PENGARUH KEELEKTRONEGATIFAN ATOM 0 DAN S DARI UREA DAN TIOUREA TERHADAP PERSENTASE HASIL REAKSINYA DENGAN BENZOIL KLORIDA

NUR AINI, 050112408 (2006) PENGARUH KEELEKTRONEGATIFAN ATOM 0 DAN S DARI UREA DAN TIOUREA TERHADAP PERSENTASE HASIL REAKSINYA DENGAN BENZOIL KLORIDA. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
gdlhub-gdl-s1-2006-aininur-1728-ff1080-k.pdf

Download (445kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2006-aininur-1728-ff108_06-min.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pengembangan obat penekan sistem saraf pusat terus menerus dilakukan dalam hal modifikasi struktur, metode sintesis serta uji aktifitasnya. Pertama kali obat ini dikembangkan oleh Reksohadiprojo dengan modifikasi salah satu obat penekan saraf pusat yaitu urea dengan mengasilasinya dengan isovaleril klorida pada salah satu gugus amino dari urea tersebut menjadi senyawa isovalerilurea yang memiliki struktur ureida asiklik yang mirip dengan bromisovalum. Setelah itu dilakukan pengembangan lebih lanjut oleh Siswandono dengan melakukan sintesis benzoilurea dari bahan awal urea yang diasilasi salah satu gugus aminonya menggunakan senyawa pengasilasi benzoil klorida, senyawa ini memiliki aktifitas juga sebagai penekan sistem saraf pusat karena kemiripan strukturnya dengan bromisovalum dan isovalerilurea. Dengan metode yang berbeda Suzana dick telah berhasil mensintesis dan uji aktifitas benzoiltiourea. Benzoiltiourea ini disintesis dari bahan awal tiourea dan benzoil klorida. Modifikasi struktur ini didasarkan pada pengganti atom 0 pada senyawa urea pada C2 dengan atom S menjadi senyawa tiourea. Dari penggantian ini diperkirakan tiourea memiliki aktivitas yang lebih tinggi dari urea karena senyawa ini memiliki lipofilisitas lebih tinggi dan lebih non polar sehingga obat lebih mudah dalam penembusan membran biologis terutama sawar darah otak, hal ini mengakibatkan jumlah obat yang berinteraksi dengan reseptor juga menjadi lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan sintesis antara benzoilurea dan benzoiltiourea menggunakan metode dan kondisi sintesis yang sama. Metode sintesis dilakukan dengan reaksi asilasi salah satu gugus amino urea dan tiourea dengan suatu asil halida yaitu benzoil klorida karena merupakan turunan asam karboksilat yang paling mudah bereaksi. Reaksi asilasi ini termasuk reaksi subtitusi nukleofilik pada gugus karbonil. Dasar dalam membandingkan kedua sintesis senyawa tersebut adalah adanya perbedaan atom terikat pada C yang mengikat gugus amino (-NH2) yaitu atom oksigen (0) pada urea dan atom sulfur (S) pada tiourea. Atom S memiliki keelektronegatifan lebih rendah dibandingkan dengan atom 0, hal ini mengakibatkan nukleofilisitas –NH2 pada tiourea meningkat sehingga reaksinya berjalan lebih cepat sehingga persentase hasil benzoiltiourea lebih besar dibandingkan dengan benzoilurea. Kedua sintesis ini dilakukan dengan metode yang sama yaitu dengan mencampur urea atau tiourea dengan pelarut yaitu toluena, kemudian diteteskan kedalamnya campuran benzoil klorida dalam toluena, setelah itu campuran yang dihasilkan direfluk pada suhu 80-85 °C selama 3 jam. Endapan yang dihasilkan dicuci dengan air dan etanol, ditambah dengan natrium bikarbonat jenuh sampai tidak terbentuk buih. Endapan yang telah disaring kemudian direkristalisasi dengan etanol 70 %. Untuk mengetahui kemurnian kedua senyawa hasil sintesis ini dilakukan uji kemurnian dengan cara penentuan titik lebur serta Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil KLT dari kedua senyawa tersebut pada berbagai fase gerak menunjukkan terdapat satu noda sehingga dapat dikatakan bahwa senyawa tersebut murni serta harga Rfnya identik dengan pembandingnya. Jarak lebur benzoilurea 212-214 °C, sedangkan benzoiltiourea 171-173 °C, jarak lebur keduanya