enzim tirosinase. Pada penelitian ini dibuat sediaan gel pencerah kulit arbutin dalam basis carbomer 940 dengan penambahan minyak zaitun konsentrasi 3% (Formula 1), 5% (Formula 2) dan 7% (Formula 3). Evaluasi yang dilakukan pads sediaan meliputi karakteristik fisika kimia yaitu organoleptis (warm, bau dan tekstur), pH dan daya sebar serta uji efektivitas arbutin yang dilakukan secara in vitro dengan menentukan aktivitas hambatan enzim tirosinase yang berdasarkan absorban dopakrom pads panjang gelombang maksimum secara spektrofotometri. Berdasarkan hasil uji karakteristik fisika kimia sediaan, diketahui bahwa penambahan minyak zaitun mempengaruhi konsistensi, warna dan bau sediaan. Sediaan menjadi lebih kental dan berbau khas minyak zaitun. Pada pengukuran pH sediaan formula kontrol, formula 1, formula 2 dan formula 3 diperoleh basil bahwa pH semua sediaan masuk dalam rentang pH kulit yaitu 4,5 - 6,5. Dengan demikian diharapkan sediaan tidak mempengaruhi mantel asam kulit. Untuk pemeriksaan daya sebar, dilakukan meliputi kemampuan dan kapasitas penyebaran. Harga rerata kapasitas penyebaran ± SD formula kontrol sebesar 76,33 + 0,58 mm; formula 1 sebesar 66,00 f 0,00 mm; formula 2 sebesar 66,00 ± 1,00 mm dan formula 3 sebesar 65,67 ± 0,58 mm. Berdasarkan analisis data dengan metode Anova one way pada derajat kepercayaan 0,95 (a = 0,05), diperoleh harga F hitting sebesar (196,533) yang lebih besar dari harga F tabel (4,07), berarti terdapat perbedaan bermakna antar formula minimal satu pasang data. Sehingga dilanjutkan dengan uji HSD. Berdasarkan uji HSD diperoleh basil harga kapasitas penyebaran yang berbeda bermakna yaitu antara formula kontrol dengan formula 1, 2 dan 3. Sedangkan antar formula 1, 2 dan 3 tidak berbeda bermakna. Sedangkan untuk harga kemampuan penyebaran + SD pads tiap-tiap formula secara berturut-turut adalah sebagai berikut, untuk formula kontrol 0,3473 ± 0,02 mmlg; formula 1 sebesar 0,2965 ± 0,01 mm/g; formula 2 yaitu 0,2550 ± 0,01 mm/g; formula 3 sebesar 0,2497 ± 0,01 mmlg. Berdasarkan analisis data dengan metode Anova one way pada derajat kepercayaan 0,95 (a = 0,05), diperoleh harga F hitung sebesar (23,669) yang lebih besar dari harga F tabel (4,07), berarti terdapat perbedaan bermakna antar formula minimal satu pasang data. Sehingga dilanjutkan dengan uji HSD. Berdasarkan uji HSD diperoleh hasil harga kemampuan penyebaran yang berbeda bermakna yaitu antara formula kontrol dengan semua formula (1, 2 dan 3), formula 1 dengan formula 3. Sedangkan untuk formula 1 dengan formula 2 dan formula 2 dengan formula 3 tidak berbeda bermakna. Hal ini berarti penambahan minyak zaitun menurunkan kapasitas dan kemampuan penyebaran sediaan. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas pada sediaan. Berdasarkan hasil uji homogenitas dan reprodusibilitas yang dilakukan, diperoleh harga % KV yang kurang dari 6% sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan gel yang dibuat sudah homogen dan reprodusibel. Uji yang dilakukan selanjutnya adalah penentuan aktivitas tirosinase sediaan gel pencerah kulit secara in vitro. Parameter dari penentuan aktivitas tirosinase adalah nilai % inhibisi. Nilai % inhibisi ini didapatkan dari perhitungan perbandingan absorban reaksi enzimatik dengan inhibitor terhadap absorban reaksi enzimatik tanpa inhibitor pada panjang gelombang maksimum dopakrom dengan spektrofotometer setelah waktu inkubasi tertentu. Pada formula kontrol diperoleh % inhibisi rerata ± SD sebesar 21,79 ± 1,65; formula 1 menghasilkan % inhibisi rerata ± SD sebesar 24,24 f 2,57; formula 2 menghasilkan % inhibisi rerata ± SD sebesar 21,79 ± 1,65 dan untuk formula 3 menghasilkan % inhibisi rerata ± SD sebesar 35,60 ± 2,35. Berdasarkan analisis data dengan metode Anova one way, diperoleh harga F hitung sebesar (29,739) yang lebih besar dari harga F tabel (4,07), berarti terdapat perbedaan bermakna antar formula minimal satu pasang data. Sehingga dilanjutkan dengan uji HSD. Berdasarkan uji HSD diperoleh basil harga % inhibisi yang tidak berbeda bermakna yaitu antara formula kontrol dengan formula 1 dan formula 2. Sedangkan untuk formula kontrol dengan formula 3 berbeda bermakna. Hal ini berarti penambahan konsentrasi minyak zaitun 7% dalam formula menyebabkan peningkatan daya penetrasi arbutin sehingga terjadi peningkatan % inhibisi terhadap enzim tirosinase sediaan pencerah kulit arbutin. Sedangkan penambahan konsentrasi minyak zaitun 3 dan 5% dalam formula belum memberikan pengaruh terhadap daya penetrasi arbutin dan % inhibisi terhadap enzim tirosinase sediaan pencerah kulit arbutin. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan, bahwa minyak zaitun berpengaruh terhadap daya penetrasi arbutin 3% dari basis gel carbomer 940 ditinjau dari hambatan pada aktivitas enzim tirosinase.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 219-10 Wah p
Uncontrolled Keywords: MEDICINAL PLANTS; IRON-DEFICIENCY
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS1-441 Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
Fahriyatul Wahyuni, 050513391UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorWidji Soeratri, Prof Dr., DEA.UNSPECIFIED
ContributorNoorma Rosita, Dra., MSi, Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: Unnamed user with username agung
Date Deposited: 05 Apr 2011 12:00
Last Modified: 11 Jul 2016 06:11
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/8678
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item