sempit yaitu 2 °C yang menunjukkan senyawa ini murni. Jarak lebur kedua senyawa ini lebih tinggi dibandingkan jarak lebur masing-masing senyawa benzoilurea serta benzoiltiourea pembanding. Identifikasi struktur kedua senyawa hasil reaksi tersebut dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis, spektrofotometri Inframerah, spektrometri 'H-NMR serta Kromatografi Gas-Spektrometri massa (GC-MS). Pada senyawa basil reaksi urea dengan benzoil klorida, panjang gelombang maksimum dari spektrum UVVis adalah 235 nm yang merupakan serapan yang ditimbulkan oleh gugus benzoil dari benzoilurea. Dari spektra IR terdapat pita tajam pada daerah 3352 dan 3406 cm"' dari ikatan —NH2 (ulur), daerah 3223 cm'' dari ikatan —NH- ulur, pita tajam yang khas gugus karbonil amida (-C=O) pada daerah 1709 dan 1664 cm' serta pada daerah 1608 cm-' dari ikatan —C=C- aromatis (ulur). Dari spektra 'H-NMR menunjukkan adanya pergeseran kimia pada 10,46 ppm berasal dari 1 atom H dari —NH-, pergeseran kimia pada 7,43-7,99 ppm (multiplet) berasal dari 5 atom H dari cincin aromatik monosobstitusi. Dari kromatogram GC didapatkan puncak tertinggi pada waktu retensi 7,39 merit, untuk itu pada waktu retensi tersebut dilakukan identifikasi secara spektrometri massa, pada basil spektra massanya terlihat bahwa fragmen-fragmen yang terbentuk mengikuti pola fragmentasi yang khas. Dan analisa uji kemurnian serta identifikasi struktur tersebut dapat disimpulkan bahwa senyawa basil reaksi urea dengan benzoil klorida adalah benzoilurea. Pada senyawa basil reaksi tiourea dengan benzoil klorida, dari spektrum UV-Vis dapat dilihat ?b, = 235 dan 281 nm. Amax ini identik dengan X benzoiltiourea pembanding yaitu 240 dan 273 nm. Dan spektra IR terdapat pita tajam pada daerah daerah 3308 dan 3225 cm' dari —NH2 (ulur), daerah 3159 cm-' dari ikatan —NH ulur, pita tajam yang khas gugus karbonil amida (-C=O) pada daerah 1682 dan 1604 cm', daerah 1535 cm' menunjukkan ikatan —C=C-aromatis (ulur), pita tajam di daerah 1238 cm' dari ikatan —C=S yang merupakan pita khas dari senyawa ini yang tidak dimiliki oleh spektrum IR senyawa basil reaksi urea dengan benzoil klorida. Dari spektra 'H-NMR terlihat adanya pergeseran kimia pada 9,10 ppm (singlet) dari 1 atom H Ban NH2, pergeseran kimia pada 10,01 ppm (singlet) dari 1 atom H dari —NH-., 7,45-7,88 ppm (multiplet) dari 5 atom H dari cincin aromatik monosobstitusi. Dari kromatogram GC didapatkan puncak tertinggi pada waktu retensi 10,34 menit sehingga pada waktu retensi tersebut dilakukan identifikasi dengan spektrometri massa, dari basil spektra massa tersebut terlihat fragmen-fragmen mengikuti pola fragmentasi seperti pada senyawa basil reaksi urea dengan benzoil klorida, hal ini disebabIcan tidak stabilnya senyawa ini. Dan identifikasi struktur tersebut dapat disimpulkan bahwa senyawa basil reaksi tiourea dengan benzoil idorida adalah benzoiltiourea. Persentase basil dari kedua senyawa basil reaksi sebanyak tiga kali replikasi dianalisis secara statistika, dari analisa statistika ini dapat disimpulkan bahwa keelektronegatifan atom S pada tiourea yang lebih rendah clan atom 0 pada urea menyebabkan persentase hasil benzoiltiourea (37%) lebih besar dibandingkan dengan persentase basil benzoilurea (29%).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF.108/06 Ain p
Uncontrolled Keywords: ELECTRONE GATIVITY
Subjects: R Medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
NUR AINI, 050112408UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorTUTUK BUDIANTI, Dr. , M.SIUNSPECIFIED
ContributorHADI POERWONO, Drs. M.Sc., Ph.DUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 22 Aug 2006 12:00
Last Modified: 03 Jul 2017 20:13
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/8721
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item